Lagi, 6 Ton Ikan Mati di Danau Maninjau

10
Bangkai ikan bertebaran di tepian Danau Maninjau. Ikan itu mati mendadak secara massal beberapa waktu lalu. (IST)

Puluhan pembudidaya/petani ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, kembali merugi. Pasalnya, ikan air tawar jenis nila dan majalaya yang mereka budidayakan mati mendadak secara massal.

Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan daerah itu, jumlah ikan yang mati mencapai 6 ton. Kematian ikan ditemukan di Nagari Tanjungsani, Sungaibatang dan Kotomalintang, Kecamatan Tanjungraya.

”Di Nagari Tanjungsani kematian ikan terparah ada di Jorong Galapuang dan Mukojalan, sedang di Kotomalintang di Jorong Muko-muko. Beberapa titik kematian ikan juga ditemukan di Nagari Sungaibatang,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Edi Netrial, kemarin (16/4).

Dijelaskannya, hasil pendataan penyuluh di lapangan, ikan-ikan yang mati merupakan milik puluhan petani keramba dan rata-rata hampir siap panen. Kematian ikan terjadi satu pekan belakangan dan diawali cuaca ekstrem yang melanda kawasan danau. ”Kematian ikan terjadi akhir pekan lalu, sebelum lebaran. Ikan-ikan yang mati milik sekitar 35 pelaku usaha KJA,” tuturnya.

Seperti biasa imbuhnya, ikan-ikan itu mati lantaran terjadinya penurunan suhu air danau akibat umbalan atau upweling. Kondisi ini dipicu cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang yang membalikan massa air dari dasar ke atas dan membuat zat-zat atau racun-racun dari dasar naik kepermukaan.

Baca Juga:   Barlius: PPDB Juni 2022, Sistem Zonasi Dekatkan Siswa dengan Sekolah

Kesimpulan itu diperkuat dengan kondisi air danau berwarna hitam akibat amoniak muncul ke permukaan. Dengan kondisi itu, tambahnya, ikan di dalam keramba jaring apung mengalami pusing dan beberapa jam setelah itu mati.

Kematian ikan di Danau Maninjau ini merupakan keempat kalinya dengan total ikan mati sekitar 59 ton sejak Januari 2021 hingga kini. Sebelumnya, 15 ton ikan dilaporkan mati massal di Nagari Bayua dan Kotomalintang Januari dan Februari 2021 lalu.

Kemudian awal April, 5 ton ikan milik petani di Galapuang kembali mengalami hal serupa. Tiga pekan berselang, sejak 22-27 April sekitar 33 ton ikan juga mati massal. ”Kematian ikan itu hampir terjadi setiap tahun pada awal, pertengahan dan akhir tahun,” katanya.

Di lain sisi, kawasan Danau Maninjau kembali dicemari bangkai-bangkai ikan yang bertebaran dengan bau amis dan busuk pascakematian massal itu. Kendati begitu, bangkai tersebut akan mengurai dalam beberapa hari ke depan. (p)