Jual Beli Daging di Agam Diprediksi Tetap Ramai hingga H-1

Salah seorang pedagang daging di Blok IV Pasar Raya Padang sedang melayani pembeli, Kamis (23/4). (Randi - Padek)

Aktivitas jual beli daging jelang lebaran di pasar Tiku, Kabupaten Agam, diprediksi akan tetap ramai meski di tengah pandemi Covid-19. Para pedagang di pasar tersebut tetap dibolehkan berjualan sepanjang mentaati protokol pencegahan penularan wabah tersebut.

Sekretaris Camat Tanjungmutiara, Zulwardi menyebut, masyarakat Tiku memiliki kebiasaan mambantai ternak pada H-1 hari raya Idul Fitri. Dengan sedikit perbedaan, kegiatan itu juga akan digelar masyarakat sekitar tahun ini.

“Berbedanya terletak pada protokol pencegahan Covid-19. Dulunya tak ada batasan sekarang sangat banyak aturan. Namun begitu, masyarakat atau pedagang tetap dibolehkan mambantai dengan catatan harus mengikuti aturan dan prosedur protokol Covid-19,” kata Zulwardi, Senin (18/5).

Keputusan pembolehan itu jelasnya, berdasarkan hasil kesepakatan bersama pedagang dengan pengelola pasar, tokoh masyarakat dan pemerintah nagari serta pihak terkait. Para pedagang nantinya diharuskan pakai masker dan berjualan dengan memperhatikan jarak satu sama lain.

Tak hanya untuk pedagang, protokol kesehatan itu juga diberlakukan bagi masyarakat saat beraktivitas di pasar. Setidaknya nanti akan ada tim pemantau kegiatan jual beli di pasar tersebut.

“Semuanya yang penting mengutamakan physical distance. Aktivitas masyarakat di pasar saat itu terus dipantau. Mereka hanya untuk membeli daging dan tidak dianjurkan berlama-lama di pasar,” tegas Zulwardi.

Terpisah, Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Dinas Pertanian Agam, Iswan Hendri menyebut, membeli daging ke pasar bagi masyarakat sudah menjadi budaya yang tidak bisa ditinggalkan. Apalagi menjelang lebaran. Itu dinilai jadi salah satu alasan masyarakat tetap diberi ruang beraktivitas di pasar Tiku.

Meski demikian menurutnya, kondisi itu tidak akan memicu gejolak harga daging konsumsi nantinya. Jika pun mengalami kenaikan diprediksi tidak akan signifikan.

Akan ada nantinya pedagang dadakan. Sehingga katanya, di situlah pedagang mengambil keuntungan agak banyak. Meskipun naik, tapi tidak begitu tinggi dari harga normal di kisaran Rp 120 ribu hingga Rp 130 ribu per kilogram.

“Membeli daging ke pasar bagi masyarakat kita sudah menjadi budaya yang tidak bisa ditinggalkan. Apabila masyarakat tetap ramai untuk ke pasar, kami di lapangan untuk mengarahkan masyarakat agar memakai masker dan jaga jarak,” tukasnya. (p)