Indahnya Berbagi di Masjid Istighfar Kotomalintang

155
Masjid Istighfar Kotomalintang di Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatangkamang, Kabupaten Agam. (IST)

Tiang demi tiang 999 masjid yang dibangun Presiden Soeharto bersama Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) masih berdiri kokoh dari Sabang sampai Merauke. Selama kepemimpinan rezim Orde Baru, Sumbar kebagian jatah sebanyak 23 masjid tersebar di berbagai penjuru negeri.

Masjid Istighfar Kotomalintang di Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatangkamang salah satunya. Salah satu dinding masjid ini masih terukir prasasti bertanda tangan Soeharto. Sebagai ketua yayasan YAMP kala itu, pembangunan masjid berupa sumbangan ini diresmikan pada 12 Maret 1989.

Perjalanan untuk sampai ke masjid ini dapat ditempuh sekitar 15 menit dari pusat Kota Bukittinggi. Lokasi masjid berada tepat di pinggir jalan raya. Dari Pedesterian Jam Gadang, jika Anda ingin menuju objek wisata Taman Banto Royo yang sedang viral di Tilatangkamang itu, maka masjid ini bisa menjadi tempat persinggahan.

Masjid Istighfar bisa dijumpai sekitar pertengahan perjalanan antara Jam Gadang dan Banto Royo. Masjid ini sebagaimana 999 masjid lainnya di Indonesia, memiliki kemiripan desain arsitektur.

Bagian paling menonjol terlihat pada atap masjid terdiri tiga tingkat khas Demak. Bangunan persegi empat mengerucut ke atas dengan tiga tingkatan itu lalu dibubuhi kaligrafi bertuliskan lafaz Allah yang dibingkai persegi lima.

Pembina Organisasi Masjid Istighfar, Emirson ketika dijumpai Padang Ekspres usai Shalat Jumat (16/4) lalu, menceritakan awal mula kampung halamannya menerima bantuan masjid itu. Katanya, masjid kampung yang semula berdiri tidaklah sekokoh yang dirasakan kini.

Sekitar tahun 1960-an, di lokasi yang sama sudah ada masjid berpondasi semen dan bertiang kayu. Hanya bagian dasar bangunan masjid kala itu yang semi permanen. Dinding hingga ke atap bahkan masih berbahan kayu.

”Dulu, banyak warga di sini yang bekerja sebagai staf Presiden Soeharto. Melalui mereka dibuatlah proposal untuk membangun ulang masjid yang sudah ada,” terang Emirson.

”Sekitar tahun 1960-an sudah ada masjid di sini. Pondasi batu besar dengan dinding dan tiangnya kayu. Permintaan sejumlah tokoh masyarakat pun mendapat sambutan baik dari pemerintah. Pertengahan tahun 1988 masjid lama dirobohkan dan dibangun ulang,” tuturnya lagi.

Bahan bangunan masjid, besi dan betonnya didatangkan langsung oleh YAMP. Masyarakat tidak diperkenankan turun tangan sama sekali. Sekitar tidak lebih dari enam bulan pembangunan berlangsung. ”Masyarakat tidak berbuat banyak, hanya tinggal terima apa adanya. Setelah diserahterimakan, masyarakat kala itu langsung membentuk pengurusnya,” sambing Emirson.

Menurut informasi, total 23 masjid buatan Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) yang dibangun di Ranah Minang menghabiskan total anggaran Rp 4,5 miliar lebih. Besaran luas masjid-masjid itu pun bervariasi. Sebanyak 14 masjid dibangun dengan luas 15×15 meter, lalu 5 masjid dengan luas 17×17 meter, serta 4 masjid lainnya dibangun dengan luas 19×19 meter.

Baca Juga:  Ditanya Marah. Pengemis Wanita di Kota Padang Ini Eksploitasi Balita

”Masjid ini cukup besar dibanding masjid lainnya. Tapi, masih tak sebesar masjid yang di Gulai Bancah Bukittinggi. Setelah diresmikan, masyarakat pun mulai berkala menambah beberapa bangunan di sekeliling masjid. Sumbangan yayasan hanya ada masjid dan tempat berwuduk. Warga lalu membangunkan MDA, kantor, ruangan untuk marbot, serta gedung taman kanak-kanak,” ujar Emirson.

Sekretaris Masjid Istighfar, Agustiar menambahkan beberapa bagian masjid sudah mengalami renovasi, namun tidak meninggalkan ciri khas disain asalnya. Loteng yang dulunya bercat putih sudah diganti dengan kayu lumbersteering. Lantai dan dinding masjid juga sudah diganti dengan keramik.

Tidak hanya itu, lokasi tempat berwuduk juga sudah dipindahkan dari sisi kiri ke sisi kanan. Dalam perencanaan pembangunan jangka menengah, pengurus masjid juga berniat menambahkan teras berbentuk letter L di sekeliling masjid.

”Dengan luas masjid saat ini, jumlah jamaah tidak dapat lagi tertampung saat Shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Karena itu ditambahkan teras dengan tidak meninggalkan ciri khas bangunan,” katanya.

”Kami dalam tahap membangun kembali apa yang bisa dirubah. Kontruksinya tidak boleh ditukar. Bangunan utama harus tetap dilestarikan seperti ini. Maka cukup wajar jika disebut tertinggal dari masjid-masjid sekitaran,” imbuhnya.

Di tangan dingin para pengurus baru, sederet program keagamaan dan sosial mulai menggeliat di Masjid Istighfar. ”Kami mengaktifkan kembali remaja masjid. Dengan penuh semangat, generasi muda ini mengunjungi pemilik warung sekitaran Tilatangkamang.

Nama programnya, Sedekah Jumat Mari Berbagi. Remaja masjid mengetuk pintu kedermawanan para donatur, ada yang menyumbang nasi bungkus, gorengan dan sejenisnya. Setiap usai Shalat Jumat, jamaah bisa mengambilnya secara gratis,” jelas Agustiar.

Semangat membangun dan memakmurkan masjid yang bergelora ini sejatinya membutuhkan uluran tangan dermawan dan cendekiawan muslim. Dana sekitar Rp 50 juta lebih telah menjadi utang atas pembangunan tempat berwuduk yang kini lebih representatif.

”Kami membuat program untuk mencari 500 Pewakaf Berdonasi Rp 100 ribu. Semoga uangnya jadi lebih cepat terkumpul dan masjid tidak lagi meninggalkan utang,” ujar Bendahara Masjid Istighfar, Sri Wahyuni. (rifa yanas-Padang Ekspres)

Previous articleJozeph masih WNI, Peluang Tertangkap Besar
Next articleUMKM Sulit Ekspor Produk, Butuh Percaya Diri Bersaing di Pasar Global