Waspada, Buaya Muara Bertelur di Kebun Sawit Warga Tiku V Jorong

66
ilustrasi telur buaya. (net)

Warga Jorong Ujung Labuang Timur, Nagari Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara, Kabupaten Agam, dikejutkan dengan penemuan puluhan butir telur buaya muara. Sarang dan telur dari satwa bernama latin Crocodylus porosus itu ditemukan di kawasan kebun sawit milik warga sekitar.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Resor Agam, Ade Putra menyebut, kali pertama telur-telur itu ditemukan pemilik kebun bernama Dar, 51, Senin (25/1). Telur yang dijumpai katanya, berasal dari seekor indukan buaya muara. ”Informasi yang kami terima, buaya bertelur itu diketahui ketika pemilik kebun sedang menggarap lahannya untuk peremajaan kelapa sawit,” kata Ade, Selasa (26/1).

Hasil pantauan pihaknya lanjut Ade, didapati jumlah telur buaya sebanyak 53 butir, tetapi 7 di antaranya pecah dan rusak. Biasanya telur-telur itu akan menetas dalam kurun waktu 90 hingga 110 hari. Selama masa tersebut katanya, sang induk akan lebih waspada dan agresif terhadap keberadaan makhluk lain di sekitarnya termasuk manusia. Dan untuk lokasi temuan telur, induk buaya masih berada di sekitar sarangnya.

Baca Juga:   Barlius: PPDB Juni 2022, Sistem Zonasi Dekatkan Siswa dengan Sekolah

Guna menghindari konflik antara satwa yang dilindungi itu dengan manusia, BKSDA kata Ade, sudah memasang spanduk imbauan di lokasi. Warga diingatkan agar tidak mendekat ke lokasi tersebut selama telur belum menetas atau hingga 90 hari ke depan. ”Induk buaya yang sedang menunggui sarang telurnya, sangat agresif dan sensitif terhadap keberadaan mahkluk lain termasuk manusia,” tegasnya.

Menurutnya, periode Januari sampai Juli musim kawin dan bertelurnya buaya. Satwa yang aktif di malam hari ini cenderung ketika akan kawin dan bertelur mencari lokasi yang aman dari gangguan individu lainnya.

”Nah lokasi kebun sawit tersebut berkemungkinan dianggap aman dan nyaman, sehingga dijadikan sarang untuk bertelur. Dalam catatan kami, lokasi itu sudah keempat kalinya sejak 2018 dijadikan sarang bertelur,” bebernya.

Ditambahkannya, buaya merupakan jenis satwa yang dilindungi oleh peraturan perundangan di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (p)