Warga Garagahan Temukan Bunga Langka di Kebun

86
Bunga Bangkai ditemukan tumbuh di tanah kebun milik Yossy Ferawati, warga Jorong II, Nagari Garagahan. (IST)

Sebatang bunga yang teridentifikasi sebagai bunga bangkai ditemukan tumbuh mekar di kebun warga di Sungailandai, Dusun Simaruok, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubukbasung, Agam.

Dengan adanya informasi tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengingatkan tumbuhan bernama latin Amorphophallus Titanum itu agar jangan sampai dirusak lantaran dilindungi undang-undang.

Bunga langka itu tumbuh di tanah kebun milik Yossy Ferawati, warga Jorong II, Nagari Garagahan. Kondisinya saat ini sedang mekar dan telah mengeluarkan bau menyengat seperti bau bangkai. ”Adanya bunga itu tumbuh baru kami ketahui. Saat saya dan suami lagi membersihkan kebun, tiba-tiba mencium bau yang sangat menyengat seperti bau bangkai,” kata Yossy, Senin (26/10).

Semula akunya, dia mengira bau yang tercium berasal dari bangkai babi. Kebetulan di wilayah sekitar kebunnya itu sering dijadikan lokasi perburuan babi oleh masyarakat. Setelah dicari ke sumber baunya, ternyata ditemukan bunga langka itu tumbuh di sisi tebing di bawah pohon kayu, tempatnya tidak jauh dari pondok peristirahatannya. ”Diperkirakan tinggi bunga bangkai itu hampir mencapai 2 meter, dengan lebar lebih kurang 1 meter,” jelasnya.

Baca Juga:   Barlius: PPDB Juni 2022, Sistem Zonasi Dekatkan Siswa dengan Sekolah

Terpisah, Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra saat dikonfirmasi menyebutkan, tumbuhan yang dikenal dengan istilah Titan Arum, zaminkand, atau Corpse flower yang berada di kebun Yossy itu diperkirakan sudah berumur 2 tahun.

Bunga bangkai jelasnya, memiliki dua fase perkembangan. Pertama adalah fase vegetatif, di mana bunga masih hanya berupa tangkai, daun, dan batang. Sedangkan fase kedua, sudah menunjukkan bunganya, disebut dengan fase generatif.

”Jika dilihat dari bentuknya sekarang, tanaman ini berada di fase generatif, karena bunganya sudah mekar sempurna. Masa mekar bunga ini hanya selama 7-10 hari, setelah itu bunga ini akan menjadi layu,” ujarnya.

Di Indonesia lanjutnya, tumbuhan tersebut dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Setiap orang dalam UU ini diatur tidak boleh mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. ”Sanksi terhadap perbuatan tersebut adalah pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah,” tuturnya. (p)