Lagi Bawa Motor, Buaya Muara Serang Pengendara di Tanjungmutiara!

15
Ilustrasi.(IST)

Warga Nagari Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara, Kabupaten Agam, kembali diserang satwa liar jenis buaya muara. Kali ini, satwa reptil bernama latin Crododylus porosus itu menyerang seorang wanita paruh baya hingga menyebabkan korban menderita luka robek cukup serius.

Korban diketahui bernama Wati, 50, warga Padangcabai, Nagari Tiku V Jorong. Ia mendapat serangan buaya muara saat di perjalanan bersama suaminya dari rumah menuju Pasar Muaroputuih, Selasa (26/7) malam.

“Kejadiannya sekitar pukul 20.00. Saat itu, korban bersama suaminya Das, 54, tengah berboncengan mengendarai sepeda motor dan tiba-tiba diserang,” kata Sekretaris Nagari Tiku V Jorong, Anaswar, kemarin (27/7).

Ia menambahkan, buaya tersebut berhasil menyambar kaki korban yang tengah berada di atas motor. Akibatnya, korban mengalami luka robek cukup serius pada bagian kaki dan langsung dilarikan oleh suaminya ke Puskesmas Muaroputuih.

“Saat ini korban telah dibawa pulang oleh pihak keluarga pasca mendapat pertolongan tim medis di Puskesmas. Konflik ini pun telah kami laporkan ke pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar resort Maninjau untuk ditindaklanjuti,” terangnya.

Di sepanjang jalan dari Padangcabai menuju Muaroputuih imbuhnya, memang banyak terdapat habitat buaya berupa rawa dan sungai. Bahkan tak jarang satwa reptil itu terlihat tengah berjemur oleh warga setempat.

Terpisah, Kepala Resor KSDA Maninjau Ade Putra mengaku telah menerima laporan konflik manusia dengan satwa buaya muara di Kenagarian Tiku V Jorong tersebut. Pihaknya telah meneruskan informasi itu ke Tim Wildlife Resque Unit (WRU) BKSDA Sumbar perihal penanganannya.

Diketahui, kejadian kali ini menambah daftar panjang peristiwa serangan buaya terhadap manusia di Agam, khususnya di Nagari Tiku V Jorong. Kejadian serupa juga pernah dialami Sifa, bocah 12 tahun asal Jorong Labuhan akhir Maret 2022 lalu.

Baca Juga:  Genjot Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok

Sama dengan Wati, Sifa juga diserang satwa dilindungi itu saat berada di atas motor berboncengan dengan kakaknya sepulang sekolah. Kaki bocah malang ini disambar buaya muara berukuran sekitar 3 meter saat melintas di jembatan Anak Aie Baru.

Akibat sambaran itu, korban mengalami luka serius di bagian kakinya setelah terkena gigitan buaya. Beruntung gigitan buaya terlepas hingga tidak menyeret korban ke pergulatan maut dengan satwa tersebut.

Pihak BKSDA, pemerintah kecamatan, nagari dan warga saat itu telah duduk bersama mengkaji beberapa alternatif pencegahan agar konflik serupa tak terus berulang dan memakan korban lagi. Solusi yang mengapung yakni dengan membuat penangkaran buaya.

“Pihak BKSDA, menawarkan untuk membuat penangkaran buaya dan langsung diamini oleh pihak kecamatan, nagari bersama warga. Proses penangkaran sendiri masih dalam kajian berikut lokasinya,” kata Kasi Pemerintahan Kecamatan Tanjungmutiara, Weri Ikhwan kala itu, Kamis (31/3) lalu.

Setidaknya kata dia, ada tiga lokasi penangkaran yang direncanakan. Pertama di lokasi serangan di jembatan Anak Aia Baru, lalu Muara Labuhan, kemudian rawa seluas sekitar dua hektar yang berada di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) sebuah perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah itu.

“Lokasi penangkaran yang bagus itu, yakni rawa dalam HGU perusahaan ini. Sekarang kami sedang mencoba berkomunikasi dengan pihak perusahaan untuk upaya ini dan semoga ada titik temu sesuai harapan kita bersama dalam mengatasi konflik ini,” sebut Weri. (ptr)