Lagi, 10 Ton Ikan Mati Mendadak

20
ilustrasi KJA di Danau Maninjau. (net)

Para pembudidaya ikan air tawar yang memanfaatkan Keramba Jaring Apung (KJA) di kawasan Danau Maninjau, Kabupaten Agam, kembali mengalami nasib pilu. Ikan-ikan nila dan majalaya yang mereka budidayakan mati mendadak secara massal.

Berdasarkan catatan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan daerah itu, diketahui jumlah ikan yang mati hampir mencapai 10 ton. Kematian ikan ditemukan di Nagari Sungaibatang dan Tanjungsani, Kecamatan Tanjungraya.

“Di nagari Tanjungsani, kematian ikan paling banyak ditemukan di Jorong Galapuang, sedang di Sungaibatang terbanyak ditemukan di wilayah Jorong Tanjungsani,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Edi Netrial, Kamis (29/4).

Dijelaskan, hasil pendataan penyuluh perikanan di lapangan, ikan-ikan yang mati massal milik puluhan pembudidaya keramba. Ikan yang mati umumnya ikan yang siap panen jenis nila dan majalaya.

Kematian ikan sendiri bebernya, kali pertama diketahui pada Jumat (23/4) dan berlangsung hingga Minggu (25/4) lalu. Fenomena itu menurutnya, dipicu dampak cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai badai yang melanda wilayah sekitar sepekan terakhir.

Anomali cuaca ekstrem ini membuat penurunan suhu air danau akibat umbalan atau upwelling. Kondisi itu menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan dan mencelakai ikan sehingga mati mendadak.

“Karena upwelling atau pembalikan massa air dari dasar ke atas membuat zat-zat atau racun-racun dari dasar naik kepermukaan. Sehingga ikan tidak dapat bertahan dengan kondisi demikian, lalu mati,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya kematian ikan tersebut juga dipengaruhi isi keramba yang over kapasitas. Kepadatan keramba ini membuat ikan sulit bergerak, stres dan mudah mati. Idealnya kata Edi, satu petak keramba itu dianjurkan cukup diisi ikan sebanyak 2.500-3.000 ekor, namun rata-rata pembudidaya mengisi sebanyak 5.000-7.500 ekor.

“Apalagi kondisi air danau sudah lama mengalami pencemaran dan membuat kadar air menurun. Ini juga salah satu yang mempengaruhi ikan-ikan itu mati,” tuturnya

Hingga kini imbuh Edi lagi, cuaca di wilayah Salingka Danau Maninjau masih belum stabil. Berdasarkan perkiraan penyuluh di lapangan katanya, jumlah ikan yang mati berkemungkinan terus bertambah.

“Informasi tadi dari kawan-kawan penyuluh di lapangan begitu. Tidak bisa dipastikan kematian ikan tidak bertambah karena cuaca masih belum menentu, jadi kemungkinan akan bertambah,” akunya.

Kematian ikan itu merupakan yang ketiga kalinya dengan jumlah 30 ton selama Januari lalu hingga kini. Sebelumnya, awal April juga dilaporkan sebanyak lima ton ikan milik pembudidaya di Galapuang mati secara mendadak.

Pada Januari dan Februari 2021 sebanyak 15 ton ikan mati di Bayua dan Koto Malintang. “Kematian ikan itu hampir terjadi setiap tahun pada awal, pertengahan dan akhir tahun,” katanya. (p)

Previous articleLangkah Bangkitkan Belanja Masyarakat, Usulkan Diskon PPN Ritel
Next articlePemko Pariaman Dorong Peningkatan Kepesertaan JKN-KIS