Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.
“Di tengah hujan deras, sebuah kereta penumpang melaju dari arah Padang menuju Padangpanjang. Hari itu, Selasa, 5 Januari 1904. Setelah melewati stasiun Kampung-Tengah, laju kereta terhenti karena rel tertutup longsor. Beberapa staf kereta turun dan membersihkan lintasan yang tertimbun oleh material longsor itu. Perjalanan dilanjutkan kembali. Tak lama kemudian, laju kereta kembali terhenti oleh longsoran tanah dan batu. Dalam keadaan demikian, yang bisa dilakukan adalah kereta harus memutar balik arah ke stasiun sebelumnya. Tetapi, di tengah perjalanan, tanah longsor rupanya telah memutus jalur dan penumpang pun terjebak.
Karena hari mulai gelap dan bermalam di jalur itu cukup berbahaya, para penumpang menginap di rumah penduduk sekitar. Mereka waspada dan menyiapkan diri sebaik mungkin. Pada saat yang sama, penduduk setempat yang rumahnya rusak berat tertimpa longsor, juga ikut bergabung dengan rombongan. Saat pagi tiba, mereka melanjutkan perjalanannya ke Padangpanjang dengan berjalan kaki. Mereka akhirnya selamat.”
Inilah sekelumit kisah di sekitar peristiwa bencana alam di Lembah Anai pada awal abad lalu–sebagaimana diwartakan oleh surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden (25/1/1904).
Kawasan Lembah Anai
Lembah Anai merujuk pada sebuah kawasan yang membentang di antara Kayu Tanam dan Padangpanjang. Memiliki panjang 6 km dan dikelilingi oleh tebing-tebing curam, lembah ini dialiri oleh sungai (Batang) Anai yang berhulu di Gunung Singgalang.
Lembah ini dilalui oleh dua jalur yang menghubungkan daerah pantai/pesisir dan pedalaman.
Kedua jalur itu adalah jalan pengangkutan (jalan pos) dan jalur kereta api. Meski sama-sama ditujukan untuk kepentingan pemerintah kolonial, kedua jalur ini dibangun dalam masa yang berbeda, serta untuk tujuan yang berbeda pula.
Jalur pertama, disebut jalan pengangkutan, mulai dibangun pada 1833 atas perintah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch.
Jalan pengangkutan dibangun di sepanjang sisi kanan aliran sungai dan terus diperbaiki/dipelihara dari waktu ke waktu.
Sesuai namanya, jalan ini digunakan untuk lintasan angkutan kendaraan pedati. Pemeliharaan jalan ini cukup sulit dan butuh biaya besar, sebab banjir dan tanah longsor sering terjadi di Lembah Anai (Het Vaderland, 8/2/1904).
Para pekerja dan biaya pemeliharaan jalan diperoleh dari penduduk afdeeling Batipuh X Koto, Agam, Tanahdatar, dan Limapuluh Kota.
Terkhusus untuk penduduk dari tiga wilayah yang disebut terakhir, hal ini sangat menyulitkan karena perjalanan dari kampung mereka menuju lokasi perbaikan jalan menghabiskan waktu beberapa hari.
Karena itu, pemerintah kolonial memutuskan pekerjaan mereka dapat diganti dengan membayar uang sebesar 6 gulden per orang pertahun, yang kemudian disebut “Kloofgelden” atau “Singgalangfonds” (Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie (ENI), 1917) .
Jalur kedua adalah jalur kereta api. Jalur ini awalnya dibangun sebagai lintasan kereta pengangkut batu bara. Setelah batu bara Ombilin ditemukan pada 1867, pemerintah memutuskan untuk mengeksploitasinya.
Pada saat itu, pemerintah dihadapkan pada persoalan bagaimana cara terbaik mengangkut batu bara ke Padang.
Ketika pilihan dijatuhkan pada penggunaan transportasi kereta api, muncul perdebatan panjang (±25 tahun) mengenai arah terbaik untuk jalur yang akan dibangun. Setelah melalui penelitian, pemerintah akhirnya membangun jalur kereta api dengan mengikuti jalan pengangkutan dari Padang ke Padangpanjang yang melewati Lembah Anai. Pada Juli 1891, jalur kereta api di kawasan ini dibuka untuk umum (ENI, 1917).
Lembah Anai sejatinya adalah kawasan rawan bencana. Tempo dulu, tercatat setidaknya ada dua kali banjir besar dan tanah longsor yang terjadi, yaitu pada 1892 dan 1904.
Selain itu, dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, disebutkan bahwa banjir juga terjadi pada 1914. Namun, skala dan kerugian yang ditimbulkan tidak separah dua kali banjir sebelumnya.
Pada 1892 dan 1904, banjir mengakibatkan terputusnya jalur kereta api dan rusaknya sebagian besar jalan pengangkutan.
Pada 1914, hanya sebagian jalan pengangkutan yang amblas dan lalu lintas kereta api juga tidak terganggu.
Bencana pertama terjadi pada akhir 1892. Tepatnya pada 23-24 Desember, hujan lebat turun selama 8 jam di ujung atas lembah di Padangpanjang.
Tingkat curah hujan yang tinggi (225 mm) menyebabkan banjir besar hingga ke Lembah Anai. Dalam kaitannya dengan jalur kereta api, surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad (8/1/1904) menyebut kerusakan parah terjadi pada sebagian besar lintasan rel, jembatan kereta, kepala jembatan (abutment), dan dinding penyangga.
Rumah-rumah dan jalan pengangkutan juga ikut terdampak. Kerusakan itu berdampak pada terputusnya lalu lintas selama berbulan-bulan.
Dari sisi anggaran, biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan mencapai 600.000 gulden (ENI, 1917).
Bencana Lembah Anai (1904)
Permulaan Januari 1904, Lembah Anai kembali dilanda bencana. Hujan lebat yang mengguyur kawasan itu sejak malam tanggal 5 dan 6 Januari menyebabkan banjir besar dan tanah longsor.
Kepala Insinyur Kereta Api Negara Sumatra dan Tambang Ombilin, W. de Jongh, mengirim telegram kepada pemerintah. Ia melaporkan situasi bencana yang disebabkan oleh luapan sungai Anai.
Jalur kereta api di dua tempat mengalami kerusakan. Jembatan lengkung sepanjang 50 meter dengan kepala jembatannya, di dekat stasiun Kandang Ampat, hancur total. Karena itu, lalu lintas kereta api, termasuk untuk pengangkutan batu bara, terganggu setidaknya selama dua bulan.
“Pengiriman batu bara untuk Departemen Pekerjaan Umum dan Angkatan Laut harus terhenti hingga pemberitahuan lebih lanjut. Namun, saya akan terus berusaha memasok batu bara untuk kapal-kapal yang berlabuh di Emmahaven,” lapor de Jongh, dikutip oleh Bataviaasch Nieuwsblad (8/1/1904).
Situasi serupa disampaikan oleh Asisten-Residen Padangpanjang yang meninjau lokasi bencana pada 6 Januari. Dalam laporannya kepada Gubernur Sumatra’s Westkust E.A.T. Weber, sebagaimana diwartakan oleh Deli Courant (1/2/1904), disebutkan bahwa terjadi dua belas kali longsor besar dan lebih banyak lagi longsor kecil.
Tanah longsor menyebabkan tertimbunnya jalan pengangkutan antara Kandang Ampat dan Kampung-Tengah.
Selain itu, jalur kereta api rusak berat, jembatan kereta api di sekitar air terjun hanyut terbawa arus, dan perkabaran ke Padang melalui telegraf terputus. Hal ini mengakibatkan kedua jalur utama (jalur kereta api dan jalan pengangkutan) ditutup selama berbulan-bulan.
Di samping itu, bencana alam di Lembah Anai juga berdampak pada bidang perdagangan. Harga sejumlah komoditi yang dibawa dari Padang ke daerah pedalaman melonjak tajam.
Harian De Sumatra Post (30/1/1904) mewartakan harga garam dapur sudah menyentuh angka 7 gulden per bungkus. Harga minyak tanah naik menjadi 6,5-7,5 gulden per kotak.
Padahal–sebagai perbandingan–harga minyak tanah berada di kisaran 4,9 gulden per kotak sebelum terjadi bencana (Sumatra Bode, 2/9/1903).
Pada 7 Januari, atau sehari pascabencana, pekerjaan perbaikan dimulai (ENI, 1917).
Pemerintah menutup jalur di Lembah Anai agar pekerjaan tidak terganggu. Selama penutupan jalan, pengangkutan orang dan barang tujuan Padang atau sebaliknya dialihkan ke Solok melalui Soebang-pas sejauh 40 pal (1 pal: 1,5 km).
Pekerjaan perbaikan dilakukan pada jalur kereta api dan jalan pengangkutan. Pekerja paksa dan kuli kontrak didatangkan dari Sawahlunto untuk membersihkan dan memperbaiki jalur kereta api.
Sementara itu, untuk perbaikan jalan pengangkutan, dikerahkan penduduk dari Agam, Padangpanjang, Fort van der Capellen, dan Payakumbuh.
Upaya perbaikan tidak menemui kendala berarti. Pada 4 Februari, misalnya, jalan pengangkutan melalui Lembah Anai telah dibuka kembali untuk angkutan pedati.
Tak lama berselang, pada 13 Februari, kereta pertama dari Padang menuju Padangpanjang juga sudah kembali beroperasi (ENI, 1917).(*)
Editor : Heri Sugiarto