Namun, di balik kemeriahan tersebut terselip pandangan tidak prihatin yang terlihat di ruang publik pada kondisi pemulihan pascabencana.
Perayaan ini memicu perdebatan hangat mengenai batas antara ekspresi kegembiraan dan sensitivitas kemanusiaan di media sosial.
Diketahui, Sumatera Barat (Sumbar) bersama Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) masih berada dalam fase pemulihan pascabencana hebat.
Meskipun Pemerintah Provinsi Sumbar dan Polresta Padang telah mengeluarkan imbauan tegas untuk meniadakan pesta kembang api dan petasan, realitas di lapangan menunjukkan perbedaan yang kontras dengan seruan tersebut.
Riuh kembang api yang terekam dalam unggahan media sosial, seperti akun @pdg24jam, segera menuai reaksi tajam dari warganet.
Banyak yang menilai selebrasi tersebut mencerminkan rasa empati terhadap para penyintas bencana yang saat ini masih berjuang di tenda pengungsian atau tengah meratapi kehilangan materi dan kerabat.
“Bikin malu. Rasa empati benar-benar tidak ada,” tulis salah satu warganet mengekspresikan kekecewaannya.
Komentar serupa membanjiri jagat maya, menyoroti fakta bahwa beberapa wilayah di Sumatera Barat, seperti Kabupaten Agam dan Solok, bahkan masih terendam banjir tepat saat malam pergantian tahun.
Menanggapi kejadian ini, Tokoh Pariwisata Sumbar, M. Zuhrizul memberikan pandangan yang lebih berimbang namun tetap kritis.
Secara pribadi, ia mengaku kurang berempati terhadap pesta kembang api di saat masyarakat sedang dalam masa pemulihan. “Saya kurang empati,” tulisnya saat dihubungi, Kamis (1/1).
Namun, ia juga membedah sisi lain dari koin realitas sosial ini. “Kita harus memahami bahwa kesulitan ekonomi juga merupakan bagian dari bencana. Jika perputaran uang melalui pariwisata terhenti, masyarakat akan semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pasokan barang di pasar tidak bergerak,” jelas Zuhrizul.
Ia menambahkan bahwa karakter masyarakat Minangkabau memiliki resiliensi yang unik. Budaya gotong royong yang tinggi serta keinginan untuk segera bangkit dan tidak berlarut dalam kesedihan menjadi motor penggerak pemulihan yang lebih cepat.
“Solidaritas ini terbukti dengan langkah Gubernur Sumbar yang tetap mengirimkan bantuan rendang ke Aceh dan Sumut sebagai simbol kebangkitan bersama,” katanya.
Sebagai Ketua Indonesia Adventure Travel and Trade Association (IATTA) Sumbar, Zuhrizul berharap peristiwa ini menjadi momentum bagi transformasi pariwisata ke depan.
“Jika ada bencana di Bekasi, tidak mungkin wisata Bandung ditutup, meskipun keduanya bagian dari Jawa Barat,” analogi Zuhrizul.
Visi masa depan yang diusungnya adalah pembangunan pariwisata berbasis Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan ketahanan pangan.
“Di mana para pelaku wisata wajib tersertifikasi dalam bidang K3 dan rescue, serta menjalankan konservasi alam secara berkelanjutan,” katanya.
Bagi sebagian warga, letusan kembang api di Taplau mungkin dianggap sebagai simbol kebangkitan dan optimisme untuk meninggalkan masa kelam.
“Bagi sebagian lainnya tetap menjadi pengingat bahwa jalan menuju pemulihan sejati masih membutuhkan kedalaman rasa empati,” tutupnya. (*)
Editor : Adetio Purtama