Cegah Penularan Covid-19, Pisahkan Sampah Medis dan Non Medis

Ilustrasi sampel pasien positif Covid-19. (foto: IST)

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bukittinggi mengimbau kepada pihak rumah sakit, Puskesmas, rumah bersalin, bidan praktek, apotik dan toko obat untuk tidak mencampur adukan antara sampah medis dan non medis. Imbauan itu, sebagai salah satu cara untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Covid-19 atau korona di Kota Bukittinggi.

“Apalagi, salah satu rumah sakit di Bukittinggi menjadi salah satu rumah sakit rujukan Pasien Covid-19, tentu sangat membutuhkan pemisahan sampah medis dan non medis tersebut. Antara sampah Medis dan Non Medis dalam pengelolaannya juga berbeda serta dikelola oleh petugas khusus. Kita dari DLH Kota Bukittinggi juga telah menyiapkan petugas yang akan mengelola sampah medis tersebut,” ujar Dedi Syafrizal, Sekretaris DLH Kota Bukittinggi.

Jika sampah medis dan non medis itu tidak dipisahkan sebutnya, dikhawatirkan akan dapat menimbulkan risiko kepada pertugas kebersihan dan pemulung terkait dengan penularan Covid-19. “Gubernur Sumatera Barat juga telah meneruskan Surat Edaran menteri KLHK Nomor: 2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/2020 dan Surat Gubernur Sumatera Barat Nomor: 369/377/BPBD-2020, perihal Pengelolaan Limbah B3 Infeksius dari Penanganan Covid-19 Kepada Wali Kota dan Bupati se-Sumatera Barat,” jelasnya.

Di mana, dalam pelaksanaanya, karantina Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Covid-19 positif ringan tak akan terhindari dan akan menghasilkan limbah dan sampah. Limbah dapat berupa masker bekas, pakaian pelindung, sarung tangan ataupun APD lainnya serta sisa obat-obatan, botol obat dan peralatan medis sisa pemakaian yang tidak digunakan lagi.

“Artinya, berdasarkan Surat Edaran Menteri KLHK dan Gubernur Sumatera Barat itu, limbah yang berasal dari penangan OPD dan Covid-19 termasuk limbah B3 Infeksius yang harus dikelola secara khusus sesuai ketentuan teknis yang ditetapkan,” ujar Dedi Syafrizal.

Untuk itu, guna mencegah dampak negatif yang ditimbulkan, maka dalam pengelolaan karantina perlu memperhatikan dan mempersiapkan berbagai hal. Seperti, perlunya menunjuk petugas khusus yang bertanggungjawab dan memahami perlakuan yang harus dilaksanakan dalam pengelolaan limbah yang berasal dari ODP maupun positif ringan Covid-19.

Kemudian, menyiapkan sarana dan prasarana penyimpanan sementara limbah Infeksius yang dihasilkan berupa tempat sampah khusus, Drop Box Khusus, ruang atau tempat penyimpanan sementara. Serta menjalin kerja sama pengangkutan dengan Instansi Lingkungan Hidup setempat atau Satgas yang ditugaskan.

“Limbah itu selanjutnya pemusnahannya pada fasilitas incenerator atau sejenisnya dengan suhu pembakaran minimal 800 derjat celcius,” jelas Dedi Syafrizal.

Mengingat banyaknya Kabupaten/kota di Sumbar yang tidak memiliki fasilitas incenerator limbah B3 Medis yang memungkinkan untuk memusnahkan limbah infeksius penanganan Covid-19, maka Pemprov Sumbar melalui DLH Sumbar menginisiasi kerja sama dengan PT. Semen Padang yang secara teknis mampu memusnahkan limbah infeksius Covid-19.

“Untuk itulah, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi mengimbau kepada seluruh rumah sakit, Puskesmas, rumah bersalin, bidan praktek, apotek dan Toko Obat serta sampah rumah tangga Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19 untuk dapat memisahkan sampah medis dan non medis. Selanjutnya, memberitahu DLH dan petugas khusus kita akan menjemputnya, untuk diantarkan ke PT. Semen Padang untuk dimusnahkan setiap hari Selasa dan Jumat,” imbaunya. (stg)