66 Narapidana LP Diasimilasi

Para narapidana LP Kelas IIA Bukittinggi yang mendapatkan asimilasi dari Kemenkum HAM. (IST)

Setidaknya 66 narapidana Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Bukittinggi mendapatkan asimilasi, dirumahkan akibat dampak Covid-19. Sebanyak 65 orang di antaranya dipulangkan pada Rabu (1/4), seorang lagi pada Kamis (2/4) kemarin. Asimilasi tersebut menindaklajuti Keputusan Menteri (Kepmen) Hukum dan HAM Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020, pengeluaran narapidana dan anak melalui asimilasi yang harus dilakukan dengan berbagai ketentuan.

Kepala LP Kelas IIA Bukittinggi, Marten mengatakan, asimilasi ini bagi warga binaan, untuk dirumahkan sebagai dampak dari Covid-19. Bukan berarti mereka bebas, namun tetap dipantau pihak kejaksaan negeri Bukittinggi, Balai pemasyarakatan, kepolisian dan LP sendiri.

Marten menjelaskan, selama mendapatkan asimilasi itu, warga binaan tidak boleh bekerja apalagi keluar dari kota tempat tinggal karena sudah ada perjanjian. Jika warga binaan itu melanggar perjanjian maka warga binaan itu akan di masukan kembali ke Lapas.
“Adapun kriteria asimilasi dampak Covid-19 tersebut meliputi warga binaan yang berkelakuan baik, bukan narapidana kasus korupsi, narapidana kasus narkoba di atas 5 tahun, bukan terpidana teroris yang sudah menjalani setengah masa tahanan dan bukan terpidana kasus kejahatan trans internasional,” jelasnya

Asimilasi ini sebutnya, merupakan pencegahan Covid-19. “Kita juga masih melakukan pemeriksaan berkas napi lainnya. Tidak tertutup kemungkinan masih ada lagi yang akan di asimilasi sesuai ketentuan yang ada. Jumlah Napi di Lapas sebelumnya berjumlah 672 orang, setelah dipulangkan 66 orang, tinggal sisa 606 orang,” katanya.

Pihaknya akan melakukan pengecekan berkas kembali, jika ada warga binaan yang memiliki kriteria sesuai peraturan dari kemenkumham dan memenuhi syarat.
Untuk warga binaan yang mendapatkan asimilasi itu, sebutnya, berasal dari berbagai kabupaten kota di Sumbar seperti Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Payakumbuh, Limapuluh Kota, Pasaman Barat, Tanahdatar, dan Kota Padang. “Sebelum dikeluarkan, kita pastikan warga binaan itu dalam kondisi sehat, agar setiba di rumah nantinya tidak menularkan penyakit kepada keluarganya,” tukasnya. (stg)