Selama Pandemi, PAD TMSBK Merosot

18
TMSBK Bukittinggi. (Foto: IST)

Pendemi Covid-19 yang menyerang tanah air, termasuk Bukittinggi, berdampak pada merosotnya Pendapatan Asli Daerah sektor pariwisata di Kota Wisata tersebut. Mujurnya, bencana itu menjadi berkah tersendiri bagi hewan-hewan yang ada di Taman Marga Satwa Budaya dan Kinantan (TMSBK). Selama Covid-19 tersebut, hewan di TMSBK memanfaatkan momen tersebut untuk musim kawin.

Kabid TMSBK Dinas Parpora Bukittinggi, Ikbal mengungkapkan, selama ditutupnya TMSBK, cukup banyak hewan yang memasuki musim kawin. Bahkan, beberapa minggu terakhir, satwa betina saat ini sudah dalam kondisi bunting

“Jadi ada positif dan ada negatifnya juga penutupan, sementara dua setengah bulan kemarin. Positifnya, satwa merasa nyaman dan ada yang menjadikannya sebagai musim kawin, salah satunya macan dahan betina yang kondisinya kini sedang bunting,” sebut Ikbal.

Negatifnya, lanjut Ikbal, pendapatan TMSBK merosot tajam semenjak wabah. Selama penutupan kunjungan mulai dari 20 Maret sampai 29 Mei lalu, estimasi perkiraan TMSBK kehilangan pendapatan mencapai Rp 3,5 miliar.

Padahal target pendapatan TMSBK, bebernya, pada tahun 2020 atau sebelum adanya Covid-19 sebesar Rp 15 miliar. “Dengan adanya wabah Virus Covid-19 dan ditutupnya TMSBK selama 2 bulan lebih, kita mengajukan revisi target PAD dari TMSBK sebesar Rp 7-8 miliar. Karena hingga Mei lalu, pendapatan TMSBK hanya baru sekitar Rp 3 miliar,” ujarnya.

Kemudian, untuk perawatan 335 ekor dari 122 jenis hewan atau satwa termasuk ikan hias yang menghuni TMSBK, semuanya terawat dengan baik. Kondisinya saat ini sehat karena selalu dipantau tim Dokter Hewan TMSBK. Begitu juga untuk makannya juga terpenuhi setiap harinya.

“Karena TMSBK ini milik Pemerintah Kota Bukittinggi, maka untuk makannya telah dianggarkan dalam APBD setiap tahunnya. Setiap bulannya untuk makanan satwa atau hewan penghuni TMSBK ini berkisar Rp 180 juta sampai Rp 200 juta,” kata Ikbal.

Memasuki New Normal, Pemerintah Kota Bukittinggi kembali membuka objek wisata untuk umum. Resminya sudah dimulai awal Juni 2020. Bahkan, sejumlah objek wisata di Bukittinggi sudah kembali ramai diserbu pengunjung berberapa hari terakhir.

Pegiat dan pelaku wisata daerah itu juga komit melakukan sosialisasi terkait langkah-langkah penularan wabah. Pengunjung diharuskan tetap mematuhi protokol kesehatan penanganan Covid-19, terutama mewajibkan pengunjung dan warga kota Bukittinggi memakai masker. “Untuk TMSBK Sabtu (30/5) lalu, kunjungan ke TMSBK sebanyak 500 orang lebih, dan pada Minggunya (31/5) meningkat menjadi 1.000 orang lebih,” tutup Ikbal. (p)