Soal Rekrutmen Satpol PP Bukittinggi, Efriadi dan Aldiasnur Saling ‘Tuduh’

456

Mantan Kepala Dinas Satpol PP, Aldiasnur.

Proses seleksi penerimaan tenaga honorer calon personel Satpol PP Kota Bukittinggi tiba-tiba sudah memasuki tahap pemeriksaan berkas. Ada 60 berkas pelamar yang sedang diperiksa kelengkapan administratifnya.

Kepala Dinas Satpol PP Bukittinggi Efriadi mengatakan bahwa dia hanyalah melanjutkan proses rekrutmen yang sudah berjalan sebelumnya.

Kepala Dinas Satpol PP, Efriadi.

“Saya kan baru menjabat dua bulan ini. Tentu saya hanya menjalankan perintah pimpinan. Karena nama-nama sudah ada dari pejabat sebelumnya, saya lanjutkan dengan tes administratif, uji kebugaran dan kesehatan dan seterusnya,” kata Efriadi.

Dikonfirmasi terpisah, mantan Kepala Dinas Satpol PP sebelumnya, Aldiasnur, yang kini menjabat sebagai Kepala DLH membantah tudingan itu. Dia menampik telah memulai proses rekrutmen sebelum Efriadi dilantik.

“Jika ada oknum pejabat yang menyebut proses rekrutmen tersebut sudah dimulai dalam periode kepemimpinan saya, maka itu tidak benar. Sangat disayangkan itu adalah opini yang sesat dan bentuk lari dari tanggung jawab,” tegasnya.

Aldiasnur membenarkan dirinya yang menyusun anggaran dan mengusulkan penambahan personel Satpol PP karena jumlahnya belum optimal. Itu acuannya Permedangri Nomor 60 tahun 2012 tentang Pedoman Penetapan Jumlah Polisi Pamong Praja, yang mengisyaratkan masih terbuka peluang adanya penambahan.

Baca Juga:  Polemik Parkir Terminal, Joni Feri: Bukan Kewenangan Pemko Bukittinggi

“Bobot skor setelah memperhatikan indikator kriteria umum dan kriteria teknis, maka didapati jumlah pegawai Satpol PP minimal berkisar 150 sampai 250 orang,” katanya.

Aldiasnur sudah menyarankan kepada stafnya agar proses rekrutmen digelar secara terbuka, dibuatkan pengumuman agar tidak menimbulkan praduga negatif.

“Justru sudah saya sarankan ada pengumuman rekrutmen, silakan dicek ke anggota lama,” pungkasnya.

Tidak hanya itu, isu yang berseliweran tentang proses rekrutmen Satpol PP ini juga berdampak pada ketidaknyamanan sejumlah personel lama.

“Bisa jadi hanya persyaratan formal saja, tanpa tes. Sebab saya dulu masuk diuji oleh senior, kalau kini ada tes juga tentu kami para senior dilibatkan, namun nyatanya tidak. Saya dulu masuk tesnya banyak, sekarang yang masuk pun orang-orang yang tidak jelas,” ujar salah satu personel senior Satpol PP Bukittinggi yang meminta namanya disamarkan.(ryp)