Tutup IGD dan Isolasi 12 Tenaga Medis RS Ibnu Sina Yarsi Bukittinggi

Ilustrasi pemeriksaan spesimen pasien Covid-19. (foto: dok.shutterstock).

Pihak Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina Yarsi Bukittinggi mengambil kebijakan menutup sementara Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan mengisolasi mandiri belasan tim medis rumah sakit tersebut.

Hal itu dilakukan setelah contact tracking atau pelacakan terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia dalam kondisi hamil, di RSUP M Djamil Padang, Rabu (8/4) lalu.

Sebelum dirujuk ke RSUP M Djamil Padang, pasien sempat dirawat di IGD Ibnu Sina Bukittinggi.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengatakan, setidaknya 12 tim medis di RS Yarsi Bukittinggi diisolasi setelah keluarnya hasil laboratorium yang mengonfirmasi bahwa pasien yang meninggal itu positif Covid-19.

“Diisolasi karena saat dibawa ke RS Yarsi, tim medis tersebut yang menangani atau pernah kontak dengan pasien itu,” imbuhnya.

Selain tim medis, lanjut Wako, warga yang tinggal di dekat rumah korban dan ikut membantu membawa ke RS juga dilakukan isolasi.

“Saat itu ada warga yang langsung bersentuhan memegang korban saat dibawa ke rumah sakit,” ungkap Ramlan.

Sebelumnya, pasien positif Covid-19 dalam kondisi hamil delapan bulan tersebut dilarikan ke RS Yarsi Bukittinggi, Senin (6/4) karena mengalami kejang-kejang.

Malam itu juga, pasien dirujuk ke RSUP M Djamil Padang karena kondisinya terus menurun. Pasien meninggal pada Rabu (8/4).

Sebelumnya pihak rumah sakit mengambil sampel atau swab hidung dan tenggorokan untuk diuji di laboratorium Fakultas Kedokteran Unand. Rabu (8/4) sore, wali kota menerima telepon dari pihak laboratorium yang mengabarkan bahwa pasien asal Bukittinggi itu positif Covid-19.

“Sebagai upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, kami langsung melakukan tracking contact pasien tersebut,” katanya.(stg)