Shalat Idul Adha Berbeda! Wako : Perbedaan Jangan Memecah Belah Umat

9
KHUSYUK: Masyarakat Kota Bukittinggi Shalat Idul Adha di Lapangan Wirabraja, Minggu (10/7).(IST)

Pemerintah Kota Bukittinggi gelar Shalat Idul Adha 1443 H, di Lapangan Wirabraja, Minggu (10/7). Cukup banyak umat muslim Kota Bukittinggj yang juag merayakan Idul Adha pada hari yang sama.

Ketua PHBI Bukittinggi, Zulfikar, menjelaskan, pada Idul Adha 1443 H ini, bertindak sebagai khatib Prof. DR.H.Asasriwarni.M.H, Guru besar Pasca Sarjana UIN Imam Bonjol Padang. Sedangkan shalat Id, akan dipimpin Rusman Edi. S.Ag.M.Pd, Penyuluh Agama Islam Fungsional Nasional, Kemenag Bukittinggi.

Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, menyampaikan, pemerintah Indonesia telah menetapkan 1 Zulhijjah 1443 pada 1 Juli 2022. Sehingga 10 Zulhijjah 1443 H, jatuh pada tanggal 10 Juli 2022. Namun demikian, sebagian umat Islam merayakan Idul Adha pada Sabtu (09/07) kemaren.

“Perbedaan ini juga pernah terjadi tahun 1975 lalu. Namun demikian, perbedaan ini sebagaimana diajarkan Buya Hamka, untuk tidak menghancurkan persatuan dan kesatuan Umat Islam,” ungkap Erman Safar.

Wako juga menyampaikan, sejak pandemi, warga Bukittinggi yang masuk data miskin, berjumlah 6980 jiwa. Ini menjadi tantangan untuk diturunkan di masa yang akan datang.

“Berbagai program pemko telah dijalankan untuk menurunkan angka kemiskinan. Diantaranya, Tabungan Utsman, memastikan warga yang masuk DTSK dijamin asuransi kesehatannya. Bidang pendidikan, juga telah dibebaskan iuran komite pelajar SMA se derajat. Untuk perbaikan aqidah akhlaq generasi muda, juga telah disusun program satu kelurahan satu pondok tahfiz, penambahan muatan lokal, BAM, Fiqih, Sejarah islam, Aqidah Akhlaq dan Bahasa Arab,” jelasnya.

Baca Juga:  Capaska Jalani Tantingan di Desa Bahagia

Wali Kota Bukittinggi, atas nama pemerintah kota, mengucapkan, selamat Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriyah. “Mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya.

Khatib Idul Adha, Prof. DR.H.Asasriwarni, dalam tausiyahnya, menyampaikan, Ibadah haji dan kurban selalu mengingatkan umat kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah dialami Nabi Ibrahim dan keluarga, Siti Hajar dan Nabi Ismail. Sebagai ‘Bapak’ dari agama-agama monotheisme, Nabi Ibrahim dan keluarga beliau — telah menunjukkan tauladan yang terbaik bagi umat manusia.

“Keta’atan Nabi Ibrahim kepada Allah dengan bersedia menyemblih anaknya, sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Ini patut menjadi tauladan bagi umat dalam mencapai derjat taqwa,” pungkasnya.(ryp)