Dua Hari Dirawat, Kucing Emas Langka Mati

109
Kucing emas yang dua hari terakhir dirawat di TMSBK Bukittinggi, kemarin (18/6) mati di TMSBK Bukittinggi. (Foto: IST)

Dua hari dirawat secara intensif, seekor satwa langka yang teridentifikasi sebagai kucing emas tak bisa diselamatkan dan mati di Taman Marga Satwa Budaya dan Kinantan (TMSBK), Bukittinggi, Kamis (18/6). Selain menderita luka serius di bagian kaki kiri akibat jeratan, kucing bernama latin Catopuma temminckii itu diduga mati akibat digerogoti parasit caplak.

“Kita berduka. Saya baru dapat informasi, satwa kucing emas yang baru kita rawat dalam dua hari belakangan tak bisa diselamatkan,” kata Kepala BKSDA Resor Bukittinggi, Vera Chiko pada wartawan di Kebun Binatang Kinantan Bukittinggi.

Dijelaskan, satwa langka itu saat ditemukan, sempat terjerat perangkap babi warga di kawasan hutan Sungai Dareh Pauah, Nagari Kamangmudiak, Kamang Magek, Agam, Selasa (16/6) lalu. Masyarakat membuat jerat untuk menjaga tanaman dari gangguan babi hutan. Malangnya, kucing langka ini yang masuk perangkap.

Pihaknya menerima informasi dari warga yang menemukan kucing itu dan langsung menuju lokasi dan proses evakusi digelar sekitar pukul 16.30 Wib. Saat petugas tiba di lokasi, bagian kaki kucing terjerat terlihat mengalami luka. Bahkan sudah tampak menghitam dan mulai membusuk dikerumuni lalat. “Kucing emas ini diperkirakan sudah memasuki usia remaja dengan umur sekitar 4 tahunan dengan jenis kelamin jantan,” ucapnya.

Satwa ini rencananya akan menjadi tambahan koleksi satwa di TMSBK tersebut sempat dievakuasi dan mendapat perawatan sebelum akhirnya mati. Menurut Chiko, kematian kucing emas itu diduga akibat parasit caplak yang banyak ditemukan di sekujur tubuh satwa. Selain itu, luka akibat jeratan juga menyebabkannya kucing emas itu banyak kehilangan darah.

“Caplak atau Ektoparasit di sekujur tubuhnya kita temukan. Mulai dari telinga sampai badannya. Selain itu juga mengalami anemia berat. Banyak kehilangan darah. Itu dugaan kita dan tim medis sementara ini. Kita sudah tangani dengan maksimal, tapi takdir berkata lain,” sambungnya.

Menurut Chiko, di Indonesia satwa ini dikategorikan sebagai hewan langka dan dilindungi undang-undang serta tertuang jelas dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 106 Tahun 2018. “Tingkat kepunahannya hampir sama dengan Harimau Sumatera. Karena itu, populasi, penampakan dan penemuannya sangat jarang sekali,” tutupnya. (p)