Warga Resah Menyangkut Pemakaian Rusunawa

Pemko dan ninik mamak Bukikapik melakukan pertemuan untuk meluruskan rencana pemanfaatan rusunawa. (IST)

Pemko Bukittinggi meluruskan kepada perwakilan masyarakat Bukikapik terkait keresahan yang terjadi akibat adanya rencana Pemko untuk pemanfaatan Rusunawa dijadikan tempat isolasi pasien Covid-19 jika memang diperlukan. Keresahan itu muncul setelah pihak Pemko meninjau Rusunawa, pekan kemarin, masyarakat salah paham, jika rusunawa akan dijadikan sebagai tempat pasien Covid-19.

Untuk meluruskan informasi itu, Pemko Bukittinggi mengundang Niniak Mamak di daerah Bukikapik dalam pertemuan di rumah dinas wako, Jumat (17/4) malam. Dalam pertemuan itu, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias menjelaskan, jika pada Senin (14/4) lalu, Pemko bersama unsur Forkopimda, memang sudah meninjau Rusunawa di Bukikapik, yang telah selesai dibangun. Karena saat ini, belum ada serah terima dari pemerintah pusat, sehingga saat ini statusnya masih milik pusat.

“Sehingga belum ada keputusan apa-apa dari pemerintah kota untuk Rusunawa itu. Nah, saat ini Sumbar sedang dilanda wabah covid-19, termasuk Bukittinggi. Untuk itu, timbul pemikiran kami, nantinya jika dibutuhkan Rusunawa bisa dijadikan tempat isolasi sementara. Tapi belum ada keputusan untuk itu, ini baru pemikiran kami saja,” jelas Ramlan.

Lebih rinci, Wako menjelaskan, jika nantinya dibutuhkan saat kemungkinan terburuk terjadi, semakin merebak covid-19 di Bukittinggi, Rusunawa itu direncanakan dijadikan lokasi isolasi. Isolasi yang dimaksud, untuk karantina para perantau yang masuk Bukittinggi. “Perantau yang pulang, sebelum ke rumahnya, kita karantina di rusunawa. Bukan yang pasien positif kita inapkan di Rusunawa. Mungkin salah pemahaman sebelumnya, sehingga timbul perbedaan persepsi dan pemahaman, ini yang kita luruskan sekarang,” papar Wako.

Sebelumnya, sejumlah warga Bukikapik, mengkhawatirkan rencana pemerintah kota, yang menyampaikan Rusunawa akan dijadikan lokasi isolasi pasien covid-19. Tak lama setelah itu, dilaksanakan rapat oleh sejumlah Niniak Mamak yang memutuskan keberatan terhadap rencana itu.

Masri Dt Dikoto, salah seorang Niniak Mamak Bukikapik, dalam pertemuan itu mengaku, memang ada riak di tengah warga Bukikapik terkait rencana peruntukan sementara Rusunawa, jika dibutuhkan. Namun, setelah dijelaskan wali kota, Niniak Mamak dapat memahami maksud dan tujuan dari pemikiran tersebut.

“Intinya, ini belum menjadi sebuah ketetapan. Kemudian maksud dari Pemko, nanti jika dibutuhkan, Rusunawa dijadikan untuk isolasi atau karantina. Tapi, untuk isolasi atau karantina sementara, para perantau yang pulang. Untuk itu, kami harap ke depan, jika ada pembahasan terkait hal ini, pihak pemerintah dapat menyampaikan langsung kepada masyarakat, agar informasi ini tidak menjadi simpang siur. Misalnya, Lurah atau Camat yang menjelaskan, agar informasinya lebih jelas,” ujar Masri Dt Dikoto.

Sementara, Ketua LPM Bukikapik, Hendra Eka Putra menyampaikan, pada dasarnya, setelah mendapat penjelasan wali kota itu, warga yang diwakili Niniak Mamak, tentunya lebih memahami maksud dari Pemko itu. “Sekarang telah jelas, tidak ada simpang siur lagi. Bukan pasien positif yang akan dibawa ke Rusunawa. Tapi, jika dibutuhkan nanti, Rusunawa direncanakan dapat dijadikan lokasi karantina bagi perantau yang pulang ke Bukittinggi, sebelum pulang ke rumah mereka. Itupun juga belum menjadi sebuah keputusan. Ini yang akan kita coba bantu Pemko untuk sosialisasikan juga ke warga sekitar Bukikapik,” ujarnya. (stg)