Warga Bukittinggi Dibolehkan Gelar Shalat Jumat Berjamaah

88
PELONGGARAN PSBB: Masjid Pahlawan, Nagari Situjuahbatua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota kembali melaksanakan ibadah Shalat Jumat secara berjamaah, Jumat siang (15/4). Ini dilakukan, menyusul adanya pelonggaran PSBB di nagari tersebut. Namun, shalat digelar dengan shaf yang diatur jaraknya, dengan khatib dan jamaah yang hanya berasal dari nagari setempat.

Warga Kota Bukittinggi kembali diizinkan melaksanakan shalat Jumat berjemaah di masjid mulai Jumat (29/05). Bahkan ibadah shalat wajib berjamaah pun sudah boleh digelar dengan catatan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Hal itu terungkap dalam Pertemuan Pengurus Masjid se-Kota Bukittinggi dengan Pemko setempat di Hall Balaikota Bukittinggi, Kamis (28/5). Pertemuan dipimpin langsung Wali Kota Bukittinggi dan dihadiri Wakil Wali Kota Bukittinggi, Sekretaris Kota, Kemenag, Ketua MUI dan Asisten dan Kepala SKPD terkait.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias mengatakan, dibukanya kembali masjid sebagai salah satu kebijakan melonggarkan aktivitas masyarakat setelah pelaksanaan PSBB di Bukittinggi. Ini juga sebagai tanda dimulainya aktifitas kenormalan baru atau New Normal.

“Mulai dibuka kembali masjid itu sebagai salah satu kebijakan melonggarkan aktifitas masyarakat setelah pelaksanaan PSBB di Bukittinggi. Tentu akan ada beberapa aturan yang diterapkan jika warga shalat di masjid. Yakni tetap menjalankan protokol kesehatan penanganan Covid-19,” kata Ramlan.

Untuk mendukung aktifitas kembali di Masjid, Pemko mulai Kamis siang akan melakukan penyemprotan disinfektan di semua masjid. Kemudian, di setiap mesjid akan disediakan tempat pencuci tangan bagi jamaah.

Protap kesehatan yang diharuskan bagi masyarakat yang akan beraktifitas di masjid, agar tetap memakai masker di luar dan di dalam masjid. Selain itu, diminta agar membawa tikar sendiri, berwudhu dari rumah, menjaga jarak di dalam masjid, dianjurkan shalat di luar.

Sementara bagi masjid, sirkulasi udara harus lancar, mimbar digeser kebelakang dan mempersingkat khutbah. Bagi ustadz sendiri diharapkan juga memakai masker saat memberikan ceramah.

“Bagi masjid yang belum ada tempat cuci tangan, bakal kita sediakan. Sedangkan untuk ketentuan shalat Jumat di masjid, khatib diminta untuk mempersingkat khotbahnya menjadi 10 menit,” paparnya.

Kepala Kemenag Bukittinggi, Kashmir menyambut baik rencana tersebut. Dikatakan, Kemenag RI saat ini juga sedang merumuskan teknis penyelenggaraan ibadah dalam konteks kenormalan baru atau new normal.

Sementara itu, Ketua MUI Bukittinggi, Aidil Alvin mengimbau, selama menjalankan ibadah di masjid dalam masa pandemi, jamaah diminta untuk mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Penyelenggaraan peribadatan menurutnya, seperti shaf tidak dirapatkan dan shalat mengenakan masker, diperbolehkan secara kaidah dalam konteks keadaan darurat atau wabah.

“Kita sangat mengapresiasi keputusan itu. MUI pun tetap mengimbau masyarakat yang mulai beraktifitas di masjid melaksanakan standar penanganan Covid-19. Namun tetap, yang menentukan keamanan daerah merupakan kewenangan Pemko,” sebutnya. (p)