Masyarakat Bisa Antisipasi Dini Dampak Bencana, Wako: Jadikan Budaya!

10
Wako Erman Safar membuka kegiatan sosialisasi penanggulangan bencana alam bagi relawan di Kota Bukittinggi. (IST)

Pemko Bukittinggi sudah berhasil menyusun dokumen kajian resiko bencana dan rencana penanggulangan bencana Kota Bukittinggi 2019-2023.

Ada beberapa kebijakan penanggulangan yang dirangkum dalam dokumen tersebut berdasarkan indeks ketahanan daerah dan akar masalah sesuai dengan tiap tiap ancaman.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Bukittinggi, Ibentaro Samudra, saat menggelar sosialisasi pelatihan pencegahan dan kesiapsiagaan bencana bagi relawan KBLK dan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kantor Lurah Kubu Gulai Bancah, Rabu (29/06).

Kegiatan ini dilaksanakan di 24 kelurahan, mulai 28 Juni hingga akhir Juli 2022 mendatang. Pelatihan diikuti oleh 40 orang relawan bencana serta masyarakat setiap kelurahan, dengan total 920 orang.

“Mengurangi resiko bencana dengan meningkatkan ketangguhan pemerintah daerah dan masyarakat menghadapi bencana The Great Bukittinggi of Resiliense adalah strategi untuk melindungi masyarakat Bukittinggi dalam menghadapi bencana. Hal dilaksanakan dengan tahapan kota tangguh bencana, kecamatan tangguh bencana, ketahanan bencana lingkungan kelurahan (KBLK), keluarga tangguh bencana,” jelas Ibentaro.

Selanjutnya juga dilakukan kerjasama lintas daerah yang juga melibatkan pemerintah provinsi Sumbar dan untuk kawasan hinterland bekerjasama dengan Kabupaten Agam dalam penanganan erupsi gunung api dan pengelola banjir.

Menjamin pengembangan sistem drainase berdasarkan master plan drainase Kota Bukittinggi. Konservasi dan perlindungan lingkungan untuk membangun budaya pengurangan resiko bencana.

“Menerapkan RTRW dalam perencanaan pembangunan serta pemberian izin dan pemantauan pembangunan. Membangun karakter masyarakat berbasis keluarga untuk mengembangkan prinsip hidup sehat, saling menghargai dan bebas dari maksiat sesuai ABS SBK. Membangun gerakan kesadaran masyarakat dalam pengurangan resiko bencana,” tambahnya.

Baca Juga:  Capaska Jalani Tantingan di Desa Bahagia

Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, menyampaikan, penguatan kapasitas kawasan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bagi KBLK se Kota Bukittinggi ini, dilaksanakan agar terciptanya budaya sadar bencana pada masyarakat. Sehingga masyarakat mampu melakukan upaya penanggulangan dini dari dampak akibat bencana.

“Dengan pelatihan ini, masyarakat dan relawan diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar yang mengalami musibah dan bencana. Karena Bukittinggi memang menjadi salah satu daerah rawan bencana seperti gempa, genangan air dan bencana sosial. Jika semua itu terjadi, para relawan dan warga yang ikut pelatihan ini, menjadi garda terdepan untuk memberikan pertolongan,” ungkap Erman Safar.

Bukittinggi memiliki daerah rawan banjir, karena adanya banjir kiriman. Hal ini disebabkan ada tiga sungai, Batang Agam, Batang Buo dan Batang Sianok yang mengalir di Kota Bukittinggi. Jika infrastrukturnya tidak siap, maka akan terjadi genangan air.

“Untuk itu, jika ada pembangunan, kajian tentang drainase memang harus jadi prioritas. Semua pihak diharapkan juga pengawasannya secara bersama. Kepedulian sesama sangat dibutuhkan,” pesan Wako.

Keluar dari covid menjadi salah satu bukti masyarakat Bukittinggi, dinilai mampu untuk menghadapi musibah. Ini yang harus ditingkatkan untuk mampu menghadapi dan mengantisipasi setiap musibah yang ada.

“Kita harus memiliki ilmu, tidak bisa hanya mengandalkan sesuatu yang tidak logis. Mari bersama wujudkan Indonesia tangguh terhadap bencana, salam sehat dan salam tangguh,” pungkasnya.(ryp)