Harlah NU ke-98, Pariyanto Terima Anugerah NU Awards

60

Ketua DPRD Dharmasraya Pariyanto menerima anugerah Nahdlatul Ulama (NU) Awards PCNU Kabupaten Dharmasraya tahun 2021. Anugerah tersebut diberikan di sela-sela Harlah NU ke-98 sekaligus launching kartanu bertempat di Ponpes Tarbiyatul Athfal, Nagari Koto Ranah, Kecamatan Koto Besar, Minggu (28/02/2021). Anugerah diserahkan langsung oleh Ketua PBNU Dharmasraya Nur Kholidin.

Sebagai pimpinan DPRD Dharmasraya, Pariyanto mengucapkan selamat Harlah kepada NU khususnya NU Kabupaten Dharmasraya. “Saya merasa sangat bersyukur sekali atas diundangnya dalam Harlah sekaligu pemberian NU Awards. Hal tersebut mengingatkan saya akan sejarah panjang NU. Dimana NU sudah ada sebelum Indonesia merdeka, dan NU punya andil dalam memerdekan Republik Indonesia sekaligus mengawal pemerintahan. Jika dulu lawan NU adalah penjajah, maka sekarang lawan NU adalah hoaks serta dugaan orang-orang yang akan mengubah Pancasila. Disamping itu Banser tetap harus berkontribusi dalam mengawal dan mempertahankan NKRI,” papar kader PDIP ini.

Disamping itu menurut Pariyanto, tidak bisa dipungkiri sejarah panjang NU dengan Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno. Dimana di tahun 1948 tersebut dalam kondisi negara yang baru merdeka dan kekacauan masih saja terjadi, Soekarno lalu mengundang kiai-kiai termasuk Kiai Abdullah Wahab untuk duduk bersama. Dalam pertemuan itu Kiai Abdullah Wahab menyarankan kepada Soekarno mengadakan halal bihalal, untuk meminimalisir kekacauan tersebut. Maka kemudian diadakanlah halal bihalal. Artinya halal bihalal digagas oleh PBNU dan Soekarno. Disamping itu, pada tahun 1954 di dalam muktamar di Surabaya, PBNU menganugerahkan gelar kepada Soekarno dengan gelar Waliyul Amri Ad Dharuri Ad Syaukah.

Mengingat sejarah panjang antara NU dengan Presiden RI pertama Soekarno tersebut, kata Pariyanto, sesuai dengan yang disampaikan oleh Ketua DPP PDIP Megawati Seokarnoputri, dimana Megawati menegaskan, sampai kapanpun tidak akan pernah melupakan NU.

Baca Juga:  Meski di Tengah Pandemi, Pemkab Dharmasraya kembali Raih Predikat WTP

“Makanya dalam Harlah NU yang 98, Megawati menginstruksikan kepada seluruh kader PDIP untuk ikut video conference dalam acara HUT PBNU tersebut secara nasional. Artinya antara NU dengan PDIP tidak bisa dipisahkan, PDIP adalah rumahnya NU, begitupun dengan pendiri NU Hasyim Muzadi. NU bukan merupakan organisasi politik tapi orang NU boleh berpolitik dan wadahnya adalah PDIP dan PKB,” ulas Pariyanto.

Hal senada diungkapkan Ketua Tanfidziyah, KH Nur Kholidin. Ia mengatakan, harlah NU kali ini mengusung tema “Menyongsong Satu Abad, Meneladani Mua’assis, Menuju Kemandirian NU”.

Ia menjelaskan, pada masa yang lalu NU telah berusaha menjaga dan mengawal negara melalui fatwa jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar PBNU Hadratussyekh Hasyim Asyari yang menyatakan bahwa hukum memerangi kaum penjajah adalah wajib. Fatwa ini katanya, yang kemudian dijadikan Resolusi Jihad oleh PBNU sehingga mendorong masyarakat terutama para santri untuk melawan Belanda sehingga terjadi perang 10 November dan dinyatakan sebagai Hari Pahlawan.

“Alhamdulillah tanggal 22 Oktober lahirnya Resolusi Jihad akhirnya juga dinyatakan sebagai Hari Santri Nasional oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Salah satu ancaman yang kita hadapi sekarang ini menurut kami adalah radikalisme dan intoleran. Radikalisme adalah kelompok yang ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan dasar yang lain. Sedangkan kelompok intoleran adalah kelompok yg dapat merusak keutuhan bangsa. Bagi NU, Pancasila dan NKRI sudah final,” tegasnya.

Menurutnya, NU di Kabupaten Dharmasraya, sebagai wilayah pemekaran masih terus menjalin hubungan dengan pemerintah dan pihak-pihak lain dalam memajukan organisasi. Sebagai ungkapan terima kasih pada peringatan hari lahir NU ke-98 maka digelarlah Anugerah NU Awards PCNU Kabupaten Dharmasraya ini. (ita)

Previous articleBuruan! Beli Mobil Xenia, Terios, Luxio, Granmax Hemat 12-17 Jutaan
Next articleInvestasi Miras Dibuka, Nevi Zuairina: Meminum Miras Picu KDRT