Hamili Pelajar, Pelaku Pedofil di Dharmasraya Diciduk

Pelaku pedofil berinisial GE, 53, warga Kecamatan Sitiung diamankan di Mapolres Dharmasraya. (IST)

Orang tua harus intens mengawasi anaknya sehingga tidak menjadi korban kejahatan seksual. Seperti yang terjadi di Kabupaten Dharmasraya.

Dua anak di bawah umur menjadi korban kejahatan pelaku pedofil berinisial EG, 53, warga Nagari Sungaiduo, Kecamatan Sitiung. Akibat perbuatan pelaku, satu korban kini tengah hamil 6 bulan, sementara satu korban lagi mengalami luka robek pada selaput dara. Kedua korban yang berstatus pelajar mengalami trauma.

”Satuan Reserse Kriminal Polres Dharmasraya sudah berhasil menciduk GE, 53, Rabu (29/4). Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polres Dharmasraya untuk penyelidikan lebih lanjut,” jelas Kapolres Dharmasraya AKBP Aditya Galayudha Feriansyah didampingi Kasat Reskrim AKP Suyanto.

Kedua korban merupakan tetangga dari pelaku. Dalam melancarkan aksi biadabnya, pelaku  mengiming-imingi korban yang masih duduk dibangku SMP dengan uang Rp 50 ribu. Perbuatan bejad itu dilakukan sejak Mei 2019 yang lalu.

Jarak rumah korban dengan tersangka berdekatan yang hanya berjarak dua rumah. ”Mirisnya lagi perbuatan tersebut dilakukan tersangka di rumah korban,” ujar kapolres.

Terungkapnya kasus memilukan itu berawal dari kecurigaan salah seorang ibu korban dengan perubahan yang terjadi pada anaknya. Ketika ditanya ke sang anak, ia menceritakan jika dirinya sudah berulangkali diperlakukan secara tidak wajar oleh tersangka GE. Mengatahui hal itu, sontak ibu korban kaget dan melaporkan perbuatan keji tersangka ke Polres Dharmasraya.

”Mendapat laporan kami langsung bergerak dan berhasil menangkap pelaku di kediamannya,” sebut AKBP Aditya.
Saat ini petugas sedang mendalami kasus pedofilia tersebut. Karena tidak tertutup kemungkinan ada korban lainnya dari perbuatan tersangka.

”Kami mencurigai ada korban-korban yang lainya. Untuk itu kita berharap kepada masyarakat jika ada yang merasa anaknya menjadi korban segera melaporkannya,” imbaunya.

Tersangka  dijerat UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 23 tahun 2002 dengan ancaman penjara mininmal 5 tahun makasimal 15 tahun penjara.

Kepada penyidik tersangka GE membenarkan kalau kedua korban merupakan tetangganya. Ia juga mengakui perbuatan bejatnya tersebut terhadap kedua korban. Seperti diketahui, kekerasan seksual terhadap anak menjadi perhatian serius pemerintah dan penegak hukum dalam penanganannya.

Seperti pada akhir 2019 lalu, kasus pedofil yang dialami seorang remaja TR, 12, di Kota Padang. Kasus itu menghebohkan Sumbar hingga sampai ke telinga menteri. TR, akhirnya meninggal dunia pada pada 30 Desember setelah mendapatkan penanganan serius karena kanker serviks yang dideritanya.

Sementara tersangka AR terancam hukuman mati atas perbuatan yang dilakukannya terhadap TR. Kasus itu menyita perhatian Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Ia langsung terjun ke Padang memastikan kasus itu diusut tuntas. Bahkan ia  tak kuasa menahan air matanya saat menggelar pertemuan di Polresta Padang.

Dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu, ia bicara banyak tentang kekerasan perempuan dan anak di hadapan Kapolda Sumbar, Irjen Toni Harmanto beserta jajaran.

Menurutnya, kasus-kasus seperti ini memang perlu perhatian semua pihak. Hukuman sepantas nya akan memberikan efek jera kepada pelaku untuk melakukan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Sementara itu, sepanjang Januari-Februari 2020 sebanyak 15 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tercacat di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Dari 15 kasus itu, lima diantaranya adalah kekerasan seksual terhadap anak. Delapan kasus berkaitan dengan pemenuhan anak dan masing-masing satu kasus kekerasan fisik terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Pada 2018 lalu, Unit PPA Sumbar menemukan 55 kasus. Kekerasan seksual terhadap anak menempati posisi kedua dengan 14 kasus di bawah kasus pemenuhan hak anak 17 kasus. Kemudian tahun 2019, jumlah kasus naik menjadi 115 kasus dimana kasus kekerasan seksual menempati urutan teratas dengan 42 kasus. (ita)