Sutan Riska Dalami Sejarah Dharmasraya

6
KEBUDAYAAN: Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan menghadiri acara Kenduri SKO di Desa Tanjungtanah, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi.(IST)

Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan menghadiri acara Kenduri SKO di Desa Tanjungtanah, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Kedatangan Raja Kotobesar itu dalam rangka memenuhi undangan anak jantan anak betino di Tiga Luhak Tanjung Tanah, yaitu Luhak Depati Talam, Luhak Depati Bumi, Luhak Depati Sekumbang.

Kenduri diawali dengan berkumpulnya para depati di tiga luhak, tokoh adat, dan masyarakat Tanjung Tanah.

Sementara Sutan Riska bergabung bersama rombongan dari Dharmasraya, di antaranya kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Sutan Taufik, kepala Dinas PMPTSP, Naldi, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lasmita, Ketua LKAAM sekaligus Raja Pulau Punjung,  A. Haris Tuanku Sati, Ketua Asosiasi Wali Nagari Dharmasraya, Rasul Hamidi Dt Saridano dan sejumlah ninik mamak dari Kotobesar.

Usai berkumpul, para peserta kenduri berjalan ke rumah pucuk Depati Talam yang berjarak beberapa puluh meter. Perjalanan ini diiringi oleh ratusan masyarakat dan didampingi bunyi gong sebagai pengiring.

Kemudian, depati melakukan ritual pembersihan atau pemandian SKO. Di antaranya 24 lembah Kitab Undang-undang Tanjung Tanah, yang merupakan naskah melayu tertua, yaitu sejak abad 14.

Depati juga membersihkan enam ikat naskah dari daun lontar, sembilan macam kain dan baju, sebuah stempel dari tanah, dan baju kebesaran hakim. Bupati Dharmasraya ikut mendampingi prosesi ini.

Setelah dari rumah pucuk Depati Talam, proses berpindah ke rumah pucuk Depati Bumi. Di rumah pucuk Depati Bumi, dilakukan proses pemandian SKO yang terdiri satu kotak peti, satu buluh, dan lima macam kain berwarna.

Baca Juga:  Simpan Sabu di Lipatan Uang, Pemuda Dibekuk!

Selanjutnya, berpindah ke rumah pucuk Depati Sekumbang. Di sini proses pembersihan dilakukan terhadap SKO yang terdiri dari satu buah peti dari seng, satu batang buluh, dan kain berwarna hitam, putih, dan merah putih.

Sutan Riska Tuanku Kerajaan mengatakan, Ia atas nama raja-raja di Dharmasraya diundang oleh Depati Talam, Depati Sekumbang, dan Depati Bumi di Desa Tanjungtanah, Kerinci.

Alasan Dharmasraya diundang karena dalam naskah tertua itu ada pernyatan yang menyebut Dharmasraya dan itu tulisan yang disebut dengan tulisan Incung, yaitu tulisan melayu tertua.

“Ini adalah kebudayaan yang harus terus dipertahankan dan cara mewujudkan masyarakat saat ini untuk tahu sejarah pada masa lalunya,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk mengetahui kaitan lain Dharmasraya dengan petinggi depati, menurut Sutan Riska, harus menelusuri lebih dalam apa yang ada dalam Undang-undang Tanjung Tanah tersebut.

“Ini pertemuan pertama, Insya Allah akan ada lagi pertemuan. Kita belum melihat secara mendalam, tapi kita lihat keterkaitannya dengan Dharmasraya dan lainnya. Ini menjadi motivasi untuk menggali potensi budaya yang ada di Tanjung Tanah, terutama anak muda,” katanya. (ita)