Petani Karet Dilatih Keterampilan dan Teknologi Budidaya Karet

17
Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya bersama Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi menggelar Diklat Tematik Karet Angkatan I, II dan III. (Foto: IST)

Dalam rangka menyegarkan dan memperkenalkan teknologi terkini dalam pengelolaan tanaman karet, Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya menggandeng Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi menggelar Diklat Tematik Karet Angkatan I, II dan III yang meliputi petani karet dari Kecamatan Koto Baru, Koto Salak dan Sitiung.

Pelatihan dan praktik lapangan dilaksanakan tanggal 21-23 Maret 2020 diikuti 90 petani dipusatkan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Koto Baru dengan materi budidaya dan pasca panen dengan tema “Mendukung Program Kostratani, Peningkatan Eksport dan Kesejahteraan Petani” dan dibuka langsung Kepala Dinas Pertanian Darisman.

“Secara umum, diklat tematik karet ini bertujuan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam informasi dan teknologi budidaya karet. Alhamdulillah, peserta diklat begitu semangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan walaupun dilaksanakan pada akhir pekan, bahkan sangat aktif bertanya terkait hal-hal yang belum mereka benar-benar mengerti tentang materi yang disampaikan. Kita ingin ilmu yang jarang-jarang didapatkan langsung dari ahlinya, benar-benar berguna oleh petani,” ungkap Darisman.

Darisman mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada pihak BPPSDMP Kementan melalui kepala Bapeltan atas terselenggaranya diklat ini. Terkait harga karet yang stagnan saat ini merupakan dampak ekonomi global dan berlaku hukum dagang yang dipengaruhi oleh demand dan suplay.

“Pemerintah daerah, bahkan presiden sekalipun tidak punya kewenangan dalam menetapkan harga komoditas karet ini. Pemerintah Dharmasraya akan menjajaki kerjasama dengan pihak perusahaan pengolahan karet, sehingga harga yang diterima oleh petani sesuai dengan kualitas lateks yang dihasilkan,” papar Darisman.

Pendidikan dan latihan (Diklat) tematik merupakan salah satu metode yang cukup efektif dalam diseminasi teknologi dari pakar yang kompeten dibidangnya kepada pengguna secara bertatap muka dan berinteraksi secara langsung. Pola ini berbeda dengan pola reguler yang berlaku selama ini dan materi yang disampaikan sinergi dengan kondisi di lapangan.

“Yang pasti, bahwa pengelolaan karet di Dharmasraya tentu berbeda dengan daerah lainnya yang dipengaruhi oleh faktor alam, SDM, sosial budaya dan kondisi lainnya. Kabupaten Dharmasraya punya catatan sejarah emas pada dekade 1970-an sampai 1980-an terkait komoditi penghasil lateks ini dengan program P3RSB dan TCSDP sempat menjadi primadona seiring berkembangnya komoditi kelapa sawit,” pungkas Darisman. (ita)