Peretas Situs Kabinet Dipulangkan, Pembinaan dan Edukasi Tetap Dilanjutkan

7
DIPULANGKAN: LF saat dipulangkan ke keluarganya di Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya. Saat ini ia wajib lapor ke Polda Sumbar.(IST)

Masih ingat dengan LF, 17, warga Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya yang sempat membuat heboh karena meretas situs Setkab (Sekretariat Kabinet) beberapa waktu lalu.

Kini LF telah dipulangkan kepada kedua orangtuanya setelah melalui mediasi dua kali.
LF dibebaskan dengan alasan yang bersangkutan masih di bawah umur dan mendapatkan Diversi (penyelesaian perkara tanpa ke pengadilan).

Hal itu diungkapkan Plt Camat Sungai Rimbai, Agusman Irwan. Orangtua LF membuat surat pernyataan akan membimbing dan mendidik LF agar kejadian ini tidak terulang kembali.

“Disamping itu LF juga wajib lapor ke Polda Sumbar setiap hari Jumat selama tiga bulan melalui Video Call,” ujarnya.

Dinas Sosial Kabupaten Dharmasraya juga akan melakukan pembinaan terhadap LF di kantor Dinas Sosial selama tiga bulan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah sebagai pendamping, Dinas Sosial akan mendatangkan psikolog untuk memantau keseharian LF.

”Saat penyerahan ke orangtua, hadir Wali Nagari Sungai Rumbai H. Rasul Hamidi Datuk Saridano dan lainnya,” ucap Agusman.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Sosial Bobby Reza Perdana, saat diketahui jika yang meretas situs Setkab tersebut adalah LF, ia langsung dibawa ke Jakarta oleh aparat keamanan dan direhabilitasi  di Jakarta sekitar 1,5 bulan.

Baca Juga:  Pengurus Bhayangkari Dharmasraya Panen Sayur

Usai rehabilitasi LF dikembalikan lagi kepada keluarganya dan dijemput ke BIM oleh dinas sosial  yang diwakili oleh  Kabid pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, sakti peksos.

“Selama tiga bulan kita akan membina LF, dan di dampingi oleh physikolog, hal itu wajib dilakukan karena jiwa LF yang belum stabil atau gampang di pengaruhi. Mungkin karena masih remaja yang bersangkutan masih mencari jati diri, yang penting kita harus sabar menghadapinya,” tuturnya.

Selain itu jika ada kegiatan tertentu di lapangan, pihaknya akan mengajak LF untuk menambah pengetahuan dan mengedukasinya.

“Intinya LF harus kita bina secara bersama-sama artinya seluruh stakeholder harus bergerak. Tidak hanya Dinas Sosial atau kecamatan saja. LF adalah aset bangsa yang sangat potensial, jangan sampai LF jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab dan hanya ingin memanfaatkan kelebihan LF tersebut untuk kepentingan pribadi,” ucap Bobby.

Mengingat pendidikan LF hanya sampai sekolah dasar, direcanakan pihaknya akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, untuk mengikutkan LF dalam program sekolah paket. (ita)