Akses Masuk ke BPTU Padangmengatas Dibatasi

18
BPTU Padangmengatas. (net)

Akses masuk ke areal Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakaian Ternak (BPTU-HPT) Padangmengatas, Kabupaten Limapuluh Kota, sejak beberapa waktu terakhir dibatasi untuk umum. Beredar informasi, pembatasan akses masuk ke stasiun peternakan yang didirikan Kolonial Belanda pada 1916 dan dibangun kembali oleh Wapres Mohammad Hatta pada 1950 itu dilakukan pihak pengelola karena tingginya kematian sapi akibat serangan ”sampire” atau caplak (sejenis serangga atau kutu yang menghisap darah sapi, red).

”Kini, BPTU-HPT Padangmengatas ditutup sementara untuk umum, karena informasinya ada sapi-sapi yang mati akibat diserang sampire atau kutu sapi. Cobalah dikonfirmasi kebenaran informasi ini kepada pihak BHPTU. Karena kami agak sulit mendapatkan kepastiannya. Tapi mendengar banyak sapi mati di Padangmengatas, kami agak khawatir.

Karena di sekitar Padangmengatas, masyarakat juga punya kandang sapi dan takut menular,” kata Eddy, tokoh masyarakat yang tinggal di Nagari Sungaikamuyang yang bertetanggaan dengan Padangmengatas saat menghubungi Padang Ekspres, akhir pekan lalu.

Untuk memastikan informasi ini, Padang Ekspres, Rabu malam (30/9), menghubungi Kepala BPTU-HPT Padangmengatas, drh. Gigih Tri Pambudi dan Kasubag Tata Usaha, Yan Hendri. Keduanya yang dihubungi secara terpisah mengakui, jika akses masuk ke BPTU Padangmengatas, sejak beberapa waktu terakhir memang dibatasi untuk umum. Terutama, untuk masyarakat atau wisatawan yang datang dari luar daerah.

Pembatasan akses masuk ke areal BPTU-HPT Padangmengatas yang disebut-sebut mirip dengan kawasan New Zealand di Australia ini, terpaksa dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus korona (Covid-19). ”Jadi, pembatasan akses masuk ini bukan dikarenakan adanya serangan caplak, namun lebih kepada upaya kami untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sebab, yang datang ke Padangmengatas itu banyak dari daerah-daerah rawan Covid-19, seperti DKI Jakarta dan sebagainya,” kata Gigih Tri Pambudi.

Baca Juga:  Kuota Pupuk Bersubsidi Belum sesuai RDKK

Dia menyebut, masyarakat umum atau wisatawan yang datang dari luar daerah, terutama dari zona merah pandemi Covid-19 memang dibatasi sementara waktu masuk ke areal BPTU-HPT Padangmengatas. Namun, untuk kunjungan dinas dan masyarakat sekitar yang berolahraga, tetap diberi akses dengan ketentuan tetap mematuhi protokol Covid-19. ”Kalau untuk kendaraan plat merah (dinas), kita tetap izinkan masuk. Begitu pula untuk masyarakat  yang biasa lari-lari sore ke atas. Tapi untuk luar daerah, memang dibatasi,” ujarnya.

Terkait informasi adanya serangan caplak terhadap sapi-sapi di BPTU-HPT Padangmengatas, Gigih Tri Pambudi juga tidak menepisnya. ”Memang, setiap tahun, sejak dulunya, kan selalu ada caplak ini di Padangmengatas. Dan di Sumbar, caplak ini nampaknya sudah biasa. Memang, ada juga sapi yang mati akibat caplak baru-baru ini, namun tidak banyak sekitar 10 hingga 20 ekor sapi,” kata Gigih Tri Pambudi dan Yan Hendri.

Pihak BPTU Padangmengatas juga memastikan, sapi-sapi yang diserang caplak (Boophilus microplus atau Rhipicephalus microplus) di BPTU Padangmengatas adalah sapi jenis simental yang berbulu tebal dan mudah menjadi tempat berkembangnya caplak. ”Kalau sapi Belgian Blue (sapi ukuran raksasa yang pertama kali di Sumatera dikembangkan di BPTU HPT Padangmengatas, red), kondisinya aman. Tidak ada yang mati. Dan untuk caplak itu, juga sudah ditangani oleh petugas BPTU-HPT Padangmengatas,” ujar Gigih Tri Pambudi.

Sekadar diketahui, areal BPTU-HPT Padangmengatas yang bertetanggaan dengan markas Denzipur II/Prasada Sakti dan komplekzsSMKN PP Padangmengatas, memang kerap dikunjungi wisatawan karena pemandangannya yang indah dan mirip New-Zealand. Bahkan, saking indahnya Padangmengatas, tiga Presiden Indonesia, mulai dari Presiden Soeharto, Presiden SBY, sampai Presiden Jokowi, sudah datang ke Padangmengatas. Begitu pula dengan menteri-menteri. (frv)