Tapal Batas Situmbuak-Tungkar Perlu Dibahas

239
ilustrasi. (dok. jawapos.com)

Persoalan tapal batas Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Limapuluh Kota, tepatnya antara Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Nagari Situmbuak, Kecamatan Salimpauang, Kabupaten Tanahdatar, agaknya perlu disosialisasikan lagi. Pasalnya, masih ada warga yang belum tahu soal tapal batas tersebut, terutama soal wilayah administratif Water Park Pintu Angin.

Sebagian, masyarakat ada yang mengatakan jika objek wisata itu terletak di Tanahdatar dan juga ada yang menyebut terletak di Limapuluh Kota. ”Water Park Pintu Angin ini sebenarnya berada di Nagari Situmbuak, Kecamatan Salimpauang, Kabupaten Tanahdatar, buka berada di Wilayah Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota,” kata salah seorang warga setempat, Dedi yang menghubungi Padang Ekspres, Senin malam (9/11)

Menurutnya, wilayah yang saat ini menjadi objek wisata pemandian di ruas Jalan Tungkar-Simbatak perbatasan Limapuluh Kota dan Tanahdatar tersebut, awalnya merupakan tanah ulayat milik warga Situmbuak yang dibeli warga Tungkar di tahun 2018 silam. Artinya, persis di Water Park Pintu Angin secara administratif merupakan Nagari Sitimbuak, Kecamatan Salimpauang, Tanahdatar.

”Kita berharap informasi ini perlu diluruskan dan diklarifikasi melalui Padang Ekspres. Sebab, Water Park Pintu Angin itu berada di Situmbuak, Tanahdatar, bukan Limapuluh Kota,” ucap Dedi.

Dia juga mengaku, ruas jalan tidak bisa dijadikan patokan batas wilayah. Sebab, ada peta dan titik koordinat yang menunjukkan batas wilayah tersebut. Dedi juga menunjukkan foto gambar titik koordinat dan peta wilayah melalui pesan WhatsApp ke Padang Ekspres.

Sebaliknya, Wali Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Yusrizal Datuak Pado mengatakan, antara Situmbuak dengan Tungkar secara sosial budaya atau hubungan kekerabatan secara adat sangat dekat. ”Artinya setiap warga asli Tungkar pasti ada belahan kerabatnya secara adat di Tanahdatar. Begitu juga sebaliknya,” ucap Yusrizal Datuak Pado.

Namun secara historis menurutnya, Nagari Tungkar sebelumnya merupakan Tanahdatar. ”Tungkar baru resmi menjadi wilayah Limapuluh Kota sejak tahun 1959. Sebelumnya memang bagian dari Kabupaten Tanahdatar,” terang Yusrizal Datuak Pado, Senin malam.

Hanya saja soal keberadaan Water Park Pintu Angin, objek wisata pemandian yang saat ini tengah ramai dikunjungi, Yusrizal Datuak Pado menegaskan jika keberadaan objek tersebut terletak di Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.

Baca Juga:  Bukit Rimbo Piobang Harau Terbakar, Suhu Panas Landa Limapuluh Kota

”Ya, betul kawasan tempat Water Park Pintu Angin ini, berada di Nagari Tungkar. Dulu sudah ada penetapan tapal batas antara dua nagari. Batasnya berada sekitar 500 meter dari kawasan pemandian itu arah ke Pintu Angin,” terang Yusrizal Datuak Pado.

Camat Situjuah Limo Nagari, Rahmat Hidayat menyebutkan, objek wisata pemandian yang berada di perbatasan, Tanahdatar dan Kabupaten Limapuluh Kota, dalam hal pengurusan izinnya selama ini juga melalui Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.

”Hanya saja untuk melihat secara jelas, tentunya perlu pemeriksaan lebih jauh. Apakah objek yang dimaksud berada di wiliayah Tanahdatar atau Limapuluh Kota. Namun hingga saat ini, belum ada komplain secara resmi terhadap titik batas. Jika nantinya memang ada, kita tentu akan fasilitasi ke Pemkab Limapuluh Kota untuk diteruskan ke Pemerintah Provinsi Sumbar. Sebab ini merupakan batas antar Kabupaten,” ucap Rahmat Hidayat.

Kepala Tata Pemerintahan Umum Kabupaten Limapuluh Kota, Lina Medona menyebutkan, untuk batas antar Kabupaten Limapuluh Kota dengan Tanahdatar sudah ada kordinatnya. Hanya saja, untuk melihat secara jelas, perlu diteliti dan dilihat langsung ke lapangan sesuai titik koordinatnya.

Jika ada surat resmi untuk melihat titik tersebut, kita bisa memfasilitasi untuk meneruskannya ke Pemerintah Provinsi Sumbar. ”Saat ini belum ada surat resmi yang masuk permintaan untuk menentukan batas Limapuluh Kota dengan Tanahdatar,” ucap Lina Medona.

Sementara Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Limapuluh Kota, Ambardi menyebutkan, memang ada warga yang datang dan bertanya soal izin objek wisata tersebut yang ada di Kecamatan Situjuah Limo Nagari beberapa waktu lalu.

”Namun belum dilanjutkan proses izinnya karena kedatangannya baru sebatas konsultasi untuk pengurusan izin. Kita sudah sampaikan syarat-syarat yang harus dilengkapi warga tersebut. Hingga saat ini belum datang kembali untuk melanjutkan proses perizinannya,” terang Ambardi. (fdl)