OTG Meningkat, 2.089 Warga Limapuluh Kota Diawasi

Suasana Teleconference bupati dengan 13 Camat di Kabupaten Limapuluh Kota, di aula rumah dinas bupati Labuah Basilang (31/3).

Sejak lima warga Kabupaten Limapuluh Kota dinyatakan positif terinfeksi virus korona (Covid-19), jumlah warga kabupaten ini yang masuk dalam daftar Orang Tanpa Gejala (OTG) atau orang yang punya riwayat kontak dengan pasien positif Covid-19, juga meningkat. Bahkan, pada Selasa (12/5), jumlahnya sudah mencapai 102 orang.

“Iya, di luar lima pasien positif Covid-19, ada 102 warga Limapuluh Kota yang masuk daftar OTG atau punya riwayat kontak dengan pasien positif Covid-19. Terhadap, ke-102 OTG ini, selain sudah melakukan karantina atau isolasi, sebagian juga sudah diambil sampel lendir tenggorokannya oleh petugas kesehatan, untuk dilakukan pemeriksaan swab, guna memastikan, apakah mereka juga terinfeksi korona atau tidak,” kata Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi, Selasa (12/5).

Bupati kembali mengimbau masyarakat Limapuluh Kota agar tetap tenang, tidak panik, dan tetap berdoa kepada Allah. “Ini yang paling penting. Dalam kondisi pandemi korona di bulan puasa ini, kita tidak boleh jauh dari Allah. Walaupun tidak bisa melaksanakan ibadah berjamaah di masjid, tapi dari rumah masing-masing, kami imbau masyarakat untuk terus berdoa, agar pandemi korona ini segera berlalu,” kata Irfendi Arbi.

Menurut Bupati, Pemkab Limapuluh Kota bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTP2) Covid-19, termasuk jajaran Puskesmas dan kecamatan, terus melakukan pemantauan dan pengawasan. Bahkan, sampai Selasa (12/5), jumlah orang dalam pemantauan dan pengawasan ini, mencapai 2.089 warga.

Ketua Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) pada GTP2 Covid-19 Limapuluh Kota, Joni Amir menyebut, dari 2.089 warga yang dipantau dan diawasi tersebut, sebanyak 1.933 orang merupakan Pelaku Perjalanan Ternotifikasi (PPT) atau mereka yang baru melakukan perjalanan dari luar daerah terjangkit korona. Kemudian, sebanyak 35 orang merupakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan 14 Orang Dalam Pemantauan/Pengawasan (ODP).

“Selanjutnya, juga ada 102 Orang Tanpa Gejala dan lima orang positif Covid-19. Terhadap Orang Tanpa Gejala atau orang yang punya riwayat kontak dengan pasien positif Covid-19 ini, sebagian sudah dilakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan swab dan sudah menjalani isolasi, secara mandiri ataupun di tempat karantina yang disiapkan Pemprov Sumbar,” kata Joni Amir.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota ini menyebut, dari 102 OTG yang ada di Limapuluh Kota pada Selasa (12/5), sebanyak 19 orang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Pangkalan dan 15 orang dalam wilayah kerja Puskesmas Danguang-Danguang. Kemudian, 15 orang dalam wilayah kerja Puskesmas Koto Baru Simalanggang dan 9 orang di wilayah Puskesmas Piladang.

“Sisanya, tersebar pada wilayah kerja Puskesmas lainnya di Limapuluh Kota. Seperti, Puskesmas Tanjungpati (4 OTG), Puskesmas Taram (1 OTG), Puskesmas Padangkandi (4 OTG), Puskesmas Mungka (3 OTG), Puseksmas Suliki (5 OTG), Puskesmas Banjaloweh (2 OTG), Puskesmas Baruahgunuang (3 OTG), Puskesmas Kototinggu (2 OTG), Puskesmas Situjuah (4 OTG), Puskesmas Mungo (5 OTG), Puskemas Pakanrabaa (5 OTG), dan Puskesmas Batuhampar (5 OTG),” papar Joni Amir.

Dalam kesempatan itu, Joni Amir juga menyebutkan, bahwa GTP2 Covid-19 Kabupaten Limapuluh Kota bersama GTP2 Covid-19 Kecamatan dan GTP2 Nagari, semua itu saling berkoordinasi dalam melaksanakan tugas. Sesuai dengan tugas masing-masing.

“Kalau terjadi atau ada pasien positif, semua bergerak menangani, baik itu langsung maupun tidak langsung. Kemudian, ketika terjadi kontak erat anntara pasien positif Covid-19 dengan warga lainnya, maka terhadap warga yang masuk dalam OTG ini, langsung diisolasi mandiri dan diawasi oleh semua pihak. Baik itu keluarga, tetangga, jorong, nagari, sampai kecamatan, semua kita berhak untuk mengawasi,” kata Joni Amir.

Kemudian, menurut Joni Amir, ketika sudah ada warga Limapuluh Kota yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 dan dirujuk ke Rumah Sakit yang ditentukan, G2TP Covid-19 akan melakukan tracking atau penelusuran kepada keluarga dekat atau keluarga inti. Setelah itu, baru kepada mereka yang kontak dengan pasien, tetangga, dan tempat-tempat yang disinggahi. “Untuk ini, ada tiga protap penangannya, yakni protap A, B, dan C,” ujar Joni Amir.

Sementara, untuk pelaksanaan swab atau pengambilan sampel lendir tenggorokan untuk pemeriksaan swab, menurut Joni Amir, harus ditentukan lokasinya. Tidak bisa serta-merta dilakukan swab di sebuah titik atau ruang terbuka. Karena ini risikonya besar. Terutama, bila ada yang hasil pemeriksaan swabnya, kemudian dinyatakan positif Covid-19. “Pemahaman inilah yang perlu sama-sama kita pahami. Tidak ada keinginan pemerintah untuk mengabaikan hal tersebut, tapi ini untuk kebaikan masyarakat semua,” ujar Joni Amir. (frv)