Kinerja PT BPR LPN Padang Kuning, Kendalikan Biaya demi Sustainable Usaha

43

Relatif sulitnya pasar kredit sepanjang tahun 2021 membuat sejumlah BPR harus mencari cara untuk mempertahan sustainable usaha, termasuk PT BPR LPN Padang Kuning.

BPR yang terletak di kawasan kaki Gunung Sago ini di tahun buku 2021, lebih menitikberatkan pada efisiensi dan efektivitas demi menjaga sustainable usaha. Total Aset tercapai Rp 17,99 Miliar, realisasi kredit tercatat Rp 11,05 Miliar dan Dana Pihak Ketiga terhimpun sebanyak Rp 13,85 Miliar

Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk mempertahankan sustainable usaha. Satu di antara langkah itu adalah melakukan efisiensi dan pengendalian biaya. Langkah inilah yang dilakukan oleh PT BPR LPN Padang Kuning di tahun 2021. Ketika pasar kredit menyempit dan kredit bermasalah terus merangkak naik akibat deraan pandemic covid, manajemen terpaksa melakukan efisiensi termasuk memangkas biaya bunga dan biaya operasional.

“Secara kinerja kita memang bertumbuh melandai ditahun 2021 ini. Total aset tercapai Rp 17,99 Miliar, realisasi kredit tercatat sebanyak Rp 11,05 Miliar dan Dana Pihak Ketiga terhimpun sebanyak Rp 13,85 Miliar. Secara kinerja usaha, kita memang mengalami penurunan yang dikontribusi oleh faktor pasar. Kondisi inilah membuat manajemen melakukan upaya efisiensi demi menjaga sustainable usaha. Berbarapa biaya utama dicoba untuk dikelola. Baik biaya dana maupun biaya operasional. Harapan kita perlambatan usaha diiringi dengan pengendalian biaya mampu menjaga sustainable usaha,” ujar Direktur Utama PT BPR LPN Padang Kuning Dedviandri, didampingi direktur Devi Mesra.

Menurut Dedviandri ada banyak hal memicu terjadi perlambatan usaha sepanjang tahun 2021 ini. Satu di antara kendala utama adalah menyempit dan sulitnya pasar kredit. Ini tak terlepas dari banyaknya nasabah PT BPR LPN Padang Kuning yang masih dalam bilik relaksasi. Selain itu, tak kunjung pulih nyo ekonomi membuat permintaan kredit juga terseret turun.

Aset, Dana dan Biaya

Secara kinerja aset PT BPR LPN Padang Kuning tahun buku 2021 masih bertumbuh. Total aset tercapai sebanyak Rp 17,99 Miliar. Pertumbuhan usaha lebih dikontribusi oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga. Total Dana Pihak Ketiga sepanjang tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 13,85 Miliar.

Dari dua produk penghimpun dana, produk tabungan lebih mendominasi. Total dana tabungan yang mampu dihimpun selama tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 11,88 Miliar. Sementara dana deposito tercapai sebanyak Rp 1,97 Miliar

“Kita memang lebih menumpukan dana pada dana tabungan. Tujuan kita sederhana saja, dana tabungan rate-nya lebih kompetitif dan memudahkan kita dalam memasarkan kredit disaat sulit. Kalau dipersentasekan dari Rp 13,85 Miliar total Dana Pihak Ketiga maka 85,77 persennya bersumber dari dana tabungan,” ujar Dedviandri

Sementara dari sisi biaya kinerja PT BPR LPN Padang Kuning relatif lebih baik dibandingkan tahun kemarin. Sejumlah biaya utama berhasil dipangkas termasuk biaya dana dan biaya operasional.

Hingga per 31 Desember 2021 tahun 2021 total biaya bunga yang mesti dipikul PT BPR LPN padang kuning tercatat sebanyak Rp 347 juta. Realisasi biaya dana ini mengalami penurunan secara year on year.

Begitu juga dengan biaya operasional. Total biaya operasional yang mesti dibayarkan oleh manajemen PT BPR LPN padang kuning tercatat sebanyak Rp2,28 Miliar. Realisasi biaya operasional ini juga menurun dibandingkan biaya operasional tahun 2020 yang lalu dengan realisasi sebesar Rp 2,35 Miliar.

Kredit dan Kualitas Aktiva produktif

Melambatnya serapan kredit merupakan kendala utama yang mendera PT BPR LPN Padang Kuning di tahun 2021. Hingga per 31 Desember 2021 tercatat total kredit yang disalurkan sebanyak Rp 11,05 Miliar.

“Tahun 2022 ekspansi kredit mutlak harus dilakukan. Ini juga sudah kita tuangkan dalam rencana bisnis bank tahun 2022,” ujar Dedviandri.

Selain mutlak harus melakukan ekspansi kredit, peningkatan kualitas aktiva juga harus dilakukan. Terutama memaksimalkan kualitas kredit.

“Kita tagerkan tahun 2022 ini ratio Non Performance Loan berada di bawah 5 persen. Semoga saja ini bisa direalisasikan bersama sama team work,” ucap Dedviandri.

Di samping memacu kredit dan menekan kredit bermasalah hingga berada di bawah 5 persen, pengendalian biaya tetap mesti dilakukan. Pasalnya, realisasi Biaya Operasional berbanding Pendapatan Operasional harus terus ditekan.

“Tahun 2022 ini realisasi ratio Biaya Operasional berbanding Pendapatan Operasional (BOPO) mesti diturunkan hingga di bawah angka 90 persen dan secara bertahan di tahun berikutnya berada di bawah angka 90 persen,” ujar Dedviandri. (two)