Layanan RSUD Achmad Darwis Suliki Tutup Total

(ist) DITUTUP: RSUD Achmad Darwis terpaksa harus menutup layanan medis setelah melonjaknya kasus Covid-19 di Limapuluh Kota. (net)

Pelayanan kesehatan di Kabupaten Limapuluh Kota terancam lumpuh akibat serangan Covid-19. Ancaman ini semakin nyata, manakala layanan Poliklinik di RSUD dr Achmad Darwis Suliki, ditutup sejak Rabu (26/8).

Sehari sebelumnya atau Selasa (25/8), layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit pelat merah ini sudah ditutup. Dengan demikian, layanan RSUC Achmad Darwis Suliki, betul-betul tutup total. Begitupula dengan pelayanan Puskesmas Situjuah dan Puskesmas Piladang, juga masih tutup.

“Pelayanan yang tinggal di RSUD Achmad Darwis Suliki, cuma untuk pasien rawat inap yang sudah ada di Poliklinik. Kalau pasien yang baru datang, diarahkan ke Puskesmas rawatan atau Rumah Sakit lain yang terdekat. Kondisi ini terpaksa dilakukan untuk sementara, karena penyebaran Covid-19 di Limapuluh Kota semakin meningkat,” kata Juru Bicara Satgas Pencegahan Covid-19 Limapuluh Kota, Fery Chofa, saat dihubungi Padang Ekspres, Rabu malam (26/8).

Fery Chofa menyebutkan, meningkatnya penyebaran Covid-19 di Limapuluh Kota, ditandai dengan terus terjadinya penambahan kasus terkonfirmasi positif. Khusus pada Rabu (26/8), tercatat ada dua dokter di RSUD Achmad Darwis Suliki yang terkonfirmasi positif Covid-19. Bersama dua dokter itu, ajudan Wakil Wali Kota Payakumbuh berinsial ALT yang tinggal di Jorong Purwajaya, Harau, Limapuluh Kota, juga dinyatakan positif Covid-19.

“Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Limapuluh Kota, sejak dari awal sampai Rabu malam (26/8), sudah menjadi 31 kasus. Dengan rincian, 1 kasus meninggal dunia. Kemudian, 15 kasus atau 15 orang sembuh dan 15 orang lagi masih menjalani perawatan atau isolasi, baik di rumah sakit, balai diklat, maupun secara mandiri,” kata Fery Chofa.

Terkait dengan proses perawatan atau isolasi ini, Satgas Pencegahan Covid-19 Limapuluh Kota juga dihadapkan pada tantangan besar. Tantangan itu terjadi karena kasus positif Covid-19 pada daerah lain di Sumbar juga meningkat. Sementara, tempat perawatan dan isolasi yang ada di Sumbar, hampir semuanya sudah penuh total.

Untuk menghadapi tantangan ini, Satgas Pencegahan Covid-19 Limapuluh Kota, kemarin siang, kembali menggelar rapat. Dalam rapat yang dipimpin Sekkab Widya Putra, dengan peserta rapat, Plt Asisten III Jonianto, Kalaksa BPBD Joni Amir, Kadiskes dr Tien Septino, Kadis Kominfo Fery Chofa, Kadisdik Indrawati Munir, serta sejumlah pejabat Inspektorat, Diskes, dan BPBD ini, turut dibahas persoalan tempat karantina atau perawatan bagi pasien positif Covid-19, dalam upaya antisipasi terjadinya penambahan kasus beberapa hari ke depan.

Baca Juga:  Berbulan-bulan, 7 Jabatan Di-Plt-kan

“Kalau masih terjadi lonjakan kasus dalam beberapa hari ke depan, sementara Balai Karantina yang ada di Sumbar penuh sesak, maka solusi atau alternatif yang sedang disiapkan Pemkab Limapuluh Kota adalah menyewa beberapa penginapan untuk tenaga medis. Ini, dulu sudah ada penjajakan dari BPBD,” kata Ferry Chofa.

Selain itu, alternatif lain yang juga sedang disiapkan Satgas Pencegahan Covid-19 Limapuluh adalah isolasi secara mandiri terhadap pasien positif Covid-19. Tapi, pasien tersebut wajib menggunakan aplikasi digital peduli lindungi diri yang disiapkan Diskominfo.

“Dengan aplikasi ini, kita bisa memantau keberadaan pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi secara mandiri, sepanjang pasien tersebut jujur dengan keberadaan dirinya atau selalu membawa handphone. Kalau pasiennya berjalan-jalan dan handphone ditinggal di rumah, ya tentu juga tidak efektif aplikasi ini,” kata Ferry Chofa.

Lantas, bagaimana pula dengan kondisi swab massal yang digelar Satgas Pencegahan Covid-19 Limapuluh Kota di Nagari Taehbaruah pada Rabu siang (26/8)? Apakah masyarakat Taehbaruah yang membuka paksa peti mati, memandikan, mengafani, dan menguburkan pasien positif Covid-19 pada Senin malam (24/8) tanpa memakai Alat Pelindung Diri (APD), sudah melakukan tes swab demi keamanan bersama?

Menurut Ferry Chofa, kondisi yang terjadi, memang masih dilematis. Dari laporan yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan dr Tien Septino, masyarakat di Jorong Padang Parik Panjang, Nagari Taehbaruah yang bersedia mengikuti tes swab massal pada Rabu siang (26/8), baru tujuh orang. Untuk itu, direncanakan Kamis (27/8), akan kembali dilakukan swab massal, dengan melibatkan unsur Satgas Pencegahan Covid-19 lainnya, tidak hanya dari jajaran Diskes, BPBD dan Satpol PP, namun juga melibatkan peran serta TNI, Polri, dan tokoh-tokoh masyarakat Nagari Taehbaruah. (frv)