Olly Wijaya Kembali Pimpin Nagari Sarilamak, IKK dan Nagari Bisa Sejalan!

14

Berada di jalur lintas penghubung Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau, Nagari Sarilamak merupakan nagari dengan jumlah penduduk cukup tinggi dibandingkan nagari lainnya di Kabupaten Limapuluh Kota.

Sedikitnya, 15 ribu jiwa bermukim di nagari yang juga menjadi kawasan strategis Ibu Kota Kabupaten (IKK) Limapuluh Kota itu. Apa komitmen Wali Nagari terpilih, Olly Wijaya melanjutkan kepemimpinannya ?

BERPENDUDUK heterogen, Nagari Sarilamak memiliki persoalan yang beragam, karena beragam etnis hidup berdampingan di nagari tempat pusat perkantoran Kabupaten Limapuluh Kota tersebut.

Kondisi inilah yang akan dihadapi Olly Wijaya, tokoh muda yang sebelumnya juga menjadi wali nagari, kini kembali dipercaya masyarakat memimpin nagari tersebut.

”Alhamdulillah atas kepercayaan dan amanah dari masyarakat, semoga kita diberi kekuatan untuk bersama-sama membangun Nagari Sarilamak menjadi lebih baik. Jika periode sebelumnya arah pembangunan difokuskan pada peletakkan pondasi pembangunan dalam bentuk pengaturan fungsi kawasan, maka ke depan tentu perlu dilanjutkan menjadi pembangunan yang utuh dan bermanfaat untuk masyarakat banyak,” ucap Olly Wijaya, Selasa (26/7).

Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan nagari, namun Sarilamak juga pusat pemerintahan kabupaten yang notabenenya adalah pusat pelayanan publik. Kebutuhan infrastruktur dasar dan lanjutan tentu sangat dibutuhkan oleh Nagari Sarilamak dalam menjalankan dua fungsinya tersebut.

Ditambah dengan pengelolaan kesejahteraan masyarakat baik dari bidang ekonomi, sosial budaya dan agama serta pencegahan dan penanggulangan bencana, sebagai tugas yang tak bisa lepas dari tugas pemerintahan nagari.

Lantas, apa yang akan dibangun Olly Wijaya ke depan? Menurut Olly, sisi infrastruktur dasar, seperti jalan, jembatan, drainase dan saluran irigasi masih sangat dibutuhkan oleh Nagari Sarilamak.

Berada diantara dua sungai besar, Batang Harau dan Batang Sanipan, potensi kebencanaan terutama bencana banjir selalu menghantui Nagari Sarilamak dari tahun ke tahun. Kondisi ini kerap berdampak bagi Jorong Air Putih dan Jorong Purwajaya.

Menjadi daerah yang rawan direndam banjir, namun sistem drainase yang belum terintegrasi dan dalam kondisi yang kurang besar dari sisi penampungan debet air. Sehingga menjadikan dua jorong tersebut selalu menghadapi bencana banjir terutama pada waktu-waktu yang memiliki tingkat curah hujan yang cukup tinggi.

Genangan air membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyerap dan mengalirkan air akibat hujan tersebut ke dua sungai besar yang ada di Nagari Sarilamak.

Baca Juga:  Mengintip SMK Negeri di Sudut Kabupaten Limapuluh Kota, Prestasi Nasional!

“Selain itu, keberadaan jalan lingkung yang berkualitas sekaligus penerangan jalan umum masih sangat dibutuhkan. Hampir 40 persen dari jalan lingkung yang ada di Nagari Sarilamak belum dirabat beton dan lebih dari 80 persen dari jalan tersebut belum memiliki penerangan jalan umum,” sebut wali nagari di pusat Ibu Kota Kabupaten tersebut.

Sementara dari kualitas jembatan, hampir 70 persen jumlah jembatan yang ada di Nagari Sarilamak masih berupa jembatan kayu. Sehingga belum bisa dilalui oleh jenis kendaraan niaga berskala besar yang dimiliki oleh masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian yang mereka miliki ke pasar-pasar tujuan. Akibatnya, memperbesar biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk mengangkut hasil panennya.

Belum lagi dari sisi saluran irigasi, kata wali nagari pilihan rakyat ini, kondisi irigasi tersier yang ada di Nagari Sarilamak dengan status kategori baik semakin menurun baik dari sisi jumlah maupun dari sisi kualitas.

“Sehingga debit air yang dialirkan tidak optimal untuk mendukung dan memenuhi kebutuhan untuk lahan pertanian masyarakat,” ucap tokoh visioner Limapuluh Kota ini lagi.

Selanjutnya Olly menyampaikan dari sisi ekonomi, kebutuhan pusat-pusat ekonomi seperti pasar nagari yang representatif juga sangat tinggi. Jika dilihat dari jumlah pedagang dan masyarakat yang berbelanja di pasar Nagari Sarilamak.

Sehingga tidak jarang pada hari-hari pasar banyak pedagang yang tidak mendapatkan tempat sehingga harus berjualan di bahu jalan yang sejatinya diperuntukkan untuk parkir pengunjung terutama untuk kendaraan roda dua.

”Kesemrawutan ini tentu akan mengakibatkan munculnya ketidaknyamanan baik bagi pedagang maupun bagi masyarakat yang akan berbelanja. Ini menjadi tugas kita untuk bisa memperjuangkannya bersama Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota ke pemerintahan yang lebih tinggi,” tekad Olly Wijaya.

Lebih jauh disampaikan Olly Wijaya, dari sisi pelayanan pemerintahan, Nagari Sarilamak membutuhkan kantor wali nagari yang representatif dan didukung sarana digitalisasi pelayanan publik juga sangat mendesak bagi Saramak saat ini.

Jumlah penduduk yang lebih dari 15 ribu jiwa maka tingkat pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintahan nagari juga akan sangat tinggi. Sementara kondisi kantor wali nagari saat ini sudah sangat sesak sehingga tentu kenyamanan dan kecepatan pelayanan pun akan terganggu. (***)