Atasi Karhutla di Mentawai, 12 Embung Dibangun Tahun Ini

37
ANTISIPASI: Sekkab Kepulauan Mentawai, Martinus Dahlan (dua dari kiri) saat mengunjungi lokasi pembangunan embung di Pokai, Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara beberapa waktu lalu.(IST)

Sebanyak 12 titik embung akan dibangun tahun ini untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kepulauan Mentawai. Total alokasi pembangunan kolam embung yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBHDR) ini mencapai Rp 29 miliar.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Mentawai, Novriadi, Kamis, (3/2) di ruangan kerjanya mengatakan, salah satu pemanfaatan DBHDR yakni, menyediakan kantong-kantong air atau kanal.

Nah, karena untuk Mentawai tidak ada sungai yang besar atau aliran airnya yang deras, maka solusinya dibangun embung atau kolam kecil.

“Selama ini, dana ini belum termanfaatkan sama sekali karena terkendala dengan regulasi pemanfaatan. Lalu, kenapa anggarannya di BPBD, karena karhutla jelas merupakan bencana. Nah, sekarang aturannya sudah lebih fleksibel,” ungkapnya.

Menurut dia, untuk perencanaan dan studi kelayakan telah dimulai awal September 2021. Dari identifikasi awal ada 25 titik kawasan embung. Namun, mengerucut menjadi 12 titik. Di antaranya, 4 titik di Pulau Siberut, 5 titik di Pulau Sipora dan 3 titik di Pulau Sikakap, Pagai Utara-Selatan.

Selain mendukung penangan karhutla, pembangunan embung ini juga memiliki manfaat lebih. Di mana, konsep pembangunan embung tidak hanya sebagai cadangan air, tetapi juga memiliki konsep pariwisata.

Baca Juga:  Lima Dari 12 Embung Ditender, Pembangunan Dimulai Tahun Ini

Dari 12 titik embung yang akan dibangun 4 titik embung yang besar akan dibangun dengan konsep pariwisata, seperti kawasan hijau dan gazebo. Untuk pengelolaanya, setelah embung selesai akan diserahkan kembali ke pemerintah desa.

Selain sebagai cadangan air bersih, kawasan embung yang dibangun dengan konsep pariwisata bisa menjadi restribusi bagi desa setempat jika dikelola dengan baik.

Saat ini, kata dia, pihaknya tengah mempersiapkan dokumen lelang atau tender. Dimana, nantinya, kata dia, paling lambat pada bulan April 2022 sudah masuk proses tender dan pada bulan Mei 2022 sudah bisa penandatanganan kontrak.

Untuk lokasi pembangunan embung sendiri, sebagian merupakan lahan milik pemerintah atau fasilitas umum dan sebagian lainnya hibah dari masyarakat.

“Secara aturan, untuk konsep pembangunan embung ukuran kecil yakni, dengan lebar 20 meter x 20 meter dan kedalaman minimal 2 meter dengan menampung air 800 kubik,” ujarnya.

Saat ini, kata ada sejumlah embung yang memang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih atau air minum, seperti di Peigu, desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan. Sekarang, kata dia, tinggal lagi peningkatan kolam embung tersebut, agar pemanfaatannya lebih maksimal.(rif)