Siswa Siberut Selatan Kesulitan Belajar Daring

27
Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. (foto: dok.padek)

Keadaan pendidikan di Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai masih jauh dari harapan yang ditargetkan dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Keterbatasan teknologi dan akses internet menjadi masalah utama di daerah itu. Siswa tidak mengetahui tugas diberikan para guru selama tiga bulan pandemi Covid-19.

“Dalam pandemi Covid-19 sudah hampir tiga bulan semua siswa belum diizinkan untuk masuk sekolah. Semua siswa dianjurkan untuk belajar melalui sistem daring. Tentunya miris bagi di daerah pedalaman dan kepulauan. Kami sudah rapat dengan para guru dan kepala sekolah di sini. Kendalanya memang daerah di sini tidak memiliki jaringan internet. Kita harus carikan solusinya segera agar cepat berkembang,” kata Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit saat mengunjungi beberapa sekolah SMA dan SMK di Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Selasa (2/6).

Bahkan katanya, tidak semua guru dan siswa memiliki ponsel pintar dan tersentuh jaringan internet, khususnya yang berada di desa terpencil kepulauan. Tentunya hal tersebut membuat kegiatan belajar mengajar dari rumah tak bisa berjalan efektif. “Setelah dilakukan evaluasi metode pembelajaran daring, di Siberut yang bisa mengikuti metode itu hanya 10 persen. Berarti ini belum optimal dan tidak efesien,” tuturnya.

Terkait permasalahan tersebut Kepala SMAN 1 Siberut Selatan Kristin Filiana Br Maringga mengungkapkan sejak adanya pandemi, Pemkab Mentawai meliburkan semua siswa. ”Kami khawatir, kalau terlalu lama libur, banyak pelajaran bisa tertinggal. Ditambah kendalanya siswa di sini tidak bisa melakukan pendidikan melalui daring karena daerah sini tidak mencukupi jaringan internet dan tidak semua siswa memiliki HP,” jelas Kristin.

Kristin juga menyampaikan, untuk aset komputer di SMAN 1 Siberut termasuk cukup memenuhi, hanya tidak dilengkapi jaringan Wifi. Ia berharap Pemprov Sumbar bisa memfasilitasi hal tersebut untuk kemajuan pendidikan di Mentawai. “Kami berharap Pemprov Sumbar bisa memperhatikan kebutuhan pendidikan di sini. Termasuk bantuan transportasi bagi guru yang tergolong mahal,” ungkapnya.

Kepala SMKN 2 Siberut Selatan Amati Telaumbanua menyampaikan akses jalan menuju ke sekolah hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Jalan pun memiliki tanjakan-tanjakan yang tinggi. “Kalau bisa jalan ini diperlebar dan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat,” harap Amati.

Keterbatasan fasilitas internet juga dirasakan belasan siswa di SMKN 2 Siberut Selatan. Sulitnya mengakses internet, membuat mereka berbondong-bondong untuk pulang kampung. Karena pada umumnya di daerah Siberut, pelajar  SMA dan SMK adalah berasal dari pulau-pulau kecil. (wni)