Gunakan Bahan Peledak, 7 Nelayan Diamankan

Kapal Nelayan KM Kasih Sayang diamankan Satpolair Polres Mentawai sudah dibawa ke Dermaga Tuapejat, Kamis (4/2). (IST)

Menangkap ikan menggunakan bahan peledak, tujuh orang nelayan asal Sibolga, Sumatera Utara diamankan Polres Mentawai, Kamis (4/2). Kini, awak kapal KM. Kasih Sayang itu yakni, EP, 37 sebagai nakhoda dan AG, 29 FL, 19, RHLT, 34, S, 29, TS, 29, dan RDA, 39, harus mendekam di sel Mapolres Kepulauan Mentawai guna mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Informasi dihimpun Padang Ekspres, penangkapan tersebut, berawal dari patroli rutin digelar Satpolair Kepulauan Mentawai. Tim patroli menemukan satu unit kapal nelayan KM Kasih Sayang di perairan Rua Mata, Desa Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan menangkap ikan menggunakan bahan peledak berupa potasium dan mesiu yang dimasukkan ke dalam botol dan diberi sumbu.

“Setelah dilakukukan pemeriksaan, Satpolair bekerja sama dengan Satreskrim mengamankan ketujuh awak kapal beserta kapal ke dermaga Tuapejat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan juga ditemukan bahan peledak di dalam 1 botol merek minuman M150 yang siap untuk digunakan,” ungkap Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Muat didampingi Kasat Reskrim Iptu Irmon.

Selain itu, di dalam kapal juga ditemukan 39 botol kosong yang diduga juga sebagai perangkat peledak, 68 Hio sebagai sumbu bakar, 2 buah drum, dan 2 unit mesin kompresor dan 3 dakor selam. Kemudian, juga didapati satu unit fiber tempat pengawet ikan dan sejumlah ikan dengan berat 1,5 ton yang sudah dijual di TPI Tuapejat.

Baca Juga:  Dengan Metodologi Mikroba, Produksi Padi di Tanah Gambut Meningkat

Menurut Kapolres, pihaknya akan melakukan pengembangan penyelidikan terkait kepemilikan bahan peledak tersebut. Penangkapan ikan dengan cara melakukan pengeboman tidak saja merusak karang, namun, juga biota bawah laut. “Kalau perlu, kita bongkar sampai ke akar-akarnya, termasuk pemilik kapal dan pengusahanya. Ini tidak saja merusak ekosistem laut Mentawai, tapi juga mengganggu pariwisatanya,” katanya.

Untuk itu, dia berharap, perlunya peran serta stakeholder dalam hal kerjasama pengawasan laut Mentawai tersebut. Apabila masyarakat mendapati ada nelayan yang menangkap ikan dengan cara merusak, diharapkan untuk melaporkan ke polres Mentawai.
Pihaknya terus memaksimalkan pengawasan perairan laut Mentawai melalui Satpolair.

Meski diakuinya, keberadaan Satpolair belum optimal, karena keterbatasan armada.
Saat ini, para pelaku dijerat dengan pasal 84 ayat 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 atas perubahan Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahu penjara. (rif)