Baru Mencapai 17,9 Persen, Pengerjaan Bandara Rokot Terkendala Cuaca

57
PENGERUKAN: Sejumlah perkerja pembangunan Bandara Rokot Mentawai tengah mengeluarkan air dari kerukan pembangunan.(ARIF/PADEK)

Pengerjaan pengerukan dan penimbunan landasan pacu yang baru Bandara Rokot sepanjang 1.500 meter x 30 meter sesuai masterplan, baru mencapai 17,9 persen. Tahun ini pekerjaan tersebut ditarget mencapai 40 persen.

Hal itu diakui oleh Bambang selaku Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK) Bandara Rokot, kemarin (9/8). Dia mengatakan, pengerjaan pengerukan dan penimbunan sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Begitu juga dalam pendistribusian material tanah timbunan yang didatangkan dari luar Mentawai.

“Kendala kita memang sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Apalagi, kondisi landasan pacu berada pada tanah gambut. Jadi, mesti dilakukan pengerukan yang cukup dalam. Kedalaman pengerukan bisa mencapai 2,5 meter bahkan lebih. Pada saat hujan tidak juga tidak ada masalah, karena rekanan memiliki 3 unit pompa air,” katanya.

Setelah dilakukan pengerukan, barulah dilakukan penimbunan. Menurut dia, untuk proses pengerukan sendiri menggunakan alat berat ekskavator dengan pengaturan kerja 24 jam atau siang malam. Namun, hal itu juga tergantung dengan kondisi cuaca dan ketersediaan bahan bakar solar yang didatangkan dari Padang.

Selain itu, kata dia, faktor hujan juga cukup menghambat dalam pendistribusian tanah timbunan yang didatangkan menggunakan kapal ponton. Namun, kata dia, ada sedikit kemudahan dari sisi pendistribusian material, karena pihaknya telah membangun dermaga darurat yang berada dekat teluk Bandara Rokot.

“Ketika kapal bersandar, material langsung bisa kita tumpuk di sekitar kawasan bandara. Penumpukan material ini, tidak mengganggu aktivitas penerbangan layanan penerbangan pesawat. Karena berada cukup jauh dari landasan pacu yang lama,” katanya.

Baca Juga:  Tumpah Ruah! Perayaan HUT RI di Mentawai Meriah

Ke depan, kata dia, bagaimana akses listrik bisa masuk ke kawasan tersebut secara representatif. Karena PLN tidak bisa melakukan pemasangan tiang listrik dekat kawasan bandara. Solusinya, jalur kabel listrik mesti dilakukan dengan cara ditanam ke area bandara dan harus satu trafo.

“Sekarang, pemasangan jalur listrik dilakukan seadanya saja. Yakni, dengan digantung pada jalur pagar bandara. Paling tidak, kita butuh listrik dengan kapasitas 250 KVA untuk operasional bandara,” katanya.

Dia juga menyebutkan, untuk tahun 2022 mendatang, baru akan dilanjutkan pembangunan konstruksi dan pengaspalan landasan pacu pesawat. Saat ini, pihaknya masih terkendala untuk penambahan luas bandara lebih kurang 4,7 hektare. Lahan yang baru disetujui baru seluas 0,5 hektare.

“Saat ini, luas lahan bandara yang sudah dibebaskan oleh pemerintah mencapai 42 hektare. Namun, untuk penambahan lebih kurang 4,7 hektare ini, kita sudah sampaikan kepada pemerintah dan sosialisasi juga kepada masyarakat. Kami rasa, tidak ada kendala berarti,” ujarnya.

Femen, 45, warga yang memiliki tanah dekat Bandara Rokot mengatakan, pihaknya tidak setuju jika harga jual tanah per meter Rp 5.000. Jika pihak bandara menginginkan untuk penambahan luas bandara, minimal harga tanah per meter Rp 50.000.

”Kami siap menyerahkan tanah kepada bandara, jika harga sesuai. Minimal per meter Rp 50.000. Kalau tidak, kami tidak akan menyerahkan lokasi kami. Biarlah, kami buat ladang atau pun kafe di sekitaran bandara ini,” ungkapnya. (rif)