Pasokan dari Padang Terbatas, Kepulauan Mentawai Butuh Agen Resmi Elpiji

Pengangkutan elpiji di Pelabuhan Tuapejat Mentawai beberapa waktu lalu. (foto: Arif

Kabupaten Kepulauan Mentawai membutuhkan adanya pengusaha yang memiliki modal kuat untuk menjadi agen resmi penyediaan elpiji 12 kilogram. Pasalnya, pasokan yang didistribusikan dari Kota Padang selama ini belum sesuai dengan kebutuhan.

Pasokan terbatas membuat harga jual di pasaran kadang mengalami lonjakan. Pada Maret lalu, misalnya harga jual elpiji 12 kg mencapai Rp 270 ribu per tabung. Sementara elpiji subsidi berat 3 kg belum ada.

Kepala bidang Perdagangan Dinas Koperindag Mentawai, Ananias menyebutkan hingga saat ini belum ada agen resmi penyalur gas 12 kilogram khusus wilayah Mentawai.

Kondisi tersebut membuat terbatasnya jumlah kuota gas saat yang didistribusikan dari Padang pendistribusian, dan tidak bisa melakukan penambahan.

“Gas 12 kg hanya boleh dibawa setiap kali kapal masuk sebanyak 60 tabung oleh otoritas pelabuhan di Padang untuk dibawa ke Mentawai karena alasan keselamatan. Sementara permintaan gas banyak,” ungkapnya.

Menurut dia, agen resmi elpiji yang ingin buka distribusi di Mentawai mesti ada kontrak kerja sama dengan Pertamina. Selain itu, harus memiliki alat pengangkut atau kapal khusus elpiji dengan kuota yang disepakati antara Pertamina dengan pelaku usaha tersebut.

“Nah, saat ini, gas yang beredar dan dibeli oleh pedagang besar di Tuapejat, merupakan gas yang dibeli dari agen resmi di Padang. Tentu dengan jumlah yang terbatas karena mereka tidak punya alat pengangkutan khusus,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah daerah tidak bisa mengintervensi atau minta tambahan dalam hal pengangkutan elpiji 12 kilogram itu ke Mentawai karena non-subsidi. Hal itu, kata dia, mutlak kewenangan Pertamina dan pengusaha.

Saat ini, pihaknya menunggu pelaku usaha yang mau untuk berinvestasi menjadi agen resmi di Mentawai.

“Nilai investasinya besar sehingga tergantung pelaku usaha untuk menghitung untung-ruginya dengan kuota yang ditentukan. Mudah-mudahan ada pelaku usaha yang mau berinvestai menjadi penyalur gas elpiji 12 kg di wilayah Mentawai ini,” ungkapnya.

Anggota DPRD Mentawai Ibrani Sababalat, yang dihubungi wartawan, kemarin (14/4), mengakui, bahwa memang belum ada kuota elpiji 12 kg untuk Mentawai.

Dia mengatakan, hal itu disebabkan belum ada pengusaha yang mau membantu ketersediaan elpiji di Mentawai.

“Sampai saat ini kita masih pakai kuota elpiji dari Padang. Walaupun begitu, kita sudah mendorong pemerintah dan pihak ketiga sebagai pelaku usaha untuk mempercepat tindak lanjut surat bupati yang ditanda tangani oleh Dinas Koperindag,” ungkap Ketua DPC PDI-Perjuangan Mentawai itu.

Menurutnya memang butuh proses waktu cukup lama dan perlu pertimbangan matang bagi pengusaha untuk menjadi agen resmi elpiji di Mentawai. Pasalnya, ongkos angkut dan investasinya cukup besar.

“Ia berharap ada subsidi biaya angkut misalnya dari pemerintah bagi pelaku usaha yang mau menjadi agen resmi elpiji di Mentawai. Kita siap mendukung para pengusaha tersebut. Apalagi, elpiji sudah menjadi kebutuhan kita semua,” katanya.(arf)