Targetkan Pinang Produk Unggulan

Ilustrasi.(NET)

Komoditi pinang ditargetkan menjadi komoditi unggulan di Desa Sirilogui, Kecamatan Siberut Utara. Nantinya sistem pertaniannya akan dilakukan secara berkelompok dan dibantu oleh pemerintah desa setempat.

Kepala Desa Sirilogui, Herlin Roiko kepada wartawan, kemarin (14/9) mengatakan, komoditi pinang sangat subur di wilayah perbukitan Desa Sirilogui. Saat ini, kata dia, lebih kurang 50 hektare lahan disiapkan okeh kelompok masyarakat untuk penanaman komoditi pinang tersebut.

“Saat ini, ada 5 kelompok petani yang akan siap dibantu pengadaan bibit pinangnya oleh desa Sirilogui. Tidak sampai di situ saja, desa juga akan ikut membantu hingga petani bisa memasarkan hasil komoditinya,” ungkapnya.

Selain berumur panjang, kelebihan komoditi pinang sendiri, yakni terus berbuah atau bukan komoditi musiman. Untuk menyiasati dan menunggu komoditi pinang berbuah, petani juga menjadikan cengkeh dan kelapa sebagai penghasilan tambahan.

Menurut dia, program tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat. Bahkan, sejumlah masyarakat petani yang belum bisa mendapat bantuan bibit pinang dari desa, berupaya membentuk kelompok dan mencari bibit secara swadaya.

Baca Juga:  Masih Ada Pelaku Usaha Akomodasi di Mentawai Klaim Ombak

“Sekarang ini, baru bisa kita alokasi pengadaan bibit untuk 5 kelompok tersebut. Kita berharap, 5 kelompok yang sudah berhasil nantinya, bisa membantu kelompok lainnya,” ujarnya.

Untuk saat ini, harga komoditi pinang di wilayah Sirilogui mencapai Rp 17 ribu per kilogram. Namun, untuk di daerah Pokai atau pusat ibukota Kecamatan Siberut Utara harga komoditi pinang mencapai Rp 21 ribu per kilogram.

Selain itu, kata dia, masyarakat petani Desa Sirilogui akan kembali menggalakkan penanaman padi sawah. Program membuka lokasi sawah baru ini akan diadakan di tiga lokasi di wilayah tersebut. Diharapkan, nantinya, minimal warga dapat mengkonsumsi hasil pertaniannya, tanpa harus membeli atau mendatangkan dari luar.

“Dulu sekitar tahun 1900-an masyarakat Sirilogui merupakan masyarakat petani sawah. Namun, karena masuknya komoditi kakau, petani mengalihkan sawahnya ke tanaman tersebut. Lalu, karena komoditi kakau juga sering diserang hama, masyarakat akhirnya kembali menanam kelapa. Nah, lokasi inilah yang kita galakkan kembali untuk lokasi persawahan,” pungkasnya.(rif)