Masjid Nurul Yakin Matobe, Bangunan Belum Pernah Tersentuh Renovasi

12
Masjid Nurul Yakin di Desa Matobe, Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai sudah banyak yang rusak. (IST)

Setelah Masjid Nurul Iman di Sioban dan Masjid Al-Amin di Tuapejat, sejarah perkembangan agama Islam di Pulau Sipora juga tidak terlepas dari Masjid Nurul Yakin di Desa Matobe.

Masjid ini satu-satunya pusat agama Islam di Sipora yang didominasi masyarakat pribumi yang beralih dari kepercayaan aratsabulungaan (animisme) menjadi pemeluk mayoritas muslim.

Memang, kini kondisi masjid berukuran 10 meter x 10 meter di samping muara sungai di Desa Matobe tersebut, hampir bisa dikatakan minim sentuhan pembangunan. Hanya tonggak tua Masjid berasal dari kayu Jojoinang (nama kayu bahasa Mentawai, red) berdiri kokoh, pertanda aktivitas umat masih terus berjalan di sana.

Bagian belakang mihrab masjid juga berdiri bangunan TK Yayasan Bhakti yang juga sudah tidak terawat. Atap bangunan yang dibangun sejak tahun 1990 tersebut, juga sudah banyak yang lepas dan keropos

Syamsudin, 60, salah seorang tokoh masyarakat muslim Desa Matobe, Sipora Selatan kepada wartawan menuturkan bahwa perkembangan agama Islam kedua setelah Sioban, adalah di Desa Matobe.

Waktu itu, dibawa pedagang beragama muslim yang berasal dari Nias dan Pariaman. Kemudian, mulai berkembang sejak tahun 1954. Kondisi geografis daerah Matobe yang berada di tengah-tengah Pulau Sipora, kata dia, cukup menguntungkan.

Di mana, lalu lintas pedagang untuk menuju Matobe mesti melewati muara Matobe menggunakan perahu. Setelah turun dari perahu, sekitar 50 meter dari muara Matobe langsung mendapati pertama kali masjid Nurul Yakin.

”Dulu, meski berada satu pulau, untuk bisa ke Matobe hanya bisa ditempuh dengan jalur laut. Nah, muara sungai Matobe inilah sebagai akses ke luar masuk orang. Tidak heran, bila dulu di kawasan pantai ini, ramai dengan aktivitas masyarakat yang mayoritas muslim tersebut,” kata pria yang akrab disapa Datuk ini.

Dia sendiri, mengaku tidak mengetahui kapan pasti berdirinya masjid tersebut. Sebab, kata dia, sewaktu masih kanak-kanak di Desa Matobe, bangunan Masjid Nurul Yakin tersebut sudah berdiri. Namun, kala itu bangunan belum permanen atau masih berbentuk bangunan panggung. Bahkan, dinding masjid Nurul Yakin sendiri sempat menggunakan kulit kayu.

Walaupun begitu, dia meyakini, masjid tersebut dibangun sesudah kemerdekaan. Atau, lebih muda usianya dibanding dengan Masjid Nurul Iman Sioban. Di mana, kata dia, Masjid Nurul Iman sendiri sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Tahun 1970-an, kata dia, bangunan Masjid Nurul Yakin baru diubah menjadi lantai cor semen.

Bangunan pun, juga berubah menjadi permanen. Meski di Matobe waktu itu mayoritas muslim, namun masih banyak masyarakat yang tetap bertahan dengan kepercayaan nenek moyang atau sabulungan.

Hal ini, kata dia, juga tidak terlepas dari lemahnya pembinaan masyarakat muslim di desa tersebut, kala itu. Bahkan, kata dia, sebelum peristiwa PRRI warga Desa Saurenu yang bersebelahan dengan Desa Matobe sempat masuk agama Islam sebanyak 75 kepala keluarga yang dibimbing oleh seorang guru bernama Baharuddin.

Baca Juga:  Wagub Audy Joinaldy Buka Bersama Petugas Posko Arus Mudik Silaut

Namun, karena dia pulang kampung ke Payakumbuh dan bersamaan terjadinya peristiwa PRRI, dirinya baru bisa kembali lima tahun kemudian. Setelah dia kembali ke Mentawai, tepatnya di Desa Saurenu, dia mendapati warga 75 KK tersebut sudah banyak yang murtad.

Sebagian, kata dia, ada masih muslim dan memilih pindah ke Dusun Rokot dan membuat perkampungan baru di sana. Sisanya, pindah dan menetap di Desa Matobe. Hingga kini, di Desa Saurenu, jangankan untuk menemukan masjid, mencari warga yang beragama muslim pun sangat langka.

Kembali ke Masjid Nurul Yakin, menurut dia, saat ini masjid tersebut paling terjelek di Mentawai, bahkan, di Indonesia. Sebab, kata dia, bangunan tersebut tidak pernah tersentuh pembangunan ataupun direnovasi.

Menurut dia, hampir tidak ada yang peduli terhadap kondisi masjid tersebut, selain sebagai tempat beribadah. Bahkan, kata dia, banyak yang sudah datang untuk mendokumentasikan foto bangunan masjid tersebut, namun, hingga kini kondisi masjid tetap tak ada perubahan.

“Bisa dikatakan, belum pernah dilakukan renovasi masjid. Palingan kita hanya mengganti atap seng masjid ataupun memperbaiki dinding-dinding masjid yang sudah keropos. Inilah masjid asli orang Mentawai yang tidak pernah tersentuh pembangunan,” ujarnya.

Menurut dia, umat Islam memang dituntut untuk terus berjuang. Seperti yang telah diajarkan oleh nabi dan para sahabat. Namun, perjuangan tetap membutuhkan dukungan, baik itu dukungan materi maupun non-materi. Untuk itu, dia mengetuk pintu hati para dermawan guna memperhatikan kondisi masjid yang bersejarah tersebut.

”Sekarang, ada yang beralasan masjid kita berada pada zona merah atau dekat pantai. Jadi, harus direlokasi. Seharusnya, kita berpikir bencana atau musibah urusan Allah SWT. Coba dilihat di Pantai Padang, ada dua masjid yang berdiri megah di tepi pantai. Apa mereka tidak takut tsunami?” ungkapnya.

Lukas Ikhsan Malik, 52, salah seorang tokoh masyarakat Matobe lainnya menambahkan bahwa saat ini ada lebih kurang 40 KK umat muslim di Desa Matobe. Bagi dia, saat ini pelaksanaan qiyamulai atau shalat malam di Masjid Nurul Yakin sama seperti hari-hari biasanya. Hanya saja, pihaknya mengatakan, selama bulan Ramadhan ini sangat membutuhkan dai atau penceramah di Masjid Nurul Yakin menjelang pelaksanaan Shalat Tarawih.

”Kita shalat seperti biasa. Dulu sempat dibuat garis sebagai jarak dalam shalat berjamaah. Sekarang pelaksanaan shalat seperti tidak ada Covid. Yang kami butuhkan di bulan Ramadhan ini, ada penceramah menjelang Shalat Tarawih,” katanya. (arif RD-Padang Ekspres)

Previous articleDPRD Dharmasraya Sempurnakan Naskah Akademik Ranperda Inisiatif
Next articleDigitalisasi Penting untuk Kembangkan Bisnis