Kapal tak Berlayar, Masyarakat Mentawai Kesulitan Sembako

18
Pelabuhan Tuapejat di Kepulauan Mentawai ini mulai Selasa (31/3) tidak lagi melayani kapal yang membawa penumpang kecuali barang kebutuhan pokok. (foto: arif)

Masyarakat di Pulau Sipora khususnya wilayah Tuapejat pusat Kabupaten Kepulauan Mentawai mengeluhkan sulitnya mendapatkan cabai dan bawang merah serta kebutuhan pokok lainnya. Hal ini disebabkan belum beroperasinya KMP Ambu-Ambu dan Gambolo karena kondisi angin dan gelombang laut yang masih besar.

Megalinda, 40, salah seorang warga Tuapejat mengatakan, kesulitan mendapatkan bumbu-bumbu dapur tersebut terjadi sebelum Idul Fitri. Hal ini, disebabkan tidak beroperasinya kapal ASDP yang membawa barang kebutuhan pokok masyarakat.

”Sekarang, kita betul-betul kesulitan untuk memasak. Semua bumbu masak betul-betul tidak ada lagi dijual di warung-warung. Semua barang benar-benar langka semenjak kapal ASDP tidak masuk Jumat (22/5) sampai sekarang,” ungkapnya.

Sejumlah oknum pedagang menjual cabai dan bawang dengan harga yang jauh melambung. Cabai merah dijual Rp 65 ribu hingga 80 ribu per kilogram. Sedangkan bawang merah Rp 100 ribu per kilogram.

Ria, 34, warga Tuapejat lainnya mengatakan, selain bumbu dapur, ayam, ikan dan telur, juga sulit didapat. Menurut dia, kondisi seperti ini semestinya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Sebab, kata dia, kondisi cuaca dan gelombang laut yang tidak kondusif, sehingga kapal yang membawa sembako tidak beroperasi sudah kerap terjadi.

”Meski kita masih bisa makan dengan lauk seadanya, namun kondisi seperti ini, sudah sering terjadi dan belum ada solusi. Lalu, bagaimana bila seandainya badai ini berlangsung lama dan kapal tetap belum bisa berlayar. Sementara kita tahu, kebutuhan sembako masyarakat Mentawai notabene bergantung dari Padang,” ungkapnya.

Kepala Bidang Dinas Koperindag dan UMKM Kepulauan Mentawai Ananias menyebutkan penyebab terjadinya kelangkaan kebutuhan sembako masyarakat tersebut, terkait kondisi gelombang laut dan cuaca buruk sehingga menyebabkan kapal tidak bisa beroperasi. Dia mengatakan, jika kondisi cuaca normal, kapal akan kembali beroperasi.

”Situasi ini terjadi karena kapal tidak masuk dalam minggu ini. Saya yakin kalau sudah beroperasi kembali kapal KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo, situasi akan normal kembali,” ungkapnya.

Terkait kondisi yang sudah sering terjadi pada saat cuaca laut tidak kondisif, dirinya belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut. Namun, soal adanya sejumlah oknum pedagang yang menjual cabai dan bawang di luar harga normal, dia mengatakan, bawang dan cabai tersebut dibawa menggunakan long boat dari Padang.

Sebelumnya Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Teluk Bayur telah mengeluarkan surat nomor UM.002/3/07/KSOP.TBS-2020 tentang Peringatan Dini dan Cuaca Buruk tanggal 19 Mei 2020. Dalam surat tersebut, poin satu dijelaskan, gelombang tinggi dan cuaca buruk diperkirakan berlangsung 19 Mei hingga 23 Mei 2020. Lalu, pada poin dua, atas kondisi tersebut, Syahbandatr tidak akan memberikan izin berlayar mulai dari 19 Mei hingga 26 Mei 2020. (rif)