Rp 230 Juta Untuk Atasi Longsor, Dari BTT Pemko Padangpanjang

6
Ilustrasi.(NET)

Guna penanganan bencana longsor Pascalebaran lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah-Kesatuan Bangsa dan Politik (BPBD Kesbangpol) Kota Padangpanjang mendapat kucuran anggaran sebesar Rp230 juta.

Sekretaris BPBD Kesbangpol Padangpanjang, Zulheri mengatakan, anggaran tersebut bersumber dari Belanja Tidak Langsung (BTT) yang terletak pada Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).

Anggaran tersebut akan diplot untuk penanganan bencana longsor yang terjadi di RT 22 Kelurahan Kampung Manggis.

Disebutkannya, bencana longsor itu dinilai berisiko membahayakan terhadap dua unit rumah warga dan satu rumah ibadah (masjid) yang terletak tepat di bawah tebing tersebut.

Karena itu ditegaskannya, perlu penangan secepat mungkin untuk mencegah terjadinya longsor susulan yang dipicu tingginya intensitas hujan di kota berjuluk Serambi Mekkah itu.

”Berdasarkan pantauan langsung bersama wawako saat kejadian, perlu dilakukan penanganan berupa pembangunan dam untuk mencegah longsor susulan. Sesuai dengan kajian kebutuhan anggaran, didapat kebutuhan mencapai Rp230 juta mulai dari perencanaan hingga pengerjaan fisik,” beber Zulheri melalui selularnya, Senin (16/5).

Terkait perencanaan pembangunan dam tersebut, Zulheri menyebut terdapat empat segmen pembangunan konstruksi fisik dengan tinggi dan panjang berbeda.

Baca Juga:  Keren!! Cek Daftar 5 Rumah Makan Punya Sertifikat Halal di Padangpanjang!

Masing-masing dengan tinggi dan panjangnya, Segmen I (2,8 x 6 meter), Segmen II (4,3 x 12 meter), Segmen III (2,8 x 23 meter) dan Segmen IV untuk saluran pengamanan sepanjang 20 meter persegi.

“Pengerjaan akan dilakukan secepatnya setelah proses pergeseran anggaran dari BPKD selesai. Diyakini dapat terlaksana sesegera mungkin dengan tidak harus melalui proses lelang, karena peruntukkannya berupa kegiatan penanggulangan bencana,” tutur Zulheri.

Terkait dengan penyebab terjadi bencana tersebut, Zulheri mengatakan akibat ketidakmemadainya drainase di kawasan tersebut.

“Tingginya curah hujan saat itu, drainase tidak mampu menampung debit air hingga meluber ke sisi tebing. Kondisi drainase ini sudah dikoordinasikan dan akan ditangani pihak dinas terkait, yakni Dinas Perkim LH,” pungkasnya. (wrd)