Perkembangan Bank Sampah Stagnan

4
BUTUH PERHATIAN: Aktivitas Bank Sampah Sarunai yang berada di Kelurahan Ekorlubuk Padangpanjang Timur.(IST)

Meski telah eksis secara permanen sejak 2015 lalu, perkembangan bank sampah induk yang membawahi 6 bank sampah unit terbilang stagnan.

Direktur Bank Sampah Sarunai di Kelurahan Ekorlubuk Padangpanjang Timur, Hariyanto menyebutkan kepedulian maksimal pemerintah terhadap keberadaan bank sampah di kota berjuluk Serambi Mekkah tersebut terakhir pada 2015 berupa bantuan bangunan permanen dan alat kelengkapan

”Bank Sampah Sarunai selaku induk, memiliki bangunan permanen atas bantuan pemerintah melalui DAK dan sejumlah alat kelengkapan lainnya berupa becak motor dan mesin jahit yang membuat operasional bank sampah tetap eksis hingga sekarang. Namun untuk pengembangan mengejar orientasi ekonomis, masih jauh dari harapan,” beber pria yang akrab disapa Anto tersebut, Selasa (17/5).

Dikatakan Anto, Bank Sampah Serunai saat ini dari sisi ekonomis hanya bergantung pada produksi pengolahan sampah plastik untuk penyediaan an aerob filter Ipal Kemunal dan penjualan sampah pilah terhadap pengumpul (lapak).

”Hasil ekonomis dari sampah olahan selain an aerob filter, ada juga berupa berbagai kerajinan dan seminar kit. Bersumber dari produksi sampah olahan dan sampah pilah mentah, pendapatan rata-rata perbulan hanya Rp 3-4 juta. Sementara dari kuantitas sampah plastik yang mendominasi di Padangpanjang, semestinya bank sampah bisa meraup hingga Rp 10 juta per bulannya,” beber Anto.

Baca Juga:  Grand Azizi ex Lady Security, Sang Juara Pacuan Derby

Sulitnya pengembangan nilai ekonomis sampah tersebut, Anto menyebut dua faktor yang paling mempengaruhi. Pertama dikatakannya berupa peluang pasar dari produksi sampah olahan dan kedua minimnya dukungan pengembangan alat pengolahan sampah.

”Kita bisa memproduksi seminar kit, namun untuk di kalangan pemerintah sendiri belum berminat menjadi konsumen. Apalagi masyarakat umum. Sedangkan untuk potensi produksi dengan nilai ekonomis tinggi, bank sampah membutuhkan mesin pencacah plastik yang bisa menghasilkan nilai jual 100 kali lipat dari pada dijual mentah Rp300 perkilo menjadi Rp30 ribu perkilonya,” pungkas Anto. (wrd)