Cegah Klaster Baru, Basyafa Ditiadakan

14
Pjs Bupati Padangpariaman dan jajaran saat rapat dengan Ketua dan pengurus MUI Padangpariaman, Tuanku Khalifah ke-15 Syekh Burhanuddin, ninik mamak dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Ulakantapakih.. (net)

Kegiatan basyafa yang rutin diadakan setiap tahun di Kabupaten Padangpariaman, ditiadakan pada 2020 ini. Keputusan itu diambil, setelah Pemkab Padangpariaman berembuk bersama MUI Padangpariaman, Tuanku Khalifah ke-15 Syekh Burhanuddin, Buya Heri Firmansyah, ninik mamak dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Ulakantapakih.

Penundaan basyafa dilakukan karena meningkatnya kasus Covid-19 dan mencegah klaster baru penyebaran virus korona. Terlebih lagi, basyafa yang merupakan tradisi keagamaan, diikuti ribuan orang yang berkumpul di satu lokasi, yakni kawasan makam Syekh Burhanuddin.

“Saya dengar biasanya jamaah (basyafa) lebih dari 10 ribu orang dari berbagai wilayah. Ini jumlah yang luar biasa. Rata-rata mereka berusia di atas 60 tahun,” ujar Pjs Bupati Padangpariaman, Adib Alfikri, usai rapat koordinasi dengan Ketua MUI Padangpariaman Buya Sofyan Tuanku Bandaro, Buya Heri Firmansyah, ninik mamak dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Ulakantapakih, serta Kepala OPD Pemkab Padangpariaman, kemarin (1/10).

Menurut Adib, apabila basyafa tetap dilangsungkan, risikonya penyebaran Covid-19 besar. Sebab, mengontrol ribuan orang beraktivitas di kawasan yang sempit, sangat sulit dijamin bisa berjalan dengan maksimal.

“Kalau tidak pandai-pandai nanti dampaknya luar biasa. Jadi, lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Perlu kami tekankan ini murni untuk kemaslahatan bukan karena tendensi lain,” ungkap Pjs yang kini juga berstatus sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sumbar tersebut.

Jika tradisi ritual basyafa tidak ditunda, ia khawatir bisa membuka peluang terbentuknya klaster baru di Padangpariaman. Sebab, para jamaah basyafa datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada  yang dari Negara tetangga.

“Jadi tidak mudah untuk memetakan mana orang yang dari zona merah dan sudah terpapar. Apalagi, Covid-19 ini ada yang menginfeksi seseorang dengan tanpa gejala,” cermatnya.

Untuk itu, ia menginstruksikan kepada seluruh stakeholder terkait menindaklanjuti keputusan meniadakan basyafa di tahun 2020 ini. Yakni dengan sosialisasi atau memberitahukan kepada masyarakat secara langsung. Untuk lebih maksimal, upaya tersebut dimintanya agar disertai dengan pengawasan.

“Kami juga meminta kepada seluruh Satpol PP dan Dinas Perhubungan agar menyiapkan posko di perbatasan, untuk mencegah masuknya masyarakat luar Kabupaten Padangpariamn yang berniat berziarah di makam Syech Burhanudin dan beribadah pada bulan syafar ini,” pungkasnya.

Sedangkan Ketua MUI Padangpariaman, Buya Sofyan Tuanku Bandaro, meminta agar Pemkab melalui Dinas Kesehatan Padangpariaman lebih memberikan pemahaman serta sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat lebih mengerti dan paham tentang Covid-19. Hal itu menurutnya sangat penting untuk mencegah timbulnya kesalahpahaman di tengah masyarakat terhadap ulama.

Baca Juga:  Ikan Larangan Lumbung Pangan Nagari

“Dengan ditundanya (ditiadakan, Red) basyafa tahun ini, memunculkan anemo baru di tengah masyarakat. Mereka menyangka para alim ulama telah berubah haluan, dan tidak lagi membimbing masyarakat dalam keagamaan. Pemahaman ini jangan sampai terjadi,” ungkapnya.

Padahal, imbuhnya, kepurusan itu disetujui para alim-ulama lantaran untuk kemaslahatan atau keselamatan umat. Sebab, sampai saat ini belum ada jaminan orang aman dari paparan Covid-19. Terlebih saat berada di lokasi yang sangat ramai. “Jadi semua ini demi kebaikan bersama. Kami para alim ulama juga sudah memberikan pemberitahuan kepada jamaah yang berada di luar Padangpariaman terkait penundaan basyafar tahun ini. Walau begitu, pemerintah harus lebih gigih dalam menyosialisasikannya,” pungkas Buya Sofyan.

Satu Pasien Positif  Meninggal
Satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19, kembali dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) pada Rabu (30/9). Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia itu adalah pasien kasus ke-74 perempuan umur 43 tahun warga Kampung Anakan Nagari Koto Nan Duo Kecamatan Batang Kapas.

“Pasien meninggal dunia dengan gejala awal sesak nafas ini, sempat dirawat dan diisolasi di RSUP M Djamil Padang,” kata Juru bicara tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Rinaldi.

Karena penambahan satu orang tersebut, sehingga di Pessel total pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia telah mencapai sembilan orang dari 274 orang yang dinyatakan positif Covid-19.

“Dinyatakan sembuh sudah sebanyak 61 orang pula dari 58 orang sebelumnya. Sebab hari ini (kemarin red) yang sembuh ada sebanyak 3 orang. Tapi yang positif bertambah sebanyak 7 orang pula,” tutupnya.

Sementara itu, data Dinas Kesehatan Kota Pariaman juga menunjukan pertambahan tiga kasus untuk Kamis (1/10). Dengan demikian total kasus covid 19 di Kota Pariaman mencapai 203 kasus, 127 sembuh dan meninggal 4 orang, 7 orang menjalani perawatan sisanya menjalani karantina dan isolasi mandiri.

“Kami terus lakukan tracking terhadap yang pernah kontak erat. Minimal 100 sampel swab dikirim ke laboratorium Unand setiap harinya,” ujar Kadis Dinkes Pariaman Syahrul. (apg/yon/nia)