Pasarkan Batik Limaupurut lewat Bumnag, Normalisasi Batang Sumbu

27

Nagari Limaupurut di Kabupaten Padangpariaman telah mengembangkan batik dengan motif khas Limau Purut. Anggota DPD RI Leonardy Harmainy mendorong agar wali nagari mengembangkannya lewat Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag).

“Pengembangan batik khas Limaupurut bagus dilakukan. Batik produksi masyarakat dibeli oleh Bumnag, lalu dipasarkan oleh Bumnag,” ujar Leonardy.

Menurut Leonardy, Bumnag dapat memasarkan batik sebagai pakaian seragam perangkat nagari. Lalu budayakan pemakaiannya secara luas di nagari.

Wali nagari melalui Forum Wali Nagari Padangpariaman bisa pula merintis penggunaan batik ini oleh 103 wali nagari di Padangpariaman.

Bahkan, tak tertutup kemungkinan untuk penggunaannya oleh pegawai kabupaten. “Semua itu tergantung bagaimana upaya wali nagari mendapatkan aturan yang melandasinya. Jika sudah seperti ini, makin banyak keuntungan Bumnag yang bisa dinikmati oleh nagari nantinya,” jelas Ketua Badan Kehormatan DPD RI itu.

Dengan dukungan penuh wali nagari dan Bumnag, perajin batik yang telah dilatih ISI Padangpanjang dengan dibiayai nagari, akan mendapat perbaikan ekonomi.

“Sangat bagus upaya nagari untuk memberdayakan ekonomi anak nagarinya. Ini harus didukung. Didorong dan difasilitasi agar terus berkembang,” ujarnya.

Tak hanya itu. Kebijakan wali nagari dengan mengambil jenis usaha pangkalan gas 3 kilogram sebagai usaha utama Bumnag sangat membantu masyarakat Limaupurut. Masyarakat merasakan dampaknya dengan harga merata di level Rp22.000.

Sebelumnya, harga gas bisa mencapai Rp27.000 hingga Rp30.000. Selain harga yang tinggi, ketika itu gaspun sering langka.

Leonardy juga menyarankan agar wali nagari mengembangkan usaha Bumnag ke pertashop. Jajaki kemungkinan-kemungkinan bisa dijadikan usaha Bumnag pula.

Baca Juga:  PMK Menyebar di Sumbar! Setelah Sijunjung, Ada Temuan di Padangpariaman

Wali Nagari Limaupurut Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padangpariaman Agusriadi mengharapkan dorongan dari Leonardy terhadap pengembangan batik khas Limaupurut.

Menurutnya, pernah digagas bersama Camat V Koto Timur untuk menggunakan batik ini sebagai pakaian seragam di kecamatan. “Pak Camat menyetujui, namun dia keburu diganti. Hingga kini, rencana kebijakan ini terhenti begitu saja. Tak bisa ditindaklanjuti bersama camat yang baru,” bebernya.

Untuk itu dia berharap dorongan dari Leonardy agar batik ini jadi seragam kecamatan, kabupaten bahkan provinsi.

Wali nagari menjelaskan pula bahwa Bumnag direncanakan pada 2018 dan baru terealisasi pada 2019. Untuk Bumnag, nagari melakukan penyertaan modal sebesar Rp112.000.000.

Normalisasi Batang Sumbu

Selain pengembangan Bumnag, wali nagari bersama masyarakat berharap agar Leonardy turut memfasilitasi pembangunan nagari. Agusriadi mengharapkan dukungan pembangunan normalisasi Batang Sumbu.

Batang Sumbu ini berhulu di Padang Alai dan bermuara di Manggung. Sungai yang melewati nagari itu sering banjir. Banjir selain menggenangi sejumlah kawasan di Limau Purut juga menimbulkan bencana.

“Beberapa waktu lalu, banjir menghanyutkan rumah dan padi-padi masyarakat yang baru saja dipanen. Sangat memilukan, masyarakat kami hanya bisa memandangi padi mereka dihanyutkan banjir,” ungkap Agusriadi yang didukung penjelasan lain dari tokoh masyarakat setempat.

Menanggapi harapan wali nagariĀ  dan masyarakatnya, Leonardy menerima aspirasi tersebut dan dalam waktu dekat akan berupaya melihat ke lapangan dengan Dinas PSDA Sumbar. (rel)