Ubah Limbah TKKS jadi Bio-Briket

11
TEROBOSAN: Dr Nofriady Handra, ST, MSc bersama tim penguji, promotor, dekan dan keluarga usai ujian terbuka program S3 Fakultas Pertanian Unand, beberapa waktu lalu.(SUYUDI/PADEK)

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) ternyata memiliki banyak potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai bentuk olahan.

Jika sebelumnya pada penelitian disertasi S3 mengembangkan TKKS menjadi lembaran plump, kali ini TKKS dapat dikembangkan menjadi bahan pembuatan bio-briket yang tentunya sangat ramah lingkungan.

Penelitian tersebut dikemukakan oleh Dr.Nofriady Handra, ST, M.Sc. dalam disertasinya yang berjudul “Modifikasi Mesin Cetak Bio-Briket TKKS Dalam Menghasilkan Binderless Bio-Briquette Sebagai Bahan Bakar Energi Alternatif” pada ujian disertasi terbuka di Gedung Balai Sidang Fakultas Pertanian Unand, Kamis (28/7).

Dalam penelitiannya tersebut, Nofriady mengatakan, bagaimana mengembangkan TKKS sebagai salah satu bahan limbah hasil industri kepala sawit menjadi bahan bakar energi alternatif bio-briket.

Pengolahan TKKS menjadi briket merupakan sebuah peluang yang sangat menguntungkan bagi dunia industry, dimana Indonesia sebagai salah satu daerah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia memiliki peluang untuk merajai dunia industri bio-briket dari hasil pengolahan TKKS.

Dalam pembuatan briket tersebut diperlukan modifikasi pada mesim pebuatan briket yang disesuaikan dengan bahan baku pembuatannya yaitu TKKS.

“Kita melakukan modifikasi pada mesin cetak yang sebelumnya bukan diperuntukan untuk bahan serat hasil olahan TKKS. Serat TKKS memiliki perbedaan jenis dengan serat-serat lainnya. Dalam pengerjaannya kita menambahkan pemanas di ujung mesin cetaknya yang berfungsi untuk merekatkan TKKS menjadi sebuah briket siap jadi, karena dalam produksi yang kita uji coba kita tidak menggunakan bahan perekat tambahan di dalamnya,” ucapnya.

Ia menambahkan, dalam prosesnya kandungan yang terdapat di dalam TKKS seperti lignin, selulosa dan kandungan lainnya akan memuai dan memadat ketika bertemu pemanas pada ujung mesin cetak sehingga dapat meeratkan dan bio-briket siap digunakan.

Usai dicetak saat ini mendapatkan bio-briket dengan kandungan 4853 kalori yang masih kurang dari standar SNI dengan 5000 kalori per briket. Ke depannya ia akan meneruskan penelitiannya untuk menyempurnakan bio-briket hasil buatannya agar bisa mencapai standar SNI.

Baca Juga:  Tak Cukup Bukti, Polda Hentikan Penyidikan Kasus Mafia Tanah

“Setelah ini kita akan berusaha untuk mengembangkan metode perekatan dengan menambahkan sedikit unsur lainnya agar dapat mencapai standar SNI di angka 5000 kalori,” ucapnya.

Ia berharap jika penemuannya kali ini sudah berhasil disempurnakan akan menjadi salah satu terobosan yang terdapat didunia industri bio-briket yang ada di Indonesia.

“Tentunya sesuai anjuran dari para penguji, promotor dan dekanan Fakultas Pertanian untuk mengurus hak paten dari bio-briket TKKS dan perangkat mesin cetaknya ini. Semoga dunia industri di Indonesia dapat memanfaatkan bio-briket dari TKKS sebagai salah satu solusi dalam pemanfaatan limbah serat TKKS di Indonesia. Karena yang kita tau Indonesia adalah salah satu negara penghasil sawit terbesar dan ini merupakan sebuah peluang bagi kita semua,” ungkapnya.

Sementara itu, promotor dari promovendus Prof Anwar Kasim mengatakan, disertasi kali ini termasuk salah satu terobosan dalam penambahan pengolahan limbah hasil dari TKKS.
Ia mengatakan, penelitian serupa harus terus dikembangkan agar limbah-limbah organik dapat dikembangkan menjadi komuditas lain yang bernilai di dunia industri.

“Kami berharap pak Nofriyadi dapat terus mengembangkan penelitiannya agar mendapatkan hasil yang sempurna dan tentunya memberikan terobosan baru dalam pengembangan sumber energi alternatif di Indonesia,” ucapnya.

Senada, Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Unand Dr. Ir Yaherwandi, MSi mengatakan penelitian kali ini merupakan sebuah langkah yang bagus untuk mengembangkan energi alternatif dari TKKS yang selama ini banyak terbuang tanpa pengolahan lebih lanjut.

Ia berharap ke depannya program-program doktoral di program ilmu pertanian dapat mengembangkan penelitian-penelitian serupa yang menghasilkan produk yang bermanfaat dan aplikatif, sehingga dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk perkembangan dunia industri ke depannya. (cr1)