Perkuat Sistem Peringatan Dini

25
Tessa Olivia mendatangi Tugu Gempa, Rabu (30/9). Di Tugu Gempa ini, terpahat nama orangtuanya yang menjadi korban gempa 30 September 2009 lalu. (IST)

Tepat 11 tahun lalu, Kota Padang diguncang gempa bumi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter (SR). Gempa bumi tersebut selain meluluhlantakkan puluhan bangunan di Kota Padang tapi juga menimbulkan korban jiwa yang mencapai ribuan orang.

Pascagempa bumi pada 30 September 2009 lalu, Pemko Padang telah melakukan berbagai upaya, langkah dan perencanaan untuk mengantisipasi bencana alam yang dapat terjadi kapanpun. Bahkan ada 3 sasaran dalam kebijakan BPBD Kota Padang dalam RPJMD 2019-2024 dalam penanggulangan bencana di Kota Padang.

Sasaran pertama adalah BPBD Kota Padang terus berupaya dalam menurunkan tingkat risiko bencana. Hal itu dilakukan dengan cara meningkatkan ketahanan dan kekuatan bangunan melalui penyediaan desain standar bangunan.

“Sejak gempa bumi tahun 2009 lalu, kami dari Pemko Padang telah mengeluarkan kebijakan dalam hal pembangunan bangunan yang harus memperhatikan ketahanan bangunan dari guncangan gempa bumi,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Barlius.

Sasaran kedua yaitu bagaimana meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana. Sasaran ketiga adalah menurunkan jumlah kerugian akibat kebakaran pascagempa bumi.
Saat ini, Barlius menjelaskan kondisi kebencanaan di Kota Padang akibat gempa bumi pada 2009 lalu, terjadi pergeseran yakni dari lahan pertanian ke perkantoran dan perumahan masyarakat. Perubahan terjadi karena perpindahan penduduk dari zona merah (tepi pantai) ke zona hijau yang berada di kawasan Bypass Padang.

Menurutnya, masyarakat Kota Padang mulai memahami kerawanan untuk bermukim di pesisir pantai yang dikategorikan pemerintah sebagai zona merah ancaman tsunami. ”Akan tetapi, perpindahan yang dilakukan tersebut secara tidak langsung telah meminimalisir dampak yang timbul dari bahaya gempa bumi dan tsunami yang sewaktu-waktu bisa terjadi,” ungkapnya.

Barlius menyampaikan, Pemko Padang terus melakukan persiapan terhadap potensi terjadinya gempa bumi dan tsunami. Salah satunya adalah peningkatan sistem peringatan dini. “Tujuan utama sistem peringatan dini ini adalah untuk menyelamatkan hidup orang banyak dan mengurangi terjadinya korban jiwa maupun kerusakan,” tukasnya.

Berdasar hasil pemetaan persebaran dan jangkauan sirine tsunami di Kota Padang, BPBD Kota Padang membutuhkan penambahan sirine peringatan dini tsunami sebanyak 23 unit. Di antaranya tersebar di 5 kecamatan di Kota Padang yakni Kecamatan Kototangah, Padang Barat, Padang Selatan, Lubukbegalung, dan Bungus Teluk Kabung (Bungtekab).

Di Kecamatan Kototangah, lokasi sirene peringatan dini yakni di Pasirjambak bagian utara dan selatan, Kompleks Singgalang, dan di kawasan Batas Kota Padang.  Sementara Kecamatan Padang Barat meliputi, Taman Budaya Padang, kantor Camat Padang Barat, Hotel My All, SMAN 2 Padang, rumah dinas Wali Kota, dan Bank Mandiri.

“Selanjutnya di Padang Selatan lokasi yang membutuhkan sirene yakni di RST Reksodiwiryo, Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang, Puncak Siti Nurbaya, Simpang 6 Pondok, Aiemanih, Kantor Camat Padang Selatan, dan RS Kesehatan Pelabuhan Mataair,” beber Barlius.

Baca Juga:  Nelayan Pasie Nan Tigo Padang Berharap Mesin Tempel pada NA-IC

Lokasi lainnya di Kecamatan Lubeg di antaranya Pangkalan Marinir, Bukit Lampu dan Kantor Lantamal II Teluk Bayur. ”Lalu di Kecamatan Bungtekab kami membutuhkan sirine di depan Pertamina Bungus, pelabuhan Perikanan, dan Sungai Pisang,” ujarnya.

Barlius mengatakan, saat ini sirine peringatan dini tsunami yang telah terpasang di Kota Padang tersebar di 46 titik. Dimana anggaran pengadaannya berasal dari BMKG, BPBD Sumbar dan BNPB.

Selain itu, langkah antisipasi terhadap bencana alam lainnya berupa bangunan shelter evakuasi tsunami yang telah dibangun beberapa tahun yang lalu. Bangunan ini sebagai lokasi evakuasi darurat bagi masyarakat yang berada di zona merah.

Selain itu, sejumlah sekolah, hotel, dan bangunan tinggi lainnya yang berada di zona merah, juga telah menyiapkan shelter khusus sebagai lokasi evakuasi masyarakat.
“Selain peringatan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah, masyarakat juga diminta memiliki kemampuan untuk melakukan pengamatan potensi bencana dan meneruskan peringatan kepada masyarakat luas lainnya,” tuturnya.

Peringatan Gempa
Sementara itu, Pemko Padang melaksanakan upacara tabur bunga sekaligus doa bersama memperingati peristiwa gempa yang mengguncang Kota Padang tanggal 30 September 2009 lalu di Tugu Gempa, Rabu (30/9). Rangkaian peringatan itu dimulai dengan pembersihan kawasan Tugu Gempa oleh petugas BPBD Kota Padang.

Dilanjutkan prosesi tabur bunga dan doa bersama yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Padang, Hendri Septa didampingi Asisten I Setko Padang, Edi Hasymi dan Kalaksa BPBD Kota Padang, Barlius.  Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara secara virtual dikarenakan pandemi Covid-19 di Kota Padang masih merebak.

Plt Wali Kota Padang, Hendri Septa mengatakan, pelaksanaan tabur bunga dan doa bersama ini dalam rangka memperingati dan mengenang peristiwa gempa bumi yang mengguncang Kota Padang dan menimbulkan korban jiwa.

Kegiatan ini sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dimana kegiatannya tidak dilakukan dengan melibatkan banyak orang lantaran pandemi Covid-19. “Prosesi tabur bunga dan doa bersama itu dilakukan dengan waktu yang singkat dan jumlah orang yang terbatas. Peringatan 11 tahun gempa bumi ini lebih difokuskan dengan cara virtual,” jelasnya.

Hendri Septa menyebutkan sejak peristiwa itu, Pemko Padang terus melakukan upaya untuk mencegah timbulnya korban jiwa dan kerugian materil jika sewaktu-waktu gempa bumi terjadi. Di antaranya menyosialisasikan dan melakukan mitigasi bencana kepada masyarakat.

“Selain itu, beberapa alat dan perlengkapan peringatan dini bencana alam sudah dipasang di lokasi-lokasi yang masuk ke dalam zona merah atau jangkauan tsunami,” bebernya.
Diharapkan, dengan momen peringatan bencana gempa bumi 30 September 2009 tersebut, masyarakat bisa lebih menyadari dan meningkatkan pengetahuan tentang kewaspadaan karena bencana bisa terjadi kapanpun. (a)