Nilai Ekspor Sumbar Naik 15,73 Persen

Pencanangan Sensus Penduduk 2020. (Redaksi)

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar melansir nilai ekspor Sumbar pada Januari 2020 turun 24,75 persen. Sedangkan nilai impor naik 137,21 persen. Namun pada Februari 2020 terbalik. Nilai ekspor Sumbar naik 15,73 persen dan nilai impor turun 8,29 persen. Selain itu, BPS mencatat nilai ekspor Sumbar bulan Februari 2020 mencapai USD130,41 juta. Artinya terjadi peningkatan sebesar 15,73 persen dibanding ekspor bulan Januari 2020.

“Golongan barang ekspor pada bulan Februari 2020 paling besar adalah lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD104,72 juta, diikuti oleh golongan karet dan barang dari karet sebesar USD15,65 juta,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Pitono, kepada wartawan, kemarin.

Ekspor non migas bulan Februari 2020 terjadi pada beberapa golongan barang, nilai terbesar adalah golongan lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD104,72 juta diikuti golongan karet dan barang dari karet USD15,65 juta. Kemudian, golongan garam, belerang, kapur USD3,85 juta. “Bila dilihat peranan golongan barang terhadap total ekspor Januari-Februari 2020 tercatat 71,20 persen merupakan ekspor dari golongan lemak dan minyak hewan/nabati, dan golongan karet dan barang dari karet memberikan peran sebesar 19,03 persen,” terangnya.

Ia mengatakan ekspor ke negara India memberikan peranan sebesar 38,63 persen terhadap total ekspor Sumbar dan Amerika Serikat 27,16 persen pada Januari 2020. “Selama periode Januari-Februari 2020 ekspor ke negara India memiliki peran yang terbesar terhadap total ekspor Sumatera Barat yaitu sebesar 26,45 persen. Selanjutnya ekspor ke Amerika Serikat memberikan peran sebesar 24,39 persen,” ujar Pitono. Dengan demikian, sambung Pitono selama Januari-Februari 2020 maka peran total ekspor ke dua negara tersebut sebesar 50,84 persen.

Sementara itu, nilai impor Sumbar bulan Februari 2020 mencapai USD23,45 juta. Artinya terjadi penurunan sebesar 8,29 persen dibanding impor bulan Januari. Nilai impor bulan Februari 2020 tersebut turun sebesar 22,75 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Golongan barang impor pada bulan Januari 2020 paling besar adalah bahan bakar mineral sebesar USD12,42 juta dan golongan ampas/sisa industri makanan sebesar 4.04 juta. Dari total impor bulan Januari 2020 terlihat impor terbesar berasal dari negara Singapura senilai USD12,42 juta. Nilai impor Sumbar senilai USD23,45 juta, berasal dari pelabuhan bongkar Teluk Bayur.

Terpisah, pengamat ekonomi yang juga Direktur Eksekutif Ekonomic Action (ECONACT), Ronny P Sasmita menganalisa tren ekspor impor Sumbar selama beberapa bulan terakhir cenderung sama. “Dari trennya, pola nilai ekspor dan impor Sumbar memang begitu saya lihat. Pada awal tahun, Februari (refer to Januari trade), dari 2018-2019- dan 2020, ekspor melonjak. Dan impor di rentang waktu yang sama, menurun. Bahkan di tahun 2018, grafik impor awal tahun sangat tajam turunnya,” jelas Ronny.

Ia menilai, nilai ekspor Sumbar pada bulan Februari ini, terlihat lumayan bagus. “Memang bulan Februari ini lumayan bagus kenaikan ekspornya. Artinya ada kenaikan kapasitas produksi bahan olahan, terutama nabati, CPO, di satu sisi dan di sisi lain. Tentunya ada kenaikan permintaan dari negara-negara tujuan ekspor utama, seperti India,” ungkapnya. Namun demikian, menurut Ronny, struktur ekspornya masih sama. Dominasi ekspor masih CPO, sementara hasil pertanian lain, juga pertambangan, sama sekali tak berkembang.

Sebagaimana diketahui, produk olahan CPO dan turunannya, mayoritas dikuasai oleh konglomerasi perkebunan, yang menguasai puluhan ribu hektar lahan di Sumbar. Dan itu dikalkulasi sebelum negara-negara tutup batas negaranya buat perdagangan. “Kita belum tau nanti setelah di akhir Februari dan bulan Maret banyak negara tujuan ekspor yang lockdown, sehingga mempengaruhi nilai ekspor dan impor,” tuturnya. (*)