Industri Hotel dan Restoran Terpukul

Yusran Maulana, Ketua PHRI Sumbar

Pandemi virus korona atau Covid-19 juga memukul sektor industri secara menyeluruh. Salah satunya industri hotel dan restoran. Begitu juga di Sumbar.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, Maulana Yusran mengatakan, bisnis hotel dan restoran bisa bertahan kemungkinan hanya sampai bulan depan. Setelah itu, perusahaan diklaim tak mampu lagi menggaji karyawan.

“Situasi ini makin lama makin tidak kondusif. Bulan April adalah bulan yang umumnya terakhir kekuatan dari pengusaha bisa mensupport karyawannya. Setelah itu mungkin kekuatan nggak ada lagi,” kata Maulana Yusran kepada Padang Ekspres, Kamis (2/4).

Menurutnya, kalau kondisi masih seperti ini dalam batas maksimal bulan Mei, apalagi tanpa ada bantuan dari pemerintah, bisa saja semua hotel dan restoran akan tutup. Pasalnya jika buka pun hanya membayar biaya operasional tanpa ada pemasukan yang cukup.

“Pemerintah harusnya mencari jalan keluar. Karena kalau tutup kasihan karyawannya. Sebab, perusahaan itu tidak kuat lama-lama dalam kondisi saat ini,” ujar Maulana Yusran.

Menurut dia, usaha hotel, tidak cocok lagi antara operasional cost dengan jumlah revenue yang didapat. Kalau hotel di bawah 40 persen akan rugi dan jatuhnya akan tutup.

“Hotel dan restoran umumnya masih punya keuntungan year on year. Untuk tahun 2020 yaitu di bulan Januari dan Februari. Nah keuntungan itulah yang mereka buat untuk bertahan hidup di Maret dan April, mungkin terakhir sampai Mei lah. Selebihnya dari itu tentu mereka nggak bisa lagi bertahan. Akhirnya mereka harus tutup karena jika tetap hidup tentu ada operational cost,” terangnya.

Ia berharap kepada Pemerintah khususnya Provinsi Sumatera Barat untuk memberikan relaksasi atau stimulus bagi pelaku usaha hotel dan restoran yang merupakan anggota PHRI.

“Relaksasi atau stimulus ini kami harapkan dapat membantu meringankan cash flow perusahaan, guna menjaga agar beban perusahaan terhadap karyawan dan utilitas dapat tetap terjaga,” ungkapnya.

Sementara itu, General Manager Whiz Prime Hotel, Yon Erick Firman Kuncung kepada Padang Ekspres mengatakan, Whiz Hotel
khususnya PT Intiwhiz masih tetap jalan dengan normal dalam krisis wabah virus korona.

“Insya allah, belum ada kata kapan ditutupnya Whiz Prime Hotel. Apabila tutup kita juga akan melalui proses yang benar dan juga menyurati pihak PHRI. Karena kalau hotel tutup bukan hal yang mudah,” katanya.

Ia berharap kepada pemerintah agar bisa memberikan bantuan langsung tunai dengan meringankan beban karyawan di semua sektor terutama pengusaha perhotelan dan juga memberikan kompensasi semacam insentif retribusi dalam bentuk pemangkasan ataupun diskon.

“Pemerintah harus memberikan bantuan secara tunai dan insentif pajak bagi pelaku pariwisata. Karena sektor pariwisata lah yang menyumbang aset terbesar negara,” tegasnya.

Harusnya pengusaha hotel mendapatkan dukungan, bagaimana hotel kembali bersatu dalam menerima dukungan pemerintah tersebut. “Kalau hotel tutup, karyawan kita akan berdampak. Gajinya dari mana. Maka dari itu Pemprov Sumbar terkhusus Pemko Padang agar bisa melihat hal seperti ini,” tukasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Padang Al Amin mengatakan, Bapenda Kota Padang akan mengeluarkan kebijakan memberikan insentif untuk para wajib pajak seperti hotel, restoran dan sarana hiburan.

“Ini semacam bentuk kompensasi pemko kepada pelaku usaha dengan tiga jenis pajak seperti hotel, restoran dan sarana hiburan dengan tidak memungut pajak kepada para konsumennya,” kata Al Amin kepada Padang Ekspres, Kamis (2/4).

Ia menambahkan, Bapenda Padang akan memberikan kelonggaran pajak tersebut dimulai dari bulan April sampai Mei mendatang.
“Dalam memberikan keringanan kepada pelaku usaha tersebut tentunya berpengaruh kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dimana, 16 persen bersumber dari hotel, restoran dan sarana hiburan. Seandainya dua bulan free setidaknya Rp 32 miliar pendapatan akan hilang. Karena untuk tiga jenis pajak itu adalah sumber PAD yang sangat primadona,” terang Al Amin. (*)

Yusran Maulana, Ketua PHRI Sumbar