Perkuat Mitigasi, Intensifkan Pengurangan Risiko Bencana

38

Provinsi Sumbar merupakan daerah yang memiliki potensi bencana yang besar. Pengetahuan tentang mitigasi bencana menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. Di samping memperkuat mitigasi bencana, sehingga risiko-risiko yang ditimbulkan dari bencana dapat diminimalisir.

Demikian disampaikan Koordinator Forum PRB Sumbar, Khalid Saifullah saat diskusi tentang mitigasi bencana di Sumbar yang diadakan Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas), di Hotel Daima, Kamis (04/03/2021).

“Kita tidak bisa lari dari kondisi ini. Tapi kita bisa lakukan seoptimal mungkin untuk mereduksi atau mungkin menghilangkan risiko dari bencana,” ungkap Khalid di acara diskusi yang dimoderatori oleh Koordinator Kapas, Isa Kurniawan.

Khalid menegaskan, upaya pengurangan risiko bencana harus diintensifkan. Mitigasi bencana perlu diperkuat, sehingga risiko bencana bisa diminimalisir. “Salah satu caranya kita harus tingkatkan pengetahuan tentang kebencanaan,” ujar Khalid.

Bicara mitigasi kata Khalid, kerentanan-kerentanan yang ditimbulkan dari bencana perlu diatasi, sehingga risiko yang ditimbulkan dari bencana yang dapat menimbulkan kerugian baik jiwa dan harta benda, bisa dikurangi.

Karena itu menurut Khalid perlu dilakukan manajemen risiko. Antara lain melakukan upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan.

Kemudian katanya juga diperlukan political will yang baik dari pemerintah bagaimana persoalan kebencanaan ini menjadi perhatian. “Misalnya, RPJMD harus memuat mitigasi bencana. Kemudian diperlukan juga kesiapsiagaan, dan partisipasi masyarakat. Ketika hal ini tidak dipenuhi, maka akan banyak risiko kerugian jiwa, harta benda dan lain sebagainya,” tegasnya.

Kalaksa BPBD Sumbar, Erman Rahman, tak menafikan jika Sumbar merupakan supermarket bencana. Mulai ancaman bencana dari laut dan darat.

Menurutnya, penanganan bencana harus melibatkan semua pihak sehingga penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan baik dan mampu mengurangi risiko bencana.

Bencana katanya sulit diprediksi. Perlu upaya peningkatan kesiapsiagaan seperti mitigasi dan pencegahan. Salah satunya ancaman gempa besar megatrush Mentawai. “Mitigasi sangat diperlukan dalam rangka pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Baca Juga:  Warga Kota Padang Diimbau Shalat Ied di Rumah, Objek Wisata Ditutup

Ia menyebut, gempa megatrush Mentawai harus diwaspadai karena dapat mengancam hampir 1 juta jiwa penduduk Sumbar yang tersebar di 7 kabupaten/kota di Sumbar. “Laporan BMKG, hampir 500 kali gempa kecil dan sedang terjadi di jalur megatrush. Kita sudah melakukan upaya pengurangan risiko bencana melalui pelatihan peningkatan kapasitas dan simulasi,” jelasnya.

Ketua JJSB Sumbar, John Nedy Kambang mengatakan, bicara perspektif jurnalis, jurnalis harus berada dekat di titik bencana ketika mengabarkan kejadian bencana. Ini dilakukan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat, sesuai dengan kondisi riil yang terjadi di lapangan.

John menyebut, informasi dari sisi kebencanaan selalu menarik untuk diberitakan, dibaca atau dilihat oleh setiap orang. Karena bencana menciptakan situasi yang tidak pasti yang membuat masyarakat ingin mengetahui secara pasti dari media, baik dari media mainstream maupun media sosial terkait kondisi riil bencana.

Bencana katanya, memiliki daya tarik yang luar biasa tanpa harus direkayasa. Karena itu berita bencana menjadi perhatian yang besar dari media.

Terkait liputan bencana, John menyebut ada tiga fase pemberitaan yang seharusnya dilakukan oleh jurnalis. Yakni fase saat prabencana, fase saat bencana dan fase pascabencana. Namun kata John, selama ini hampir banyak jurnalis terfokus hanya di fase saat bencana, dan lupa melakukan tugasnya di fase prabencana dan fase pascabencana.

“Jurnalis juga dapat melakukan secara konsisten menyadarkan masyarakat tentang upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Jurnalis katanya, memiliki peran yang besar dalam mendorong berbagai kebijakan di pemerintahan daerah dalam hal penanggulangan dan pengurangan risiko bencana. (bis)

Previous articleAndre Rosiade Dukung Pembangunan Rabani Sport Centre
Next articleBPR JKT-PRM, RoA 3,23 kali, Labanya Rp 1,18 Miliar