Penghasilan Angkot dan Ojol Turun 75 Persen

Sejumlah angkot sedang menunggu penumpang di bundaran Air Mancur Pasar Raya Padang, kemarin (3/4). Para sopir mengeluhkan sepinya penumpang sejak Covid-19 mewabah. (Indra - Padek)

Kebijakan pemindahan proses belajar mengajar siswa ke rumah, perkuliahan mahasiswa melalui daring (dalam jaringan) atau online, dan work from home bagi para pekerja, berimbas pada pendapatan para sopir angkot dan driver ojek online (ojol) di Kota Padang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Padang Ekspres, Jumat (3/4), rata-rata para sopir angkot dan driver ojol di Kota Padang mengaku mengalami penurunan pendapatan sekitar 75 persen semenjak Covid-19 mewabah.

Terlebih setelah adanya kebijakan pemindahan siswa di rumah, perkuliahan mahasiswa melalui daring atau online, dan work from home bagi para pekerja.

“Sangat terkena imbas. Untuk biaya minyak saja tidak cukup dari hasil sewa yang didapat. Kebanyakan tekor jadinya,” ungkap salah seorang sopir angkot, Alex, 43, kepada Padang Ekspres saat ditemui di Pasar Raya Kota Padang.

Dia mengatakan, hasil dari menambang di hari biasa, dia bisa memperoleh pendapatan Rp 100 ribu per hari. Namun kini, menurun hampir 70 hingga 75 persen menjadi antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 per hari.

“Mulai terasa sejak wabah korona, terlebih sejak sekolah diliburkan, mahasiswa kuliahnya via online, dan tenaga kerja baik swasta atau negeri diberlakukan kerja di rumah. Sejak itu sangat terasa sekali,” imbuhnya.

Alex menyampaikan, berdasarkan informasi yang dia terima, hampir separuh sopir angkot di Kota Padang mogok menambang akibat sepinya penumpang.

“Yang menambang ini tidak ada yang mau di makan di rumah lagi. Istilahnya berharap juga bisa dapat penghasilan seperti biasanya, tapi nyatanya tidak. Kadang-kadang tidak bisa setor, karena dapat sisa uang di luar beli minyak sekitar Rp 30 ribu, apa yang mau disetor ke induk semang,” tuturnya.

Dia menuturkan, tidak bisa mencari alternatif kerja yang lain lantaran menurutnya pekerjaan buruh yang lain juga terdampak akibat wabah Covid-19.

“Mau kerja yang lain ya sama juga, berjualan misalnya, pembeli sepi, makanya saya tetap menambang ini, karena kerjaan lain juga terdampak,” ucapnya.

Dengan kondisi demikian, Alex berharap ada bantuan dari pemerintah kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah, termasuk salah satunya para sopir angkot.

“Kalau pemerintah menyuruh di rumah, tentu harus ada bantuan. Setidaknya, bahan kebutuhan pendukung seperti beras, telur, minyak. Kalau tidak, kami yang pendapatannya yang harian seperti sopir angkot ini tentu akan sangat kesulitan. Kalau tidak menambang, apa yang mau dimakan,” tukasnya.

Hal senada juga diungkapkan sopir angkot lainnya, Beni, 32. “Wabah korona membunuh pendapatan kami. Tidak ada orang ke luar, orang banyak di rumah sekarang. Sementara kami para sopir angkot harus ada penghasilan dari menambang, buat makan dan biaya hidup lainnya,” katanya.

Dia menambahkan, terganggu pendapatan hasil menambang dirasakannya sejak wabah Covid-19.

“Hampir 75 persen penurunannya. Biasanya menambang bisa dapat gaji Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. Kini menambang sehari hanya dapat gaji Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Sementara anak saya dua, itu yang akan dihidupi. Makanya saya tetap manambang, karena kalau tidak manambang, tidak makan anak bini,” ungkapnya.

Dia berharap kondisi seperti ini bisa segera berlalu. Dan pemerintah dapat segera menyalurkan bantuan kepada warga yang ekonomi menengah ke bawah ini.

Kondisi serupa juga dialami driver ojol di Kota Padang. Salah satunya, Iswan, 55. “Penghasilan kami sangat terganggu. Hingga pukul 11.00 siang ini belum ada satu pun penumpang,” ujarnya.

Dia merupakan driver ojol sekaligus ojek pangkalan. Dia mengatakan, saat kondisi normal bisa mendapat penghasilan antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu sehari.

“Dengan adanya wabah korona ini, rata-rata sehari Rp 30 ribu dan paling banyak Rp 50 ribu. Itu belum termasuk minyak dan itu saya sudah narik dari pagi sampai Magrib,” katanya.

Dia mengakui, menurunnya penghasilan dirasakannya sejak adanya kebijakan pemindahan proses belajar mengajar siswa di rumah, perkuliahan mahasiswa melalui daring atau online, dan work from home bagi para pekerja.

“Itu sangat terasa sekali. Turunnya drastis, sampai lebih dari 70 persen. Ojek online dan ojek pangkalan ini kan bergantung kepada anak sekolah, mahasiswa, dan karyawan,” sebutnya.

Kalau mengurung di rumah, keluarga tidak bisa makan. Maka dirinya masih tetap bekerja untuk biaya hidup keluarga. “Anak saya bertiga, ada yang kuliah, SMA, dan ada yang SD. Tentu kami butuh biaya hidup seperti biaya makan, biaya pendidikan anak, kredit motor, kredit pinjaman,” tutur Iswan.

Iswan berharap, wabah Covid-19 bisa cepat hilang sehingga kondisi perekonomian masyarakat kelas menengah seperti ini bisa normal kembali.

“Selain itu, para ojol seperti kami ini juga berharap agar masuk ke dalam data penerima bantuan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah yang terdampak virus korona. Karena banyak para ojol seperti kami tidak terdata oleh pemerintah,” tukasnya. (*)