Viral Video Wako Dimaki Pedagang, Ini Tanggapan Pakar Otonomi Daerah

1612

Peristiwa viralnya video Wali kota Padang Mahyeldi Ansharullah di maki-maki pedagang tepat sehari jelang HUT ke-351 Kota Padang, Kamis (6/8/2020), seharusnya tak perlu terjadi jika tidak berjalan sendiri mengeksekusi pelanggar ketertiban umum.

Sebagaimana diketahui, dalam video yang tersebar di grup-grup WA dan media sosial itu, Wali Kota Padang Mahyeldi kena maki-maki dan percarut oleh seorang wanita pedagang yang tidak terima ditegur berjualan di trotoar jalan kawasan tepi laut.

Pakar otonomi daerah Djohermansyah Djohan mengatakan, pemimpin itu tempatnya hormat. Lewat hormat kita pada pemimpin akan tercipta kewibawaan pemerintahan dan ketaatan rakyat.

Untuk menjalankan tugasnya memimpin warga kota, berbagai fasilitas diberi mulai dari rumah jabatan nan indah hingga mobil mengkilat. Baju dinasnyapun sangat lengkap. Pangkat, lambang, bintang jasa, dan tanda jabatan tersemat lekat.

“Pemimpin sejatinya tidak “termakan” caci-maki, olok-olok, bully, apalagi carut. Baik dari anak buah maupun rakyat sendiri,” kata Djohermansyah, Jumat (7/8/2020).

Guru Besar IPDN itu menambahkan, pemimpin harus bekerja mengikuti sistem dan menggunakan protap atau pakem yang baku. Di Amerika misalnya, polisi tidak boleh mengejar penjahat seorang diri, tapi wajib dengan mitra serta dibantu tim pendukung pula.

Baca Juga:  Pemko Daftarkan Panitia Rakernas Apeksi Jadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan

“Ke depan, sebaiknya kepala daerah tidak seorang diri mengeksekusi pelanggar ketertiban umum, lebih-lebih di masa pandemi ekonomi masyarakat sulit sekali, tapi menggunakan perangkat daerah sesuai tupoksi. Bila ia melihat penyimpangan, cukup beri instruksi,” ingat Prof Djo yang pernah menjadi Penjabat Gubernur Riau ini.

Atas kasus yang sudah terjadi tersebut, mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri itu menyarankan sebaiknya ada mediasi antara wanita pedagang dengan wali kota. “Dirgahayu hari jadi Padang Kota Tercinta ke-351,” ucapnya.

Sementara itu, Wali Kota Padang Mahyeldi ketika diwawancara wartawan usai menghadiri rapat paripurna HUT ke-351 Kota Padang di DPRD, mengatakan bahwa perlakuan terhadap dirinya itu sebagai hal biasa dan dirinya tidak marah. Bahkan, memaafkan wanita pedagang itu. “Saya kira itu adalah hal biasa. Saya tidak marah,” ungkapnya.(esg)