Harga Emas makin Berkilau

Pamor harga emas di dalam negeri kian berkilau saat ketidakpastian ekonomi global akibat virus korona atau Covid-19. Kemarin, harga emas di Kota Padang merangkak naik signifikan hingga mencapai Rp 2.000.000 dibanding sebelumnya hanya Rp 1.750.000.

“Harga emas perhiasan ini terus merangkak naik. Sebelumnya, awal Maret harga emas berkisar Rp 1.750.000, naik menjadi Rp 1.800.000, dan 1.850.000, terus Rp 1.950.000. Sekarang awal April ini naik lagi menjadi Rp 2.000.000,” kata Pemilik Toko Mas Mutiara, M Yunis, 49 saat ditemui di tokonya di Jalan Raya Siteba No. 65 Pasar Nanggalo Padang.

Tidak hanya itu, ungkap M Yunis harga emas batangan pun juga naik Rp 2.125.000 per emas. Sedangkan sebelumnya hanya Rp 1.800.000. “Kenaikan harga emas sudah terjadi sejak awal bulan Maret saat maraknya berita tentang wabah virus korona. Bahkan hingga saat ini terus mengalami kenaikan. Namun kenaikan harga emas bertahap. Tidak langsung naik,” terangnya.

Menurutnya, isu wabah virus korona, salah satu penyebab kenaikan harga emas. Pasalnya, banyak investor yang beralih dari aset berisiko ke aset yang lebih aman yaitu emas. “Karena proyeksi ekonomi global yang akan melemah terdorong sentimen virus korona,” katanya.

Ia mengatakan kenaikan harga emas tersebut juga disebabkan karena perubahan nilai mata uang dolar AS dan naiknya harga emas dunia. Sedangkan nilai tukar rupiah melemah. “Semakin tinggi nilai mata uang dolar terhadap rupiah. Atau semakin lemahnya rupiah terhadap dolar, maka harga emas akan semakin menguat atau tinggi,” sebutnya.

Disisi lain, M Yunis mengatakan di Toko Mas Mutiara sudah sepekan terakhir ini banyak masyarakat yang memilih untuk menjual emas. Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari imbas dari virus korona. “Banyak masyarakat menjual emasnya untuk kebutuhan biaya hidup. Perbandingan 1 banding 10 dengan yang membeli. Sebab, roda perekonomian masyarakat mulai goyang. Dalam artian sudah susah untuk mencari rezeki karena ditakuti wabah virus korona,” sebutnya.

Sementara itu, salah seorang penjual emas di Pasar Nanggalo Padang, Wulandari, 31, mengaku menjual emas karena butuh uang untuk keperluan anaknya dan kebutuhan sehari-hari. “Karena butuh uang untuk keperluan sekolah anak,” terangnya.

Penjual emas lainnya, Armawati, 44, juga mengaku menjual emas miliknya karena terpaksa, mengingat harga bahan pokok yang kian hari semakin mengalami ketidakstabilan. “Kami sebagai ibu rumah tangga bisa pasrah, tak ada uang lagi buat keperluan sehari-hari. Terpaksa, sekarang ini hanya simpanan emas yang bisa dijual demi mencukupi kehidupan ditengah korona ini,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut pengamat ekonomi yang juga Direktur Eksekutif Ekonomic Action (ECONACT), Ronny P Sasmita mengatakan, harga emas memang dipengaruhi beberapa faktor. Seperti terjadi kepanikan. Kepanikan investor di hampir seluruh dunia untuk menyimpan asetnya di emas karena dianggap aman.

“Kalau terhadap masyarakat pengaruhnya terhadap harga emas kurang terlalu signifikan. Yang memindahkan aset ke emas rata-rata adalah lembaga perbankan dan lembaga pengelola aset dunia, karena terjadi pelemahan mata uang lokal,” kata Ronny P Sasmita.

Menurutnya, emas dianggap sebagai komoditas investasi yang aman di tengah kepanikan masyarakat terhadap virus korona. Kepanikan tersebut memicu naiknya harga emas. “Karena terjadi pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar. Sementara harga emas dunia dipatok berdasar dolar per troy once-nya,” ungkap Ronny P Sasmita.

Selain itu, katanya juga, terjadi peningkatan permintaan di level global terhadap aset safe haven. Seperti emas dan terjadi pelemahan mata uang nasional terhadap dolar. “Satuan Internasionalnya troy ounce. Para pelaku pasar dunia memindahkan asetnya ke emas dan dolar. Sehingga mata uang negara-negara non dolar tertekan sementara harga emas dan dolar menguat,” terangnya. (*)